YOGYAKARTA, fornews.co--Musim layang-layang, atau “unsum layangan” belakangan malah sering memakan korban.
Kebanyakan korban adalah pengendara roda dua.
Korban biasanya terkena di bagian wajah, leher atau tangan.
Sejumlah korban mengeluh di fesbuk melalui Grup ICJ.
Korban-korban akibat layangan itu mengaku kesal karena tersayat benang gelasan.
Seorang netizen kesal karena benang layang-layang yang dibuang sembarangan nyangkut di roda kendaraan bagian belakang.
“Tolong kalau main layang-layang harap hati-hati, dalam sehari saya berurusan dua kali dengan senar layangan, tolong yang bermain layang-layang pikirkan keselamatan orang lain juga,” kata Vivi Andyka.

Status yang diunggah pada Jum’at (10/7/2020), di Grup ICJ direspon oleh ribuan netizen dan mendapat beragam ribuan komentar.
Salah satunya Joe Joe yang berkomentar mengusulkan bermain layang-layang via online agar tidak membahayakan orang lain.
“Usul gais, kalau main layang-layang via online agar bisa mabar. Jangan berpanas-panasan agar tidak hitam. Dan misal benangnya putus tidak membahayakan orang lain,” katanya dalam Bahasa Jawa, Sabtu (11/7/2020).

Seorang netizen lain, akun Reva, menulis status yang diunggah pada 27 Juni 2020, setelah adiknya tersayat benang layang-layang.
“Sebagai pengingat untuk pengendara motor roda dua untuk berhati-hati di jalan, khususnya yang membawa anak-anak. Kejadian tadi sore, adik saya berkendara melewati selatan rel kereta api Abu Bakar Ali, tersayat benang layang-layang. Atau mungkin bagi yang lihat ada benang melintang di jalan bisa bantu nyingkirin takutnya membahayakan orang lain/pengendara. Terima kasih,” katanya.

Sering jatuh korban akibat benang layang-layang, sebagian netizen meminta kepada pihak terkait untuk bersikap tegas.
Sementara sebagian netizen lain menganggap layang-layang sudah ada sejak jaman dulu, sebelum ada kendaraan. (adam)
















