PALEMBANG, fornews.co – Kinerja perbankan di wilayah Sumatra Bagian Selatan mencatatkan pertumbuhan positif di semester I 2018. Dari beberapa indikator kinerja bank, semuanya menunjukkan hasil yang memuaskan.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Regional 7 Sumatra Bagian Selatan, Panca Hadi Suryatno menerangkan, secara umum kinerja keuangan industri perbankan di Sumsel sampai dengan Juli 2018 dinilai baik. Panca pun menjelaskan bahwa kinerja perbankan khusus di Sumsel memberikan kontribusi positif baik bagi regional Sumbagsel maupun nasional.
Secara year on year (yoy), kata Panca, aset perbankan di Sumsel tumbuh 6,48% dari Juli 2017 sebesar Rp84,25 miliar menjadi Rp89,70 miliar di Juli 2018. Lalu DPK tumbuh 9,87% mencapai Rp77,14 miliar di Juli 2018. Untuk penyaluran kredit juga mengalami peningkatan 9,65% dari Rp72,60 miliar di Juli 2017 menjadi Rp79, 60 miliar.
“NPL di Sumsel di posisi Juli 2018 3,52% mengalami penurunan 0,16% dibanding Juli tahun lalu. Kemudian LDR juga turun 0,20% dimana Juli 2018 ini rasionya 103,19% dimana tahun lalu 103,40%. Artinya perbankan sudah mulai mampu mengelola DPK yang dihimpun dengan kredit yang mereka salurkan secara proporsional,” kata Panca saat pemaparan perkembangan industri jasa keuangan di Sumbagsel pada Pelatihan dan Media Gathering OJK KR 7 Sumbagsel di Aston Sentul Lake Resort & Conference Center, Jumat (28/09).
Selanjutnya Panca menjabarkan kinerja perbankan di wilayah kerja OJK KR 7 yaitu meliputi Sumatra Selatan, Jambi, Bengkulu, Lampung dan Bangka Belitung. Menurutnya, sejauh ini baik perbankan konvensional maupun syariah mencatatkan kinerja yang on the track. Hal itu bisa dilihat dari total aset yang tumbuh sebesar 6,02% (yoy) dengan market share 3,21%.
“Pada Juli 2017 aset perbankan di Sumbagsel mencapai Rp230,17 triliun. Sedangkan di Juli 2018 aset menyentuh angka Rp244,59 triliun dari capaian nasional Rp7.615,69 triliun,” ujar Panca.
Menurut Panca, indikasi lainnya adalah dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 8,78% (yoy). Hingga Juli 2018, DPK yang dihimpun mencapai Rp189,43 triliun. Jumlah ini melampaui raihan DPK di Juli 2017 yang meraup Rp174,14 triliun. Capaian DPK di semester I 2018 ini berkontribusi 3,47% terhadap DPK nasional sebesar Rp5.458,42 triliun.
“Komposisi DPK masih didominasi dana murah (giro dan tabungan) sebesar 65,51% dan sisanya yaitu 34,49% dari deposito,” terangnya.
Sementara dari kredit, kata Panca, mengalami pertumbuhan 8,52% (yoy). Pada Juli 2017, kredit perbankan di Sumbagsel menyentuh angka Rp192,03 triliun. Sedangkan di Juli 2018, kredit yang disalurkan Rp208,45% atau 4,12% dari penyaluran kredit nasional sebesar Rp5.057,24 triliun.
“Kredit yang diberikan masih fokus pada sektor produktif (modal kerja dan investasi) sebesar 58,34%, dan sektor konsumtif menyedot 41,66%,” tutur Panca.
Sementara untuk Non Performing Loan (NPL), lanjut Panca, masih dalam kondisi relatif aman. Pada Juli 2018 rasio NPL atau kredit macet sebesar 2,86%. Meski kondisi ini masih berada di atas rasio NPL nasional sebesar 2,81%, namun menurun dari Juli 2017 di titik 2,95%. (ije)

















