SEKAYU, fornews.co – Menolong korban bencana tidak semudah yang dibayangkan banyak orang. Jika salah dan keliru, justru menimbulkan bencana baru bagi korban maupun si penolong. Karena itu, rescuer wajib mengetahui teknik serta cara yang benar saat menjalani vertical rescue kebencanaan.
Hal itu disampaikan Instruktur Vertical Rescue LPTI Sumsel, Aprizal saat memberikan materi dan arahan kepada 15 peserta dari tim Rescue FPTI Sumsel saat melaksanakan Latihan Keahlian Vertical Rescue di hari keempat di Stable Berkuda Sekayu, Kamis (30/01).
“Misalkan saja teknik memindahkan (evakuasi) korban atau objek pada medan terjal (high angle/vertical) dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah, atau sebaliknya,” ujar Aprizal.
Menurut Aprizal, dalam sebuah operasi SAR, vertical rescue merupakan satuan dengan kemampuan khusus yang diterjunkan jika korban/objek berada pada medan curam atau bahkan vertical (hi-angle surface).
“Paling sedikit ada tiga alat utama dan spesifik dalam kegiatan vertical rescue. Pertama, tripod, yaitu tiang logam berkaki tiga, digunakan untuk menghindari gesekan tali. Tripod terutama sekali digunakan untuk proses evakuasi korban atau objek dari dalam lubang,” terangnya.
Selanjutnya, kata Rizal, alat yang dibutuhkan yaitu stretcher (basket rescue) atau tandu yang digunakan untuk melakukan evakuasi. Pada sisi luar tandu terdapat pelindung sehingga korban/objek yang berada di dalamnya terhindar dari benturan secara langsung.
“Ketiga, quick release, digunakan untuk memudahkan dalam proses melepaskan tandu atau beban dari lintasan dalam keadaan masih terbebani oleh korban atau objek,” bebernya.
Terpisah, Ketua Umum Pengprov FPTI Sumsel Beni Hernedi mengapresiasi semangat para peserta yang mengikuti Pelatihan Vertical Rescue FPTI Sumsel.
“Selamat berlatih bagi para peserta, sebagai atlet tak seterusnya hanya berfokus pada olahraga. Akan tetapi juga harus peduli dengan lingkungan kemasyarakatan. Mari semangat kerja bersama untuk kemanusiaan,” kata Beni. (ije)

















