KAYUAGUNG, fornews.co – Berbagai hal menarik ditampilkan oleh para peserta karnaval budaya dalam rangka peringatan HUT Kemerdekaan RI di Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Senin (19/08).
Kostum-kostum unik ini tak ayal menarik perhatian dari para pengunjung ataupun warga yang menyaksikan karnaval tahunan tersebut. Tak terkecuali kostum yang ditampilkan oleh M Athallah Rahagy (4), murid TK IT Al-Azhar OKI.
Pada karnaval kali ini, anak yang akrab disapa Athallah ini mengambil tema pemadam kebakaran. Namun yang menarik bukan hanya kostum yang dipakai, melainkan pesan (tulisan) yang ia bawa disepanjang rute karnaval.
Dengan baju berwarna merah mirip seragam petugas pemadam kebakaran lengkap dengan ornamen mobil pemadam yang dibuat dari kardus bekas beserta kacamata dan topi, bocah ini membawa pesan yang dituliskan di kertas agar jangan ada lagi siapapun yang membakar lahan.
“Sayangi Kami, stop membakar hutan, kebun dan lahan. Kami masih mimik susu, belum ngirup cuko apolagi nak ngisep asep,” demikian pesan yang tertulis tersebut.
Anak dari pasangan Adi Yanto dan Indah Jayanti diketahui memilih sendiri kostum yang ingin ia pakai saat karnaval. Selain itu, pesan yang ia bawa juga menunjukkan bahwa betapa bahayanya asap tersebut bagi mereka.
Sang Bunda, Indah Jayanti yang ikut mengiringi arak-arakan mengungkapkan, dirinya juga sempat heran kenapa anaknya memilih kostum tersebut meski para rekan-rekannya lebih memilih kostum-kostum profesi favorit seperti dokter, pegawai, tentara serta polisi dan beberapa kostum lainnya.
“Ditawari gurunya berbagai kostum profesi, justru menolak maunya jadi pemadam kebakaran. Katanya biar tidak ada asap,” ungkap Indah ditemui usai pawai di sekitar Gedung Kesenian Kayuagung.
Diceritakannya, memang dalam bergaul Athallah memiliki seorang teman yang bekerja di salah satu perusahaan perkebunan di Mesuji, OKI dan orangtua dari temannya tersebut jarang pulang karena harus siaga karena kebakaran.
“Dia sering bilang kasian dengan temannya yang papanya jarang pulang karena harus siaga di kebun,” tambahnya.
Sementara itu, sang ayah Adi Yanto menambahkan, putranya ini lahir tepat saat bencana asap pada tahun 2015 silam. Adi mengenang betapa khawatirnya dia dan istri terhadap kesehatan putranya yang kalanitu masih bayi karena takut terpapar asap.
“Banyak kerugian akibat bencana asap di 2015 lalu. Apalagi kesehatan warga banyak terganggu. Semoga tidak terjadi lagi,” ujar Adi berharap. (rif)

















