JOGJA, fornews.co — Pameran “PERTELON: Semua Jalan Berujung Padamu Sendiri” hadir dengan sikap yang cukup tegas–menolak kebisingan yang selama ini melekat pada praktik seni rupa.
Ketika banyak ruang pamer sibuk menguatkan posisi melalui wacana dan legitimasi, PERTELON justru bergerak ke arah sebaliknya mengendapkan, menyederhanakan, dan mengembalikan seni pada pengalaman personal.
Berlokasi di Indie Art House, pameran yang berlangsung pada 16–30 April 2026 ini tidak dibangun sebagai panggung kompetisi gagasan.
Pameran ini lebih menyerupai ruang kontemplasi, tempat seniman memeriksa ulang hubungan dengan proses kreatifnya sendiri: apakah masih jujur, atau sudah terlalu jauh dikendalikan oleh tuntutan luar.
Istilah pertelon yang berarti pertigaan, ditafsir sebagai ruang temu batin. Bukan soal memilih jalan mana yang paling benar, namun keberanian untuk menerima konsekuensi dari jalan yang telah diambil.
Dalam hal ini, karya tidak lagi berdiri sebagai objek yang harus menjelaskan diri kepada publik, tetapi sebagai catatan perjalanan yang bersifat intim.

Kurator pameran, Jajang R Kawentar, menyebut “pertelon” lahir dari kegelisahan terhadap kecenderungan seni yang terlalu bergantung pada pengakuan eksternal.
“Ada kecenderungan seniman merasa harus terus relevan di mata publik. Padahal, ketika terlalu sibuk memenuhi itu, relasi dengan diri sendiri bisa terabaikan. “PERTELON” mencoba mengembalikan titik pijak itu,” ujarnya.
Sejumlah seniman seperti Antonius Rulli, Deni Setiawan, Deden FG, D. Koestirta, Moko Jepe, N. Rinaldy, dan Riduan, tampil dengan pendekatan visual yang beragam.
Perbedaan tersebut tidak diarahkan untuk dibandingkan, melainkan dibaca sebagai ekspresi dari perjalanan masing-masing.
Di titik ini, ukuran keberhasilan tidak lagi ditentukan oleh dominasi visual atau kompleksitas konsep, tetapi oleh kedalaman sikap terhadap pilihan yang dijalani.
Pembukaan pameran pada 15 April 2026 turut menghadirkan seniman Indonesia, Nasirun, yang selama ini dikenal konsisten menempatkan pengalaman hidup sebagai fondasi praktik berkaryanya.
Kehadirannya memperkuat posisi pameran sebagai ruang yang menekankan integritas personal dalam seni.
Konsep luweh menjadi kunci pembacaan dalam PERTELON, tidak berhenti pada pengertian ikhlas, tetapi berkembang sebagai sikap sadar untuk melepaskan tekanan yang tidak perlu.
Dalam kondisi itu, seniman diberi kemungkinan untuk bekerja dengan lebih lentur, tanpa dorongan untuk menyesuaikan diri pada selera pasar atau kecenderungan dominan.
“Ketika beban itu dilepas, seniman punya ruang untuk lebih jujur. Karya tidak lagi dibuat untuk membuktikan sesuatu, tapi sebagai bagian dari proses memahami hidup itu sendiri,” kata Jajang.
Pendekatan ini secara tidak langsung juga mengkritik cara pandang yang menempatkan seni sebagai komoditas utama.
PERTELON menawarkan sudut pandang lain bahwa nilai sebuah karya justru terletak pada relasinya dengan pengalaman batin penciptanya. Dari sana, publik diajak melihat karya sebagai jejak.
Di sisi lain, pameran ini menunjukkan bahwa kematangan tidak selalu identik dengan kerumitan.
Ada fase ketika seorang seniman memilih bertahan pada jalur yang diyakini, bukan karena berhenti berkembang, tetapi karena telah menemukan dasar yang cukup kuat untuk melangkah tanpa perlu membandingkan diri dengan yang lain.
Pada akhirnya, PERTELON tidak menawarkan jawaban tunggal tentang bagaimana seni seharusnya dijalankan, tetapi lebih seperti ajakan untuk kembali bertanya: untuk siapa karya itu dibuat, dan dari mana berangkat.
Dari pertanyaan itu, satu kesadaran mengemuka bahwa setiap perjalanan dalam berkesenian akan selalu berujung pada satu titik yang sama: diri sendiri.
















