SEKAYU, fornews.co – Masyarakat di Kecamatan Lalan mendapat pelatihan bagaimana mengelola buah mangrove dan sabut kelapa yang banyak tumbuh di wilayah mereka.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Muba, Richard Cahyadi AP Msi menerangkan, pelatihan ini merupakan satu langkah dalam pengelolaan Teknologi Tepat Guna (TTG) untuk pemanfaatan sumber daya alam (SDA) yang tumbuh di Lalan, sehingga menjadi hasil yang bernilai tinggi yang tentu dapat dikelola masyarakat Lalan untuk menambah penghasilan warga.
“Kita mulai memberikan pelatihan kepada warga Lalan sejak Senin (29/10) lalu, pada Desa Karang Mukti dan Purwa Agung. Bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), kita berharap pelatihan ini sendiri tentu untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan,” ungkapnya, Rabu (31/10).
Kabid Pendayagunaan SDA – Teknologi Tepat (TTG), Sahidi SPd Msi menjelaskan, bahwa secara teknis ada dua yang akan difokuskan pada pelatihan tersebut, yakni pengelolaan buah mangrove menjadi komoditi unggulan seperti menjadi sirup, selai, dodol, permen, tepung dan pangan khas mangrove. Kemudian, sabut buah kelapa yang bisa dibentuk menjadi tali galangan kapal.
Sahidi melanjutkan, pelatihan yang diberikan kepada warga tidak hanya dari DPMD saja, tapi dari pihak LIPI. Karena, nantinya Desa Karang Mukti dan Purwa Agung ini akan dijadikan rumah produksi. untuk pengelolaan buah mangrove serta pengelolaan sabut buah kelapa jadi tali galangan kapal.
“Kedepannya juga nanti, ada upaya pelestarian dan pembudidayaan tanaman mangrove serta tanaman buah kepala. Hal yang terpenting, upaya penyelamatan ekosistem biota perairan di Kecamatan Lalan,” jelasnya.
Untuk masalah pemasaran produk pengelolaan yang dihasilkan warga, terangnya, nanti pihak LIPI akan membantu, bilamana pengelolaan dua SDA yang dimiliki Lalan ini berhasil.
Sementara, narasumber dari LIPI, Nanang Surahman ST MT menuturkan, bahwa Indonesia merupakan satu negara yang mempunyai hutan mangrove terbesar di dunia. Meskipun saat ini sebagian besar jumlah hutan itu sudah mengalami kerusakan.
“Ekosistem mangrove memiliki manfaat ekonomis yaitu hasil kayu, budidaya air payau, pariwisata dan lainnya. Serta manfaat lain secara ekologis, yakni berupa perlindungan bagi ekosistem daratan dan lautan, yaitu sebagai penahan abrasi atau erosi gelombang dan angin kencang,” tuturnya.
Atas dasar itukah, tambahnya, warga Kecamatan Lalan yang mana selama ini tidak begitu paham akan pentingnya tanaman mangrove, kini akan melirik tanaman tersebut. Karena, buah mangrove sendiri bisa diolah menjadi komoditi pangan yang bernilai jual.
“Jika nanti program ini berjalan dengan baik, untuk hasilnya kita sebagai lembaga akan membantu pemasaranya. Selain itu, dengan pelatihan ini akan membuka wawasan masyarakat dan juga outputnya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat kedepannya,” tandasnya. (tul)
















