Penulis oleh A.S. Adam
PENELITIAN bakteri Wolbachia di Indonesia awalnya dilakukan oleh para ahli Wolbachia dari Australia dan Yogyakarta.
Penelitian terhadap temuan-temuan bakteri Wolbachia telah dirintis sejak tahun 2004-2010 oleh Yayasan Tahija di Yogyakarta, namun sempat gagal.
Akhir tahun 2010, Yayasan Tahija di Yogyakarta, kembali melakukan upaya pemanfaatkan bakteri Wolbachia atas usulan seorang pakar, Dr. Duane Gubler.
Meski berulangkali sempat gagal, penelitian yang terus dilakukan itu kini dapat digunakan.
Bakteri Wolbachia dapat menekan angka kasus demam berdarah.

Dikutip dari tulisan berjudul “Wolbachia Pipientis, Bakteri Pada Serangga”, Wolbachia adalah bakteri yang menginfeksi berbagai hewan invertebrata.
Bakteri Wolbachia merupakan bakteri gram negatif berbentuk batang yang hidup di dalam sel.
Bakteri ini menginfeksi arthropoda dan berbagai serangga.
Selain serangga, bakteri ini juga menginfeksi nematoda filaria, krustasea terestrial, dan tungau.
Baca: September Mendatang MWP akan Lepas Nyamuk Wolbachia di Yogyakarta
Bakteri Wolbachia merupakan parasit paling umum di Bumi yang menginfeksi sistem reproduksi serangga.
Ahli Parasitologi dan Entomologi, Upik Kesumawati Hadi, dalam tulisan itu mengatakan bakteri Wolbachia mampu mengubah secara genetik dari gen inang yang terinfeksi.
Selanjutnya, inang yang terinfeksi itu diteruskan ke generasi berikutnya melalui infeksi testis dan ovarium inang mereka.
Diperkirakan lebih dari 18% serangga termasuk nyamuk, lalat, dan laba-laba, terinfeksi bakteri Wolbachia.
Namun, laporan lain mencatat sekira 20-75% serangga terinfeksi oleh bakteri Wolbachia.

Bakteri Wolbachia pertama kali ditemukan oleh Marshall Hertig dan S. Burt Wolbach pada tahun 1924.
Wolbachia ditemukan pada nyamuk Culex pipiens, yang kemudian dinamakan Wolbachia pipientis oleh Hertig pada tahun 1936.
Namun penemuan Marshall Hertig dan S. Burt Wolbach justru diabaikan.
Pada tahun 1971, Janice Yen dan A. Ralph Barr dari University of California, Los Angeles, menemukan telur nyamuk Culex mati akibat reaksi cytoplasmic incompatibility.
Reaksi itu bekerja ketika sperma jantan yang terinfeksi Wolbachia membuahi telur-telur yang tidak terinfeksi.
Penemuan Marshall Hertig dan S. Burt Wolbach, lantas direspon para ilmuwan dengan berbagai penelitian.
Penelitian mulai berkembang setelah tahun 1990, Richard Stouthamer dari University of California di Riverside, menemukan serangga jantan tidak berdaya terhadap spesies lain karena bakteri Wolbachia.
Para ilmuwan tergerak melakukan penelitian terhadap potensi infeksi dan biologi Wolbachia untuk mengendalikan hama serta vektor penyakit.
Salah satu vektor yang dikendalikan menggunakan Wolbachia adalah nyamuk Aedes aegypti, vektor demam berdarah dengue.
Wolbachia terbukti mampu menghambat perkembangan virus demam berdarah dengue (DBD).
Diketahui, virus DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.
Maka, jelas Upik, jika nyamuk Aedes aegypti diinfeksi menggunakan bakteri Wolbachia, virus DBD tidak dapat ditularkan ke manusia.
Untuk itu para peneliti berupaya memasukkan bakteri Wolbachia ke tubuh nyamuk dengan menyuntikkan embrio dari patogen tersebut.
Bakteri ini berhasil bertahan di dalam tubuh nyamuk dari induk hingga keturunannya.

Para ahli menunjukkan bahwa bakteri ini terbukti dapat menyebar melalui nyamuk betina yang terinfeksi.
Selain itu, bakteri Wolbachia juga dapat memperpendek umur nyamuk sekaligus telur-telurnya (embrio).
Telur nyamuk dapat mati karena ketidaknormalan reproduksi nyamuk, yakni ketika nyamuk betina yang tidak terinfeksi bakteri Wolbachia berpasangan dengan nyamuk jantan yang terinfeksi bakteri yang sama. Begitu juga sebaliknya.
Jadi, terang Upik, telur nyamuk yang menetas tetap terinfeksi bakteri Wolbachia.
Akibatnya bakteri Wolbachia akan ada dalam setiap generasi nyamuk Aedes aegypti.
Selain menyebabkan kerusakan pada reproduksi nyamuk, bakteri Wolbachia juga mampu menghentikan duplikasi virus dengue di dalam nyamuk.
Kegagalan duplikasi virus dengue menyebabkan demam berdarah dapat dicegah.
Upik berharap, dari hasil penelitian itu tidak hanya dapat diterapkan di Indonesia, namun juga sebagai pencegahan penyakit demam berdarah di dunia. (adam)
















