JOGJA, fornews.co — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada melayangkan mosi tidak percaya kepada Rektor UGM, Ova Emilia.
BEM KM-UGM menuntut Rektor UGM Ova Emilia untuk secara terbuka menyatakan Mosi Tidak Percaya terhadap lembaga pemerintah.
Namun selaku Rektor UGM, Ova Emilia, justru menolak desakan dan tuntutan keluarga mahasiswa UGM.
“Betapa malu kami sebagai mahasiswa kampus kerakyatan menyaksikan rektor lembek pada berbagai keadilan dan penindasan yang terang benderang,” bunyi Mosi Tidak Percaya, BEM KM-UGM, tertanggal 23 Mei 2025.
BEM KM-UGM menyebut terpilihnya pelanggar HAM, Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik Indonesia dan nepo-baby, Gibran Rakabuning Raka, yang menjadi Wakil Presiden dengan konstitusi atas bantuan “Raja Jawa” Jokowi–yang sedemikian berkuasa atas dukungan UGM.
Segala kebijakan ditetapkan oleh pemerintahan Prabowo diberlakukan tanpa kondiderasi lebih jauh–Makan Bergizi Gratis, Inpres mengenai Efesiensi Anggaran, dan Danantara.
Tak sampai di situ, BEM KM-UGM juga menyebut Prabowo menghendaki Revisi UU TNI sebagai langkah permulaan mengembalikan Dwi Fungsi TNI dengan mengubur cita-cita Reformasi.
Menurut mereka militerisme telah merangsek ke beberapa lingkungan kampus dengan dalih penguatan nasionalisme.
Lebih jauh, mahasiswa menyampaikan ekspresi kritiknya justru mendapatkan represi, bahkan ditetapkan sebagai tersangka. “Demokrasi dalam bahaya!”
Dalam aksinya, pada Rabu, 21 Mei 2025, mahasiswa melakukan kemah di Balairung sebagai bentuk protes terhadap Rektor UGM.
Dianggap telah megecewakan, keluarga mahasiswa UGM mengungkapkan tidak akan mencabut mosi selama Rektor tidak menyatakan Mosi Tidak Percaya sebagai bukti keperpihakannya kepada rakyat.
















