
SRIWIJAYA merupakan kerajaan yang kuat di Pulau Sumatera, yang berdiri pada abad ke-7 (682 Masehi) dibuktikan dengan adanya temuan beberapa prasasti menggunakan penanggalan tahun Saka 604, di antaranya: Prasasti Kedukan Bukit, Prasasti Talang Tuo, Prasasti Talang Batu, Prasasti Boom Baru, yang ditemukan di wilayah Kota Palembang (Ibu Kota Provinsi Sumatera Selatan).
Dari peninggalan Kerajaan Sriwijaya tersebut, Prasasti Talang Batu (Prasasti Persumpahan) menarik perhatian, karena ternyata isi tulisan di dalam prasasti yang menggunakan aksara Pallawa dalam bahasa Melayu Kuno ini, era kepemimpinan Raja Balaputra Dewa, menentang yang namanya suap (imbalan) atau sekarang dikenal dengan Korupsi. Hal ini menjadikan Sriwijaya yang merupakan kerajaan maritim yang besar dan kuat dimana kekuasaan melingkupi Selat Malaka; Laut Cina Selatan; Laut Hindia; dan Madagaskar, Afrika selatan. Sriwijaya juga telah menguasai hampir seluruh kerajaan Asia Tenggara, di antaranya, Jawa, Sumatera, Semenanjung Malaya, Thailand, Kamboja, Vietnam, dan Filipina.
“Prasasti Talang Batu (Prasasti Persumpahan) ini, memuat antara lain untuk mengangkat Panglima, dan larangan memberikan imbalan dan lain-lain. Apabila melanggar atau melakukan kejahatan, maka konsekwensinya akan mati (zaman itu mistiknya sangat tinggi),” demikian terang Abisofyan gaide Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, kepada fornews.co belum lama ini.
Prasasti berbentuk pipih berdiameter 3 meter dengan dipayungi tujuh kepala ular cobra, serta di bagian bawah terdapat carat (pancuran air) menjadi keunikan tersendiri bagi prasasti peninggalan Sriwijaya itu dibandingkan prasasti lainnya. Kini ikut menjadi koleksi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, di bagian sudut kiri dari pintu masuk museum. Prasasti itu sendiri ditemukan pada zaman Kolonial Belanda, 1918 di anak aliran anak Sungai Musi, tepatnya di Sabokingking 3 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang.
Satu hal menurut Abisofyan, yang harus menjadi perhatian dan berpegang teguh, untuk tidak melakukan korupsi. Sebab, praktek korupsi hanya akan melemahkan suatu bangsa di negeri ini. Bagaimana Kerajaan Sriwijaya bisa menjadi besar dan kuat sejak abad 7-13 masehi, karena memang raja atau penguasa pada era itu, telah mewanti-wanti pejabatnya untuk tidak melakukan hal tersebut (suap).
“Kalau melihat sejarah Sriwijaya, justru lebih baik ya dari sekarang. Sekarang, korupsi terjadi di mana-mana,” sindir salah seorang pengunjung museum, yang juga mendengarkan penjelasan dari Abisofyan.

Palembang di Fase Sriwijaya
Berdasarkan prasasti dan bukti-bukti arkeologi yang diketemukan di Palembang, diperkirakan bahwa ibu kota Kerajaan Sriwijaya berpusat di Palembang (sekarang) pada abad ke-7, dengan raja yang bernama Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Pada masa ini, kerajaan mencapai wilayah Bangka, Lampung dan Jambi. Daerah-daerah tersebut diketahui kawasan perdagangan sumber-sumber hutan yang penting, termasuk tambang emas, timah dan besi.
Kala itu, Sriwijaya dikenal sebagai kerajaan maritim (maritime kingdom). Karenanya sekarang TNI Angkatan Laut (AL) mengambil semboyan “Jalesveva Jayamahe” atau diterjemahkan dengan kalimat “di Lautan Kita Jaya”. Kemudian pada abad ke-8 kekuasaan Sriwijaya, berekspansi hingga Semenanjung Melayu (Malayan Peninsula) dan Tanah Genting Kra-Thailand Selatan. Masa keemasan Sriwijaya saat dipimpin Balaputra Dewa.

Merunut dari temuan-temuan peninggalan Kerajaan Sriwijaya, kala itu Sriwijaya merupakan kerajaan Hindu dan Budha. Nama Sriwijaya berasal dari bahasa Sanskerta berupa “Sri” yang artinya bercahaya dan “Wijaya” berarti kemenangan sehingga dapat diartikan dengan kemenangan yang bercahaya atau gemilang. (ibr)
Berikut prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya, yang diketemukan di Palembang, di antaranya:
1. Prasasti Kedukan Bukit
Prasati ini ditemukan pada 29 Oktober 1920 di tepian Sungai Tatang (Kedukan Bukit di kaki Bukit Seguntang) salah satu kawasan di Kota Palembang (sekarang), dipahat pada sebuah batu kali berbentuk bulat dengan garis tengah 80 cm. Tulisannya menggunakan aksara Pallawa dalam bahasa Melayu Kuno. Teknik penulisan mendatar padaa ketiga sisi dan terdiri dari 10 baris. Masing-masing huruf berukuran kurang lebih 2 cm, dengan kondisi fisik aus. Dimensi prasasti ini memiliki panjang 42 cm dan lebir (tinggi) 32 cm. Prasasti Kedukan Bukit dinamai Prasasti Sriwijaya I. Prasasti yang berangka than 604 Saka atau 682 masehi.
2. Prasasti Boom Baru
Prasasti ini ditemukan Rizal warga Palembang, ketika sedang menggali pasir di halaman Pelabuhan Boom Baru (pelabuhan angkutan penumpang dan barang di Palembang). Secara fisik berbentuk bulat telur, dengan bagian atas yang patah sehingga menyebabkan beberapa garis kalimat dalam prasasti ini hilang. Bagian tengah permukaannya juga rusah terbelah. Saat ditemukan aksara dipahat pada batu alam agak kemerah-merahan dari jenis adesit, dengan teknis tulisan mendatar menggunakan aksara Pallawa dalam bahasa Melayu Kuno. Secara keseluruhan aksaranya masih jelas terbaca, kecuali pada bagian yang telah rusak.
3. Pasasti Talang Tuwo
Prasasti ini ditemukan oleh Residen Palembang keturunan Belanda, LC Westnek. Teks prasasti ini berjumlah 14 baris dan dipahat di atas batu pasir.
4. Prasasti Talang Batu
Prasasti ditemukan pada tahun 1918 di aliran anak Sungai Musi Sabokingking. Prasasti ini, merupakan prasasti persumpahan yang dikeluarkan oleh Kedatuan Sriwijaya, menggunakan aksara Pallawa dalam bahasa Melayu Kuno. Prasasi ini sendiri tidak terdapat angka tahun pembuatan.

















