TOKYO, fornews.co—Lonjakan kasus Covid-19 di beberapa negara telah menggangu jaringan bisnis menyebabkan para produsen kelimpungan.
Dilansir Reuters, survei pada Selasa (1/6/2021) menunjukkan aktivitas pabrik di Asia masih terus berjalan merangkak hingga bulan Mei 2021.
Menurut para analis, aktivitas pabrik itu didukung oleh pemulihan berkelanjutan dalam permintaan global.
Meski begitu, kiriman dan kenaikan harga bahan baku masih menjadi kendala.
“Penyebaran varian baru telah berdampak negatif terhadap bahan baku. Jika situasi ini berlanjut, dikhawatirkan akan memukul produsen Asia yang telah berebut untuk mendiversifikasi pengiriman dari Cina,” kata Kepala Ekonom Dai-ichi Life, dari salah satu institusi penelitian, Toru Nishihama.
Kata Toru Nishihama, hanya pabrik-pabrik di Cina yang produksinya melaju cepat karena meningkatnya permintaan dari dalam dan luar negeri.
Namun, imbuh Toru Nishihama, kenaikan tajam itu mengalami kendala karena bahan baku di beberapa perusahaan terhambat.
Berdasarkan data indeks manajer pembelian, Jepang dan Korea Selatan akan kesulitan melakukan pemulihan.
“Pemulihan Asia lebih didorong oleh permintaan eksternal daripada domestik. Jika perusahaan mengalami kesulitan mengekspor barang, hal itu menjadi pertanda buruk bagi ekonomi di kawasan itu,” kata Toru Nishihama.
Dampak paling besar yang dialami manufaktur adalah India. Dalam sepuluh bulan terakhir mengalami kemerosotan ekonomi. Berdasarkan indeks manajer pembelian banyak pabrik yang tidak beroperasi.
Wabah virus corona di India telah menginfeksi 28 juta orang, menewaskan lebih dari 300.000 dan memaksa banyak negara bagian untuk memberlakukan pembatasan kegiatan ekonomi.
Pabrik-pabrik di Taiwan dan Vietnam sejauh ini bertahan meskipun infeksi meningkat.
Pada Mei 2021, indeks manajer pembelian Taiwan berdiri di angka 62,0 meski dinilai melambat dari April.
Sedangkan Vietnam bertahan di atas di kisaran angka 50—53,1, meskipun melambat dari 54,7 di bulan April.
Gangguan bahan baku juga berdampak terhadap produksi mobil. Hal itu menyebabkan Jepang meleset dari ekspektasi pada bulan April.
Kantor berita Kyodo melaporkan, perusahaan raksasa pabrik mobil Jepang Toyota Motor (7203.T) dan Honda Motor (7267.T) telah menghentikan produksinya di Malaysia karena lockdown.
Dikutip fornews.co dari reuters, data terpisah yang dirilis perusahaan Jepang pada hari Selasa menunjukkan adanya pemangkasan pengeluaran dan peralatan pabrik.
Pemangkasan itu untuk kuartal keempat berturut-turut pada Januari—Maret.
Korea Selatan bakal memotivasi pabrik-pabrik di Asia mengetahui negara ini tercatat paling tajam berekspansi selama 32 tahun.
Korea Selatan pemulihan ekonomi terbesar keempat di Asia yang masih dianggap kuat terus memenuhi permintaan konsumen yang belakangan ini banyak negara kembali dibuka. (adam)
















