YOGYA , fornews.co – Sestradi sebuah ajaran yang ditanamkan oleh Paku Alam I agar memiliki karakter, sifat mulia, dan berguna bagi orang lain, meski ada dua puluh satu perbuatan yang tidak boleh dilakukan .
“Sestradi merupakan dua puluh satu tata nilai yang harus menjadi dasar utama seseorang dalam menjalani kehidupannya,” kata Profesor Dr Sutrisna Wibawa, dalam diskusi “Sangkan Paraning Dumadi” empat hari lalu, Jum’at malam, di Kagungan Ndalem Bangsal Kepatiahan Kadipaten Pakualaman.
Ajaran itu lebih ditanamkan kepada keluarga Kadipaten Pakualaman sebagai ajaran yang menjadi bagian dari tata nilai kehidupan.
Namun, sambung profesor, hal itu tidak mudah dilakukan oleh kebanyakan orang sebelum memegang kunci Engeta Angga Pribadi dan Guna Titi Purun yang menjadi prinsip dalam menjalani kehidupan.
Dalam filsafat Jawa, Sestradi, memiliki nilai-nilai dasar selain ngelmu kasampurnan dan ngelmu sangkan paraning dumadi.
Maka, jelas profesor, filsafat Jawa mengandung pengetahuan yang senantiasa merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan hidup.
“Berfilsafat dalam kebudayaan Jawa berarti ngudi kasampurnan yang menuntun manusia mencurahkan seluruh eksistensinya baik rohani maupun jasmani untuk mencapai tujuan hidup yakni kesempurnaan hidup,” katanya.
Dalam filosofi Jawa, Sangkan Paraning Dumadi merupakan kosmologi yang dimanifestasikan dalam tata ruang Karaton Yogyakarta yang menempatkan manusia menjadi aspek penting dalam cara hidup dan cara berfikir orang Jawa.
Konsep kosmologi tersebut oleh Raja Yogya, Sri Sultan Hamengku Buwono I, diwujudkan dalam berbagai bentuk warisan budaya arsitektur, tata ruang kota, gelar, dan lanskap Kota Yogyakarta.
Konsep kosmologi yang lebih dikenal dengan Sumbu Filosofi itu dilambangkan dalam Sangkaning Dumadi dan Paraning Dumadi yang berarti proses perjalanan atau pertumbuhan manusia
Sangkaning Dumadi secara simbolik digambarkan oleh keberadaan bangunan Panggung Krapyak, Alun-alun Kidul dan Karaton.
Panggung Krapyak merupakan titik awal sumbu filsosofis Sangkan Paraning Dumadi yang merupakan perwujudan awal dari proses kelahiran manusia.
Panggung Krapyak adalah lambang “Yoni” yang merepresentasikan gender perempuan. Perjalanan hidup manusia sejak lahir dari rahim ibunya.
Dari Panggung Krapyak hingga Plengkung Gading, di sepanjang kanan-kiri jalan ditanami dua jenis pohon: asam jawa dan tanjung.
Maka bayi yang lahir akan menyenangkan hati, dalam Bahasa Jawa nyengsemake, yang dilambangkan dengan pohon asam jawa dan penuh sanjungan yang dilambangkan dengan pohon tanjung.
Setelah remaja, akil baligh dan berani, si anak akan meraih masa depannya akan melesat bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya.
Maka pohon pakel menjadi lambang bahwa si anak sudah mencapai akil baligh. Sedangkan pohon kweni sebagai lambang munculnya keberanian pada si anak setelah menginjak remaja.
Lesatan anak panah yang lepas dari busurnya itu dilambangkan dengan dua pohon beringin yang berada di Alun-alun Kidul (Alkid) yang dikelilingi pagar berbentuk busur.
“Tugu sebagai “Lingga”, Panggung Krapyak sebagai “Yoni” dan Karaton sebagai jasmani yang berasal dari keduanya,” ujar profesor.
Kemudian Paraning Dumadi, yakni perjalanan hidup yang penuh godaan duniawi seperti pangkat, derajat, jabatan, harta dan wanita. Godaan tersebut dilambangkan dalam wujud bangunan Kepatihan dan Beringharjo.
Perjalanan ini dimulai dari Tugu sebagai simbol Lingga atau laki-laki secara filsosofis merupakan langkah awal menuju ke alam keabadian.
Secara simbolik Tugu memberikan kesadaran kepada manusia agar bersatu dalam kebersamaan menuju Sang Khaliq yang dalam Bahasa Jawa disebut Manunggaling Kawula Kalawan Gusti.
“Sangkan Paraning Dumadi merupakan inti dari filosofi Jawa,“ terang profesor.
Ajaran Sangkan Paraning Dumadi itu dapat dilihat dalam Serat Centhini ketika Syeich Amangraga memberikan nasihat tentang asal-usul manusia di dunia.
Maka dalam Sestradi, lanjut profesor, Paku Alam I lebih menekankan tentang wujud perilaku kehidupan yang baik atau kasempurnan, dan ini menjadi inti dalam filsafat Jawa.
“Kalau hidupnya sempurna, maka, “paran” ke mana akan menuju itu akan mengikuti karena di dalam kesempurnaan hidup itu diajarkan perilaku-perilaku yang baik dan mengindari perilaku yang tidak baik,” pungkasnya. (adam)
















