JAKARTA, fornews.co – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akhirnya mendeklarasikan keadaan darurat global terkait virus corona baru atau 2019-nCoV.
Bukan hanya karena otoritas Tiongkok melaporkan hampir 10.000 penderita terinfeksi dengan jumlah kematian meningkat jadi 213, namun karena potensi penyebaran virus ini ke negara lain yang begitu cepat. Sejauh ini virus corona telah menyebar ke lebih dari 15 negara dan tidak menutup kemungkinan akan terus bertambah.
“Kekhawatiran terbesar kami adalah potensi penyebaran virus ke negara-negara dengan sistem kesehatan yang lebih lemah,” ujar Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus dilansir AFP dari konferensi pers di Jenewa, Kamis (30/01) waktu setempat.
Menurut Tedros, WHO mendefinisikan Situasi Darurat Global sebagai peristiwa luar biasa yang berisiko mengancam kesehatan masyarakat negara lain melalui penularan penyakit lintas batas negara sehingga membutuhkan tanggapan internasional yang terkoordinasi.
“Kita semua harus bertindak bersama sekarang untuk membatasi penyebaran lebih lanjut. Kita hanya bisa menghentikannya bersama,” tuturnya.
Meski WHO mendeklarasikan Situasi Darurat Global virus corona, namun Tedros menyatakan status ini bukan untuk membatasi perjalanan dan perdagangan dengan Tiongkok. Meski demikian, semua negara harus menerapkan kebijakan kesehatan publik berbasis bukti, memerangi kesalahan informasi, berbagi data, dan bekerja sama untuk menghentikan penyebaran virus.
Pemerintah Tiongkok sendiri telah mengambil langkah ekstrem untuk menghentikan penyebaran virus, termasuk mengkarantina lebih dari 50 juta orang secara efektif di Wuhan dan sekitar Provinsi Hubei.
Pemerintah pada hari Kamis (30/01) melaporkan 38 kematian baru dalam 24 jam sebelumnya, menjadikan itu angka kematian tertinggi dalam satu hari sejak virus terdeteksi akhir tahun 2019.
Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok mengatakan ada 1.982 kasus baru yang dikonfirmasi, sehingga totalnya hampir menyentuh angka 10.000. Sementara itu, 102.000 orang lainnya berada di bawah pengamatan medis dengan kemungkinan gejala penyakit pernapasan.
Patogen itu diyakini telah muncul di pasar yang menjual kuliner ekstrem dan menyebar selama musim liburan Tahun Baru Imlek di mana ratusan juta warga Tiongkok bepergian di dalam maupun luar negeri.
Virus ini mirip dengan patogen SARS. Wabah itu juga berasal dan berawal di Tiongkok yang akhirnya membunuh hampir 800 orang di seluruh dunia pada kurun waktu 2002-2003. (ije)

















