SEKAYU, fornews.co – Tinggal di pedalaman hutan, terisolir, dan dekat dengan alam, memang sudah menjadi identitas Suku Anak Dalam (SAD) yang dikenal masyarakat selama ini.
Kini, kehidupan SAD maupun warga dusun sekitar bisa saja terancam dari konflik dengan hewan liar, apabila alam sudah semakin berubah dan rusak. Seperti yang dialami kelompok SAD Sungai Pejudian di Kabupaten Muba, Sumsel.
Kelompok ini tinggal di daerah aliran Sungai Pejudian yang masuk wilayah adminstrasi Dusun V Desa Muara Medak, Kecamatan Bayung Lencir, Muba. Satu-satunya akses menuju ke tempat tinggal mereka dengan menembus hutan dan sungai.
Sedikitnya ada 16 Kepala Keluarga (KK) dalam kelompok tersebut yang belakangan diketahui sudah bertambah 3 KK baru. Kelompok ini sudah memiliki hunian layak dan sehat di atas sungai yang merupakan bantuan dari JOB Pertamina-Talisman Jambi Merang tahun 2018 lalu. “Ya, hanya mau tinggal di pinggir sungai,” ujar Pembina SAD Sungai Pejudian, Datuk Hamid.
Aktivitas sehari-hari mereka menangkap ikan dan berkebun karet. Sebelumnya pernah berkebun jagung sampai 4 hektar, tapi tidak berlanjut karena tidak ada penampung dan tidak tahu pengolahannya.
Hamid berkisah, dalam beraktivitas harian, kelompok SAD ini pernah menghadapi konflik dengan harimau. Peristiwa naas itu terjadi di sepanjang tahun 2014. Harimau mendatangi tempat tinggal warga dan menerkam yang terlelap. Datuk Hamid sendiri yang turun tangan mengevakuasi korban. “Sudah ada 14 orang yang diterkam harimau, rata-rata korban laki-laki,” kata dia.
Hamid memastikan, bahwa semestinya manusia itu hidup berdampingan dengan hewan hutan, termasuk seperti harimau.
“Pantangan kalau ada manusia yang mengusik tempat tinggalnya. Pastinya jangan rusak hutan,” imbuh Hamid.
Mamad (25), pemuda SAD Sungai Pejudian lainya menuturkan, keluarganya pernah merasakan konflik dengan buaya di Sungai Pejudian. Tepatnya dua tahun lalu bibi dan ibunya pergi berperahu untuk mencari ikan. Lokasi sungai yang jauh memakan waktu hampir 3 jam perjalanan.
“Saat itulah bibi diterkam buaya di bagian bahu kanan dan sempat dibawa jauh, semua jadi takut,” tuturnya.
Mamad meyakinkan, keluarga bisa terus berpindah kalau tidak ada penghidupan lagi di sana, meski sudah ada tempat tinggal layak.
Sementara, Wakil Bupati Muba, Beni Hernedi, yang melihat langsung kondisi SAD di kawasan tersebut menyatakan, hunian SAD di Sungai Pejudian memang pernah dibantu pihak Pertamina Merang.
Bahkan untuk di pemukiman mereka, sudah ada bangunan kayu untuk mushola. Tapi kondisinya sekarang sudah menurun, dibutuhkan tiga rumah baru untuk KK yang baru dan instalasi air minum di sana juga sudah rusak.
“Akan jadi perhatian kami, termasuk terjaganya alam di Muba agar tidak ada lagi konflik manusia dengan hewan liar,” tandas dia. (yas)
















