
PENDOPO, fornews.co-Perusahaan pengolahan karet di Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) mengeluhkan kualitas karet yang didapat dari petani.
Menurut Presiden Direktur (Presdir) PT Felda Indo Rubber Mihd Rabi Ahkmar, karet yang dibelinya dari petani cukup memprihatinkan. Untuk memperberat timbangan karet tersebut, dalam getah karet itu ada benda-benda lain.
“Ya dalam karet itu macam-macam, ada yang dimasukkan botol, kain, karung, air, dan lainnya. Benda-benda itukan akan menambah berat dari karet tersebut, padahal aktivitas yang seperti itu yang membuat harga karet di PALI serta di Indonesia terendah atau murah,” ujarnya.
Melihat kondisi itu, jelasnya, pihak perusahaan mau tak mau harus tegas menghadapi ulah pentani karet yang nakal. “Perusahaan sudah menegaskan tidak akan membeli karet yang sudah dicampur bahan-bahan seperti itu. Dalam penyortiran karet kami sangat ketat. Saya juga turut melakukan sortir karet terhadap suplier yang menjual karet kepada kami,” ungkapnya.
Sementara, Kepala Dinas Pertanian PALI Torus Simbolon mengatakan, pihaknya telah melakukan sosialisasi yang berkesinambungan, namun belum juga membuahkan hasil. “Kita terus lakukan pembinaan. Tapi, prilaku yang seperti ini sangat sulit dibenahi, mengingat ini merupakan kebiasaan masyarakat kita. Kami terus membandingkan dengan masyarakat, terkait mana hasil yang bagus dan yang buruk dan apa dampak dari semunya,” katanya.
Torus mengharapkan, masyarakat mau bermitra agar ada ikatan yang bertujuan baik untuk mereka sendiri. Karena, masyarakat masih menjual bebas karet yang dihasilkan, dan tidak ada standar khusus, yang membuat salah satu faktor terjadinya perilaku buruk untuk hasil karet.
“Kita juga mempunyai koperasi-koperasi yang bermitra pada masyarakat bebas, yang mempunyai standar khusus dan memiliki Kandungan Karet Kering (K3) yang sesuai dengan pasaran luar,” tandasnya. (son)
















