JOGJA, fornews.co — Kunjungan Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor-Leste, Dominic Jermey, ke Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Selasa, 8 April 2026, membuka ruang refleksi terhadap krisis iklim yang kian nyata.
Rektor UAD, Prof. Dr. Muchlas, M.T., menegaskan bahwa kerja sama dengan berbagai universitas di Inggris telah berlangsung cukup lama dan mencakup spektrum luas.
“Kami telah menjalankan kolaborasi sejak 2017 hingga 2024, mulai dari pertukaran mahasiswa hingga penguatan kapasitas institusi pendidikan tinggi,” ujarnya.
Isu energi dan iklim bukan hanya topik diskusi, melainkan panggilan untuk merombak cara berpikir dari produksi pengetahuan menuju aksi yang berdampak.
UAD mencoba menempatkan diri dalam arus perubahan tersebut, sembari menguji konsistensi komitmen yang selama ini digaungkan.
Lebih dari itu, UAD mengisyaratkan untuk memperluas jejaring internasional dengan orientasi yang lebih relevan terhadap kebutuhan global.
“Kami ingin kolaborasi berikutnya tidak hanya memperkaya akademik, tetapi juga memberi kontribusi nyata terhadap persoalan energi dan lingkungan,” tambahnya.
Pernyataan tersebut menemukan pijakan dalam sejumlah langkah internal kampus. UAD mengklaim telah mengolah seluruh limbah organik menjadi kompos dan pakan ternak pada 2025, serta menekan konsumsi listrik hingga 11 persen.
Inisiatif energi surya pun mulai dikembangkan sebagai bagian dari upaya transisi energi. Lantas, apakah capaian tersebut cukup progresif untuk menjawab skala krisis yang terus membesar?
Pertemuan ini pada akhirnya memperlihatkan satu hal penting kolaborasi internasional di bidang pendidikan tidak lagi cukup jika hanya berhenti pada pertukaran pengetahuan.
Ada tuntutan untuk melahirkan inovasi yang berani, kebijakan kampus yang konsisten, dan keterlibatan mahasiswa sebagai agen perubahan.
Jika kerja sama ini ingin bermakna, maka ukuran keberhasilannya bukan lagi jumlah program atau nota kesepahaman, melainkan seberapa jauh mampu menggeser praktik dari ruang kelas ke aksi nyata yang menjawab krisis iklim dengan keberanian dan kejelasan arah.
Di sisi lain, Jermey membawa perspektif yang lebih luas bahwa krisis iklim tidak mengenal batas negara dan menuntut tanggung jawab lintas generasi.
“Perubahan iklim sudah langsung dirasakan, termasuk di Inggris. Kami menghadapi cuaca ekstrem, banjir, hingga kekeringan. Ini persoalan global yang tidak bisa diselesaikan oleh satu negara saja,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti langkah Inggris dalam mengurangi ketergantungan pada energi fosil, termasuk penutupan pembangkit listrik tenaga batu bara terakhirnya.
Menurutnya, langkah tersebut bukan hanya strategi masa depan, tetapi juga bentuk pengakuan atas jejak historis penggunaan energi yang berdampak besar pada bumi.
“Kami bergerak menuju energi terbarukan karena sadar bahwa perubahan ini adalah tanggung jawab, bukan pilihan,” tegas Jermey.

















