JAKARTA, fornews.co — Pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) mulai bergeser ke cara tradisional fungsi keuangan di perusahaan.
Teknologi ini tidak lagi berhenti pada efisiensi administratif, tetapi masuk ke wilayah strategis guna mempercepat keputusan bisnis dan menekan biaya operasional hingga puluhan persen.
Dalam forum Deloitte Indonesia CFO Forum 2026 di Jakarta, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menegaskan bahwa fungsi keuangan kini berada dalam tekanan untuk beradaptasi lebih cepat dari sebelumnya.
“CFO hari ini tidak bisa lagi hanya berfokus pada pelaporan. AI mendorong mereka menjadi pengambil keputusan berbasis data secara real time,” ujarnya.
Data global memperkuat perubahan tersebut. Laporan Stanford AI Index 2025 menunjukkan 78 persen organisasi telah mengadopsi AI, naik tajam dari 55 persen.
Di tingkat operasional, dampaknya konkret, studi pada 500 perusahaan mencatat produktivitas meningkat hingga 82 persen, sementara efisiensi operasional bisa menyentuh 60 persen.
Meski demikian, percepatan ini belum sepenuhnya menghasilkan transformasi yang utuh. Banyak perusahaan masih terjebak pada proyek percontohan yang tidak berkembang menjadi implementasi luas.
Wamenkomdigi Nezar menilai persoalan utamanya bukan pada kecanggihan teknologi.
“Banyak inisiatif AI berhenti di tahap awal karena organisasi tidak siap berubah. Kepemimpinan dan budaya kerja menjadi faktor penentu apakah AI benar-benar memberi nilai,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa fondasi utama AI terletak pada kualitas data. Tanpa sistem data yang rapi, terintegrasi, dan aman, analisis yang dihasilkan berpotensi menyesatkan.
“AI hanya sebaik data yang digunakan. Jika datanya bermasalah, keputusan yang diambil juga akan bermasalah,” tegas Nezar.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya keterlibatan manusia dalam sistem berbasis AI. Pendekatan *human in the loop* dinilai krusial agar teknologi tidak menggantikan, melainkan memperkuat kapasitas pengambilan keputusan manusia.
“Produktivitas sejati muncul ketika manusia dan teknologi berkembang bersama. Jangan keluarkan manusia dari proses,” ujarnya.
Perubahan ini juga menuntut CFO untuk memperluas kompetensi, dari sekadar pengelolaan angka menjadi pengelola strategi berbasis data.
Dalam konteks ini, AI bukan lagi alat bantu, tetapi infrastruktur utama dalam pengambilan keputusan bisnis.
Sebagai respons, pemerintah tengah menyiapkan peta jalan nasional pengembangan AI yang akan menjadi acuan kebijakan.
Dokumen tersebut dirancang untuk memastikan pemanfaatan AI berjalan secara etis, aman, dan inklusif.
“Peta jalan ini akan segera difinalkan dan diharapkan bisa menjadi panduan bagi industri dalam memaksimalkan AI tanpa mengabaikan aspek tata kelola,” kata Wamenkomdigi.
Transformasi fungsi keuangan kini tidak bisa ditunda. Perusahaan yang mampu mengintegrasikan AI secara menyeluruh berpeluang memperoleh efisiensi signifikan dan keunggulan kompetitif, sementara yang tertinggal berisiko kehilangan relevansi di pasar yang bergerak cepat.

















