MUARADUA, fornews.co – Sugeng (50) salah seorang petani warga Desa Sabutan, Kecamatan Buay Rawan, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, mulai melirik untuk membudidayakan tanaman labu import jenis Butternut Squash (Labu Madu).
Ia berniat untuk mengembangkan budidaya tanaman yang masih terbilang asing di tanah air itu, karena bernilai ekonomi tinggi dibandingkan jenis tanaman lain yang tumbuh di sekitaran tempat tinggalnya.
“Itu kita sudah menanam sejak dua bulan lalu. Alhamdulillah tidak lama lagi kita akan penen perdana. Kita akan terus kembangkan, karen cukup potensi di daerah ini,” kata Sugeng saat dikunjungi di ladangnya di kawasan Sabutan, Sabtu (15/06).
Ia menceritakan, tertarik untuk membudidayakan tanaman yang berasal dari Australia, Eropa dan juga Afrika Selatan, itu karena masih terbilang langka dibudidayakan oleh petani di tanah air, serta memiliki harga yang tinggi dibanding labu lokal.
“Memang lebih tinggi harga labu import yang berkisaran di atas Rp25.000 perkilogram jika dibandingkan labu lokal yang dibawah Rp10.000. Lagipula labu butternut squash sangat langkah dijual dipasaran. Di Indonesia saja baru tanaman ini mas, yang dikembangkan pertama di IPB,” katanya.
Ditambahkan Sugeng, dalam pembudidayaan tanaman itu dirinya hanya belajar dari media sosial Youtube dan juga serarching di Google dari mulai tanam hingga perawatan.
“Saya mandiri mas. Belajar dari Internet itulah, kalau mau bimbingan dari dinas terkait. Entah kapan akan terrealisasi untuk membudidayakan tanaman ini,” katanya lagi.

Dalam waktu dekat, tanaman yang dibudiyakannya di lahan kurang dari 1/4 hektare akan segera memasuki masa panen. Untuk panen pertama ini, kata dia sudah mulai banyak dipesan, termasuk salah satu pusat perbelajaan atau supermarket.
” Panen mungkin sekitar awal bulan depan. Untuk panen pertama ini memang belum begitu banyak. Tetapi sudah ada banyak yang mau pesan. Mungkin karena langkah dan juga kaya akan manfaat bagi kesehatan. Sehingga banyak yang minat labu ini,” katanya.
Labu Butternut Squash dari segi bentuk dan ukuran memang terbilang unik dibandingkan dengan labu pada umumnya. Bentuknya menyerupai kacang tanah. Dan kalau sudah mateng, kata Sugeng akan berwarna kuning kecoklatan.
“Dari segi bentuk saja unik. Ukuranyapun kecil, dalam setiap buah labu ini antara 500 -hingga 1,3 kg beratnya. Sedangkan dari masa tanam hingga panen sekitar kurang lebih 90 hari. Sebenarnya tidak terlalu sulit membudidayakan ini, ” katanya.
Memang selama ini ia juga membudidayakan buah naga tidak jauh dari lahan yang ditanam Butternut Squash tersebut serta tanaman jenis palawija lainnya.
“Banyak jenis disini mas selain tanaman Butternut Squash ini. Ada juga buah naga dan tanaman lain. Selain untuk dijual, lahan ini alternatif warga untuk seputaran Muaradua ber Agro wisata buah untuk langsung memetik sendiri,” pungkasnya.(sub)

















