“Awang 3445 Celcius” Kisah Bentang Alam Rawang dalam Perspektif Nilai-nilai Seni Silat

Ilustrasi

Air adalah jiwa, jiwa berpikir bersama. Hutan adalah raga, raga menjaga bersama. Langit adalah sejarah. Kita hidup menari dan bernyanyi sebagai kebahagiaan. Mendayung ketenangan, berbagi harapan bersama sungai dan matahari. Hadirlah musim yang beku melahirkan api di rumah kami. Lalu sungai menenggelamkan dan mengeringkan kedamaian dan harapan. Kami pun tikar purun di langit. Memberi hujan batu api. (Sekilas narasi Awang 3445 Celcius)

Teater Potlot akan menampilkan karya terbarunya dalam dua tahun terakhir, setelah “Majhi” (Conie Sema), “Rawa Gambut” (Conie Sema) dan “Puyang” (T Wijaya). Pementasan terbaru ini berjudul “Awang 3445 Celcius” yang akan ditampilkan dalam Silek Arts Festival (SAF) di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam ISI Padang Panjang, Sumatera Barat, Selasa (20/11) malam.

Teater Potlot terlibat dalam rangkaian festival teater SAF yang berlangsung dari 19-22 November 2018, bersama Teater Salembayung (Pekanbaru), Payung Hitam (Bangdung), Teater Satu (Lampung), Studio Taksu (Surakarta), Indonesia Performance Sindydicate (Padang Panjang), dan Teater Nan Tumpah (Padang).

“Awang 3445 Celcius” ditulis T. Wijaya dan disutradarai Conie Sema akan bicara tentang perubahan bentang alam rawang atau rawa gambut di Indonesia dalam perspektif nilai-nilai seni silat atau silek (bahasa Minang).

“Silat atau silek merupakan seni bela diri bangsa ini. Seni ini belajar dari alam Indonesia yang kaya dengan flora dan fauna. Lalu, apa yang terjadi jika bentang alam di Indonesia rusak atau hilang, apakah silat masih bertahan dan berkembang. Silat apa yang muncul dari bentang alam yang sudah rusak itu?” kata T Wijaya, penulis narasi, dalam siaran persnya, Jumat (16/11).

Sementara, Conie Sema Sutradara “Awang 3445 Celcius” berharap, melalui karya seni tersebut mampu membuka ruang diskusi mengenai identitas bangsa ini, yang dibaca melalui seni silat. Membicarakan jurus-jurus terbaru menghadapi musuh yang begitu rakus dan tamak akan sumber daya alam

“Kita pun berharap SAF ini mendorong teater untuk menjadi fasilitator pencarian narasi menghadapi berbagai persoalan bangsa ini. Teater tidak hanya sibuk dengan persoalan dirinya,” kata Conie.

Yusril Katil, Direktur Festival Teater SAF 2018, seperti dikutip sumbarsatu.com (http://www.sumbarsatu.com/berita/19746-7-kelompok-teater-di-indonesia-warnai-panggung-saf), tujuh kelompok teater di Indonesia yang akan tampil di iven pertunjukan teater ini merupakan representasi dari perkembangan kekinian visi teater modern Indonesia.

“Kendati tujuh kelompok teater ini belum bisa disebut mewakili untuk peta jalan teater Indonesia secara keseluruhan tapi paling tidak kelompok-kelompok teater yang tampil bisa disebut sebagai gambaran masih eksisnya teater Indonesia, terlepas dari soal artistik dan estetika, serta ideologi yang diembannya,” kata Yusril Katil, yang juga sekaligus salah seorang kurator SAF 2018, Selasa (13/11).

Dijelaskan Yusril Katil lebih jauh, seni pertunjukan teater pada SAF 2018, tetap konsisten memilih silek atau seni tradisi sejenis ini, sebagai basis dan inspirasi proses kreatif para kreator (sutradara) teater.

“Makanya, kita memilih temanya (Respons Teatrikal Terhadap Silek). Pengertian silek kami perluas sesuai dengan pemaknaan dan tafsir pada masing-masing sutradara. Kami meyakini, kita memiliki kekayaan seni tradisi yang kini masih bertahan dengan basis silek itu. Kekayaan itulah yang akan direinterprestasi secara bebas di atas panggung teater,” jelas Yusril Katil.

Tentang Teater Potlot

Teater Potlot didirikan di kampung kota, kawasan Trikora, Lorok Pakjo Palembang, Sumatera Selatan pada 15 Juli 1985. Diprakarsai anak muda yang awalnya berkumpul dalam wadah karang taruna. Kegiatan dimulai dengan studi naskah drama klasik antara lain, “Oedipus di Kolonus” dan “Antigon”, karya Sophokles. Kemudian bersama TVRI Palembang, memproduksi beberapa drama dan musik.

Produksi awal Teater Potlot, mengangkat naskah “Wong-Wong” karya Anwar Putra Bayu, dilanjutkan dengan “Kursi”, juga karya Anwar Putra Bayu. Tahun 1992-1994 mementaskan beberapa naskah antara lain, “Lysistrata” karya Aristophanes (Palembang-Jambi), “Jakatarub” karya Akhdiat, “Bonseras (Boneka Setengah Waras)” di Jambore Teater, Cibubur Jakarta 1994 karya Conie Sema.

Tahun 1994 hingga tahun 2000, Teater Potlot mulai mengubah bentuk dan orientasi teaternya dengan mementaskan karya-karya sendiri, antara lain “Sebungkus Deterjen Hari Ini” karya Conie Sema,”Aku Namakan Lysistrata” karya T. Wijaya, “Lydia dan Godot Belanja Gula-Gula” karya T. Wijaya, “50 Tahun Ikan Asin” dalam “Kaos Kaki” karya T. Wijaya, “Sandal Teklek di Muria” karya T. Wijaya, “Orang-Orang Barunta” karya Conie Sema, pentas keliling tujuh kabupaten di Lampung (kolaborasi dengan Teater Satu Lampung), dan “Hutan Geribik” karya Conie Sema, pentas keliling 50 desa konflik di Lampung.

Setelah lama vakum, tahun 2016 kembali berproduksi dengan pertunjukan monolog “Majhi” karya Conie Sema. Tahun 2017-2018 memproduksi pentas keliling, roadshow Sumatera, di kota Palembang, Bandar Lampung, Jambi dan Pekanbaru, dengan mengangkat “Rawa Gambut” karya Conie Sema. Naskah “Rawa Gambut” yang mengusung tema kerusakan lingkungan itu, mendapat anugerah Rawayan Award dari Dewan Kesenian Jakarta (2017).

Kemudian 15 Februari 2018 di Palembang, Teater Potlot bekerjasama dengan The Zoological Society of London (ZSL) mementaskan Puyang karya T. Wijaya. Naskah ini kembali ditampilkan dalam South Sumatra Landcape Festival 2018 di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya, Palembang, 26 Juli 2018. Selama dua tahun ini Teater Potlot didukung Mongabay Indonesia, media yang focus pada persoalan lingkungan hidup. (ibr/*)

Loading...