Oleh: Bagus Mihargo
ANAK merupakan karunia Tuhan Sang Pencipta, yang didambakan bagi setiap pasangan hidup (suami istri). Bahkan, untuk mendapatkan keturunan, mereka yang sudah menjalani pernikahan hingga bertahun-tahun dan belum dikaruniahi anak, berbagai carapun akan ditempuh.
Dalam kesempatan ini, bentuk kerja keras untuk mendapatkan momongan tersebut diulas oleh Ryan Dinata, warga Baturaja, Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan (Sumsel), kepada fornews.co Kamis (21/12). Sebelumnya, pengalaman yang sangat membahagiakan dirinya bersama istri dituang dalam sebuah akun facebook (ryano koko) Sabtu (16/12) dengan judul ‘couple choice, awam boleh, bego jangan’. Hingga pukul 19.20 WIB, postingan tersebut mendapat 8.342 komentar, 28.032 kali dibagikan serta 25.979 tanggapan.
Ryan menceritakan, berbagai daya upaya ditempuhnya bersama istri (Shinta Yulita) dalam pencahariannya untuk mendapat momongan, yang pada akhirnya dikaruniahi seorang putra yang diberi nama Nafhan Zein Atiyan (Sabtu, 25 November 2017 sekitar pukul 13.15 WIB). Kehadiran sang anak bukan hanya menjawab perjuangannya selama ini, melainkan juga penyemangatnya (pasangan suami istri ini) dalam menjalani biduk rumah tangga sejak 6 Mei 2011.
“Segala upaya dengan berbagai cara telah kami tempuh. Ada yang bilang begini, kami lakukan. Ada yang beling begitu, juga kami laksanakan. Pergi ke sana, ke sini, siapa yang ditemui telah kami tempuh,” kenang Ryan.
Menurutnya, untuk konsultasi dengan dokter spesialis kandungan (SpOG) tidak cukup satu dua dokter yang ditemuinya dengan harapan dapat memecahkan keinginan untuk mendapatkan momongan. Namun, jawaban yang diterima, dari analisa medis sama. “Tidak apa-apa. Semuanya (Pasutri) sehat semua. Tunggu saja, banyak berdoa, Tuhan belum kasih aja dan berbagai analisis yang disampaikan,” ucap Ryan menirukan pesan dokter.
Dengan jawaban (dokter) tersebut, bukan membuat tenang Ryan berserta istrinya, yang ada batinnya bergejolak. Ia berkeyakinan, kalau dirinya serta istrinya sehat walafiat, artinya antara ia dan istrinya tidak ada masalah kesehatan. Kok ini malah dibilang sehat, tidak apa-apa dan penjelasannya lainnya yang sepertinya tidak menemui solusi dan tindakan nyata.
“Dalam hati kami membatin, Tuhan tidak pernah menyalahi takdir-Nya. Jika air diberi gula pasti manis. Itulah takdir Tuhan, tidak mungkin tidak ada apa-apa antara saya dan istri,” ucapnya.
Di tengah kegelisahannya, di penghujung 2016 yang lalu, Ryan dan istri, bertemu Silvia dan Alfi. Menurut Ryan, Silvia dan Alfi, dikarunia Tuhan retorika yang sangat arkulatif lantaran menjelaskan kepadanya tentang perjuangan-pejuang buah hati.
“Dari mereka berdua (Silvia dan Alfi), kami dijelaskan bagaimana kita memilih dokter spesialis yang tepat tentang keahlian dokter dalam bidang kebidanan dan kandungan. Seperti SpOG, SpOG K FER dan SpOG Fetomaternal,” tutur Ryan.
Diakuinya, sebagai masyarakat awam di dunia kedokteran, dirinya tidak terlalu serius memperhatikan sub spesialisasi SpOG. Yang ia ketahui secara umum, SpOG adalah gelar yang disandang para dokter kandungan dengan spesialisasi kesehatan sistem reproduksi wanita. Padahal bidang ini memiliki sub-spesialisasi.
“Sebagian dokter spesialis melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu sub spesialis atau lebih dikenal sebagai konsultan. SpOG (K) berarti konsultan/sub spesialis. SpOG KFER (Konsultan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi). Selanjutnya subspecialis fetomaternal,” urainya.

Dari informasi tersebut, tepatnya 25 Januari 2017 lalu, setelah hampir 6 tahun pernikahan, Ryan beserta istrinya direkomendasikan ke salah satu dokter SpOG KFER terbaik di Palembang yakni dr Aerul Cakra Alibasya SpOG KFER di Klinik Imaya Palembang.
“Persentase terjadinya kehamilan, 30% faktor sperma, 20% gangguan ovulasi, 20% faktor Tuba, 5% faktor Rahim, 25% unexplained atau tidak bisa dijelaskan,” imbuh Ryan.
Ia juga mengutip data WHO, jumlah sperma normal adalah 15.000.000 lebih. Jika angkanya di bawah itu, maka dikategorikan jumlah sperma yang diproduksi sedikit. Sementara suami 10.600.000, termasuk jumlah sperma yang di produksi sedikit.
Kemudian lanjut ke pemeriksaan istri. Pada konsultasi pertama dokter menemukan adanya perlengketan di jalan sperma berenang menggapai sel telur, lalu micropolyp (mematikan sperma) dan myoma uteri (mengganggu pembuahan, tumor jinak yang berasal dari otot rahim).
“Kami dapat simpulkan, sudah jumlah spermanya sedikit, mau masuk terhalang perlengketan, sampe pun harus berhadapan dengan micropolyp sekaligus ancaman myoma uteri. Jelas sudah, jika hanya menanti dalam pasrah, berapa tahun kemudian. Akhirnya kami sampaikan kepada dokter, dokter, bimbing kami untuk berusaha,” ungkap Ryan.
Hampir 6 tahun menanti dengan rasa bercampur aduk yang sulit dijelaskannya, terus berikhtiar dengan pemilihan dokter yang tepat sehingga Allah SWT mengarunihinya seorang cahaya mata bagi keduanya.
“25 November 2017, lahirlah buah cinta kami dengan proses persalinan normal, jenis kelamin laki-laki. Sangat melegakan dengan mencium wangi bayi yang sangat khas adalah aroma yang melegakan. Aroma yang melegakan dalam Bahasa Arab adalah Nafhan. Sehingga kami beri nama Nafhan Zein Atiyan,” tandas Ryan. (*)

















