Penulis : Arafah Pramasto,S.Pd. (Pemerhati Kesejarahan asal Palembang dan Anggota Studie Club ‘Gerak Gerik Sejarah’)
Seorang Rusia bernama Nikolai Vladimirovich Khanikov, atau yang dikenal sebagai Nicholas Khanikoff, berprofesi sebagai diplomat, orientalis, ahli gerografi, dan etnografi berhasil menemukan sebuah prasasti yang menakjubkan di tanah Persia yang tengah ia kunjungi. Tepat di kota Nishapur pada tahun 1862, Khanikoff membaca bunyi prasasti :
Di sini, di taman ‘Adn bawah, Attar menebar wangi kepada jiwa-jiwa yang paling sederhana. Inilah makam orang yang mulia, makam Syaikh Attar yang terkenal…
Makam penebar wangi yang napasnya mengharumkan dunia. Bumi Nishapur akan
terkenal sampai hari kiama karena orang yang masyhur ini.[1]
Siapakah Syaikh Attar yang katanya akan mengharumkan kota tempat bersemayamnya pelukis Persia terkenal, Kamal-ol Molk, penyair Ummar Khayyam, hingga menjadi lokasi situs ziarah (Qadamgah) cetakan kaki Imam Ali Ridha itu ?
Attar yang bernama lengkap Fariduddin Muhammad bin Ibrahim lahir pada 1120 M di kota ini, Nishapur, tempat ia juga dimakamkan. Sekarang, Nishapur masuk ke dalam wilayah Provinsi Khorasan Rezawi. Versi lain kelahirannya ialah pada tahun 1136 M di kota yang sama, kurang dari satu abad sebelum penaklukan Asia dan sebagian Eropa oleh Genghis Khan (Jengiz Khan).[2] Kisah perjalanan Attar menjadi seorang Syaikh (Sufi), karya-karya, hingga kematiannya tetap menjadi Ibrah lintas ruang, waktu, dan perbedaan (identitas).
Ahli Kimia Kaya Menyaksikan Kematian Darwis Fariduddin masyhur dengan panggilan ‘Attar’ karena profesi keluarganya sebagai ahli obat tradisional (herbalis). Nama panggilan itu juga kadang disebut ‘Aththar’ – yang berarti – “Ahli Kimia” atau “Tukang Minyak Wangi” – mengacu pada kenyataan bahwa ia mengelola sebuah toko obat di kota kelahirannya. Sebagai seorang kaya, ia mampu mempekerjakan lebih dari tiga puluh orang di tokonya. Namun kelak, dunia lebih mengenalnya lewat bait- bait dan syair yang bercorak Sufistik. Ihwal kapan persisnya Attar menulis syair-syair Sufi tidaklah diketahui. Hanya saja para peneliti bersepakat pada suatu peristiwa yang menyebabkan Attar terjun dalam kehidupan pencarian dan pengajaran rohani. Ada banyak versi tentang kisah ini – sebuah percakapan antara Attar dengan seorang Darwis (penempuh jalan Sufi yang hidup miskin).[3]
Versi pertama menceritakan bagaimana Attar yang kaya raya dan (tentunya) terdidik itu menjadi “Si Pecinta Sejati”. Sebelum berkelana menempuh jalan Sufi, ia pernah mengalami titik balik dalam hidupnya. Kisah bermula ketika seorang Darwis mendatangi toko obat miliknya. Attar mengira bahwa sang Darwis hanya seorang pengemis biasa, lalu ia segera mengusirnya. Mendapat perlakuan tidak baik, sang Darwis angkat bicara, “Tidak sulit bagiku keluar dari toko ini, seperti halnya melepaskan dunia. Namun bagaimana engkau akan meninggalkan dunia ini ?.” Konon, saat itu juga sang Darwis menjemput kematiannya. Peristiwa tersebut membawa perubahan besar dalam hidup Attar.[4]
Versi kedua yang sebenarnya bukan sebagai pembeda namun menjadi pelengkap dari kisah pertama itu menceritakan bahwa di suatu hari seorang Darwis datang ke toko Attar untuk meminta obat. Dia sangat terkagum-kagum dengan kemewahan toko itu. Dengan mata terbuka lebar, ia meihat-lihat toko itu dan kemudian menyelidik serta mengamat-amati penampilan si pemilik toko. Attar bertanya kepada orang itu ihwal mengapa ia mendatangi dirinya.
“Aku heran bagaimana engkau akan mati jika engkau harus meninggalkan semua kekayaan ini ?.” Jawab sang Darwis.
Merasa dihina, Attar menukas dan marah, “Aku akan mati sama seperti caramu mati!.”
“Tapi aku tak punya sesuatu pun yang aku khawatirkan, yang aku miliki hanyalah jubah di badan dan ‘kasykul’ (mangkuk untuk mengemis) ini. Nah, apakah engkau masih juga menyatakan bahwa engkau akan mati sama seperti caraku mati ?.”
“Tentu saja.” Jawab Attar. Mendengar ini sang Darwis pun mengucapkan nama Allah
dan, dengan menggunakan kasykul-nya sebagai bantal, berbaring serta kemudian dia pun wafat.[5]
Attar memutuskan meninggalkan pekerjaan dan kehidupannya yang mapan. Agaknya, peristiwa ini sangat memengaruhi Attar sehingga ia menutup bisnis besarnya dan bergabung dengan paguyuban Sufi di bawah bimbingan Ruknuddin, seorang Syaikh dari Tarekat (Ordo / Aliran Kelompok) Kubrawiyah. Ia lalu berkelana ke berbagai negara, seperti Mesir, Suriah, Arab (Saudi), India, dan Asia tengah untuk mencari guru-guru Sufi. Selama 39 tahun ia belajar hakikat hidup.[6] Sayangnya secara terperinci tak banyak diketahui tentang pendidikan Attar selama kurun waktu ini. Yang diketahui bahwa, sesudah beberapa tahun, ia mengadakan perjalanan menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Bisa diperkirakan, sebelum perjalanan ini, ia telah merampungkan tahap-tahap perkembangan spiritual. Sebab, sesudah perjalanan ini, ia mulai menulis.[7]
Dari Hatim Si Tuli, Para Burung, dan Hanya Allah Dunia mengenal Attar lewat bait-bait syair yang bercorak Sufistik. Setelah menimba ilmu dari berbagai Sufi, ia kembali ke kampung halaman. Ia menjadi seorang Sufi yang menelurkan banyak karya-karya besar. Secara umum, hubungan filsafat dan Tasawuf (Sufisme) berbeda dari apa yang diamati dalam Tasawuf yang didominasi cinta, seperti pada pemikiran Attar.[8] Sebagian karya-karya Attar telah hilang selama berabad-abad. Dewasa ini, yang masih ada hanya tiga puluh karya saja, salah satunya seperti Tadzkirah Al-Awliya’ (Kenangan Para Wali) atau diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi Warisan Awliya’.
Buku ini adalah sumber biografi penting yang mengandung informasi tentang para penulis dan penyair yang menulis mengenai para Wali Muslim. Karya ini dimulai dengan kisah Ja’far Ash-Shadiq, keturunan Rasulullah yang dianggap sebagai Imam Keenam Syiah (ia juga seorang Sufi abad ke-2 H setelah Nabi Muhammad Saw), serta diakhiri dengan biografi Al- Hallaj.[9]
Salah satu kisah penuh hikmah yang dituliskan Attar ialah tentang tokoh Sufi asal Balkh bernama Hatim. Bernama lengkap Abu Abdur Rahman Hatim bin Unwan Al-Ashamm – hingga ia mendapat julukan “Si Tuli.” Julukan itu diperoleh berdasarkan suatu kisah saat Hatim kedatangan tamu perempuan tua yang tidak sengaja buang angin (kentut) waktu mengajukan pertanyaan. Karena Hatim telah ternbiasa melakukan olah rasa, tentu ia bersikap bijaksana agar tamunya tidak malu. Hatim berpura-pura tuli dan seolah-olah tidak mengetahui kalau barus saja ada suara kentut. Dengan bersikap biasa-biasa saja Hatim berkata pada si perempuan, “Berbicaralah dengan lebih keras. Pendengaranku kurang tajam.” Betapa Hatim memiliki kelapangan hati yang amat besar. Ia tidak mau mempermalukan orang lain sama sekali, bahkan harus bersabar berpura-pura tuli selama 15 tahun lamanya !.[10] Attar berperan besar mengabadikan kisah sosok Syaikh Hatim ini.
Karya besar / magnum opus Attar yang kesohor tentunya adalah Mantiq At-Tayar, yang dalam versi Indonesia dikenal dengan Musyawarah para Burung. Alkisah, berkumpullah segala burung di dunia untuk bermusyawarah. Tujuan mereka adalah mencari raja burung bernama Simurgh di puncak Gunung Kaf. Simurgh sendiri dalam bahasa Persia artinya ada “Tiga Puluh Burung”. Perjalanan itu harus melewati beberapa lembah sebagaimana Hud-Hud menjelaskan. Lembah pertama adalah Pencarian yang perlu dilewati dengan pengabdian. Lembah kedua adalah Cinta, di sini sangat berbahaya karena tingginan hasrat melihat Simurgh, gejolak cinta akan memaksa para burung keluar. Lembah ketiga adalah Makrifat, tempat di mana memperoleh sinar kebenaran. Sesudah itu ia akan memasuki lembah berikutnya yakni Keterpisahan, tempat di mana ia kehilangan hasrat atas kepemilikian duniawi. Lembah kelima adalah Kesatuan, para burung menyadari bahwa segenap ide, pengalaman, dan makhluk hidup sesungguhnya berasal dari satu sumber.
Lembah keenam adalah Ketakjuban, tempat di mana mereka “lupa eksistensi dirinya dan orang lain”, penglihatan pun bukan dengan mata (fisik) melainkan dengan ‘mata hati’. Lembah terakhir adalah “Gurun Kefanaan dan Kematian”, tempat di mana mereka mengerti “setetes air berbaur dengan samudera.” Akhir kisah hanya tiga puluh burung yang tiba di Gunung Kaf. Alih-alih melihat Simurgh, “tiga puluh burung”, yang mereka lihat adalah diri mereka sendiri. Akhirnya mereka menyadari bahwa dengan memperhatikan diri mereka sendiri, mereka “telah menemukan sang Raja (Simurgh).”[11]
Karya Attar lainnya seperti Ilhiname (Buku Ilahi), adalah paparan tentang enam “fakultas” yang ada dalam diri manusia : ego, imajinasi, intelek, kehausan akan pengetahuan, kehausan akan perpisahan, dan kehausan akan kesatuan. Attar berkata
tentang keenamnya dalam sebuah syair; Jika yang enam ini dijinakkan dan mematuhi
perintah raja, mereka akan sampai pada ‘Kehadiran Abadi Tuhan.’ Buah pikiran Attar
lainnya yang tak pernah sepi dari hikmah ketuhanan juga tergambar dalam Mushibatnama (Buku Musibah) yang didasarkan pada kisah seorang musafir yang mencari-cari Tuhan. Ia mencoba mencari berbagai jalan dari makhluk tak sempurna yang tersesat sendiri dan memerlukan bimbingan. Dalam buku ini, pesan Attar adalah bahwa dunia tanpa Tuhan adalah dunia yang sepi, sarat dan penuh dengan penderitaan, dan bahwa jalan menuju Tuhan ada di dalamnya.[12]
Tema tentang ketuhanan sebagai “cinta sejati” ikut dituliskan Attar dalam sebuah puisi :
Cinta-Nya memberiku iman dan keraguan
Cinta-Nya adalah nyala api di hatiku
Kalau tak seorang bersamaku dalam duka
Cukuplah bagiku mengadu kepada cinta [13]
Asrarnameh : Rumi Kecil Hingga Perpisahan
Baha’uddin Walad adalah seorang khatib, fakih (ahli fiqh), dan Sufi terkenal yang menikahi anggota bangsawan Kerajaan Khawarizm. Meski demikian, Baha’uddin kerap menentang kebijakan Kharazmshah, penguasa kerajaan itu. Sebagai seorang Sufi, Baha'uddin pergi menempuh jalan kesufian bersama keluarganya. Mereka menyempatkan diri singgah ke Kota Nishapur/Naisabur. Mereka tinggal di Zawiyah (pondok) tokoh Sufi besar bernama Fariduddin Attar. Ia sempat menyatakan firasatnya kepada Baha’uddin bahwa putra kecilnya itu akan menjadi seorang tokoh Sufi yang agung dan masyhur. Beberapa jam sebelum rombongan tamu itu akan pergi, saat Jalal kecil putra Baha'uddin sedang berjalan di belakang ayahnya, Attar berkata kepada seorang muridnya, “Lautan mengalir (Baha’uddin) diikuti oleh samudera (Jalal).” Seraya menyerahkan kitab Ilahinameh karangannya, Attar mengingatkan Baha’uddin, “Putramu (Jalal) akan mengobarkan api dalam dunia para kekasih Allah.” [14]
Jalal yang dimaksud ialah Maulana Jalaluddin Rumi, Sufi besar penulis Al-Matsnawi. Selain dari versi di atas terdapat versi lainnya mengenai perjumpaan Attar dengan Rumi kecil, namun yang berbeda hanya kitab yang diserahkan oleh Attar. Diceritakan Attar menyerahkan kitab Asrarinameh (Buku Segenap Rahasia) kepada Rumi. Buku ini sebenarnya hanyalah sekumpulan kisah-kisah ringkas yang disuguhkan untuk meningkatkan keadaan spiritual atau moral sang pembaca. Rumi menggunakan pendekatan serupa dalam Al- Matsnawi. Namun, perbedaan dalam kedua karya ini adalah bahwa sementara Rumi menuturkan kisah untuk menjelaskan dan mengungkapkan pandangannya sendiri secara khusus, Attar hanya menyuguhkan kisah tanpa megemukakan pandangannya sendiri dan dengan demikian, membiarkan kisah itu berbicara sendiri.[15]
Pemberian buku oleh Attar itu tak ubahnya seperti penyerahan estafet amanat kepada Sufi besar berikutnya. Mungkin juga peristiwa itu seperti menyiratkan ucapan selamat tinggal dari mistikus Nishapur kepada dunia fana. Sesudah fase hidupnya tersebut, kota yang telah diharumkan namanya oleh sang mantan Ahli Kimia, mesti menghadapi nasib paling naas : Nishapur diserbu bangsa Mongol yang sedang melakukan ekspansi wilayah. Di kota ini juga Attar menjalani perpisahan dengan dunia fana karena kekejaman tentara Mongol. Namun selama ratusan tahun, tempat ini menjadi saksi berseminya cinta yang pernah ia semai semasa hidupnya.[16]
Penutup : Serat Kaca Wirangi dan Rubaiyat Rumi Fariduddin Attar tak hanya mempunyai kisah hidup yang bermakna meski berakhir dengan tragis, namun pemikiran Sufistiknya turut memberi pengaruh yang luas bagi karya-karya Sufi lainnya. Serat Kaca Wirangi yang ditulis secara anonim dan diterbitkan oleh Toko Buku Tan Khoen Swie pada tahun 1922, nampaknya mendapatkan pengaruh dari pemikiran Attar, utamanya melalui perumpamaan “burung” sebagai penyampai pesan spiritual.
Dikisahkan ada burung Perkutut dan Derkuku yang bersahabat dan sama-sama mencari kawruh (pengetahuan) kasampurnan (kesempurnaan). Burung Perkutut kemudian mengisahkan tentang beberapa kupu-kupu yang saling mengunggulkan warnanya masing-masing. Perkutut kemudian memberikan kesimpulan pada Derkuku, “Sebenarnya yang jelek dan yang baik itu hanya bergantung pada anggapan hatinya sendiri. Apa yang baik menurut si hati, itulah yang terlihat baik, sehingga kejelekannya tak terlihat. Sebaliknya, jika si hati melihat tentang kejelekannya, maka kebaikannya akan tertutup. Begitulah orang yang berwatak KORUP (mengambil secara curang) apa yang ia senangi, maka dianggapnya itulah yang terbaik.”[17]
Attar akan selalu menjadi lembah subur bagi “burung” yang ingin mencari “Simurgh” atau “Kawruh Kasampurnan.” Ia memberi banyak hikmah bagi manusia yang hidup di era modern tentang kebahagiaan yang sejati, seperti :
a)Meski kita tak mampu menjadi seorang Darwis, jangan sampai kita selalu menjadi korban yang digelayuti (tidak dapat lepas dari) “kebendaan”/“keduniawian”
b)Walau kita bukan Syaikh Hatim, kisahnya mengajarkan agar manusia memiliki sifat “tepa selira”, mengerti akan rasa sakit ataupun rasa malu orang lain ; suatu kebalikan dari ‘trend’ kehidupan politik bangsa ini yang para oknumnya senang mempermalukan pihak lawan.
c)Karya-karya Attar menempatkan kembali “Tuhan” yang mungkin kerap “diklaim” secara egoistis oleh segolongan orang, kembali pada hakikat-Nya yang transenden dan universal.
Sebagai penutup kita dapat meresapi syair Maulana Jalaluddin Rumi, sang Sufi besar yang juga berbicara mengenai “burung” seperti Attar : [18]
Serakah sumber segala masalah
Jika kamu kemaruk perempuan dan makanan
Kau tak akan lepas dari masalah
Seperti burung yang jatuh karena umpan
Dan terjerat dalam jebakan
Dan hidup di sangkar kecil digantungkan pada langit-langit
Sumber :
- Ahmad, Afifah, The Road to Persia, Yogyakarta : Bunyan, 2013. Hlm. 105.
- Bayat, Mojdeh, Muhammad Ali Jamnia, Layla dan Majnun : Kisah-Kisah Menakjubkan dari Negeri Sufi, Jakarta : Penerbit Lentera, 2007. Hlm. 94.
- Ibid
- Ahmad, Afifah, The Road to Persia, Yogyakarta : Bunyan, 2013. Hlm.101.
- Op. Cit. Hlm. 94-95.
- Op. Cit. Hlm. 102.
- OP. Cit.
- Ni’am, Syamsun, Tasawuf Studies : Pengantar Belajar Tasawuf, Yogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2014. Hlm. 95.
- Cit. Hlm. 97.
- Susetya, Wawan, Renungan Sufistik Islam-Jawa, Yogyakarta : Narasi, 2007. Hlm. 40-41.
- Op. Cit. Hlm. 107.
- Ibid. Hlm. 97-98.
- Ahmad, Afifah, The Road to Persia, Yogyakarta : Bunyan, 2013. Hlm.100.
- Pramasto, Arafah, dkk., Makna Sejarah Bumi Emas : Kumpulan Artikel Sumatera Selatan dan Tema-tema Lainnya, Bandung : Ellunar Publisher, 2018. Hlm. 194.
- Bayat, Mojdeh, Muhammad Ali Jamnia, Layla dan Majnun : Kisah-Kisah Menakjubkan dari Negeri Sufi, Jakarta : Penerbit Lentera, 2007. Hlm. 98.
- Ahmad, Afifah, The Road to Persia, Yogyakarta : Bunyan, 2013. Hlm.105.
- Susetya, Wawan, Renungan Sufistik Islam-Jawa, Yogyakarta : Narasi, 2007. Hlm. 229-230.
- Ergin, Nevit O., Will Johnson, Rubaiyat Rumi : Insane With Love, Jakarta : Elex Media Computindo, 2007. Hlm. 109.

















