SEKAYU, fornews.co – Ketua Program Informasi & Komunikasi Lingkar Temu Kabupaten Lestari, Beni Hernedi mengatakan, kebakaran hutan dan lahan disebabkan “aktivitas buruk” di kawasan hutan.
“Akibatnya, peningkatan emisi yang muncul akibat aktivitas lahan yang tidak baik ini mengakibatkan total emisi Indonesia akibat kebakaran hutan dan lahan saja lebih tinggi dari total emisi Amerika Serikat pada tahun itu. Pemerintah pun harus menanggung biaya penanggulangan yang nominalnya lebih besar dari total pendapatan negara dari sektor migas dan sawit,” ujarnya dalam kegiatan TEDx Countdown yang mengusung tema “Join the Countdown: Action Starts Here” yang digelar secara virtual, Sabtu (10/10).
Dalam kesempatan tersebut, Beni kembali menegaskan target besar dari LTKL sebagai suatu forum gotong royong antar pemerintah kabupaten.
“Bahwa hingga tahun 2030, LTKL berupaya untuk menjaga setidaknya 10 juta hektare hutan dan 7 juta hektare gambut terlindungi di wilayah administrasi kabupaten anggota LTKL,” kata Wakil Bupati Musi Banyuasin ini.
Selain itu, lanjut Beni, yang tidak kalah penting adalah peningkatan kesejahteraan untuk sekitar 1 juta kepala keluarga yang tinggal di luar maupun di dalam kawasan ekologi terdampak di kabupaten anggota LTKL.
“Hal ini tidak akan mungkin diwujudkan tanpa ada rasa kebersamaan melalui semangat gotong royong antara seluruh pemangku kepentingan terkait,” tuturnya.
Hal senada juga disampaikan Octavia Rungkat, perwakilan anak muda komunitas adat Dayak Iban rumah panjang Sungai Utik, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Wanita yang akrab disapa Yessy ini menyebutkan, hutan adalah bagian dari kita sebagai manusia.
“Tanpa hutan, kita pun tidak mungkin ada,” tegasnya.
Pemenang UN Equator Prize 2019 dan Kalpataru 2019 ini menyebutkan, dampak dari perubahan iklim dirasakan betul oleh masyarakat di sekitar kawasan Sungai Utik, terlebih karena keseluruhan aktivitas masyarakat di sana sangat mengandalkan kondisi hutan yang terawat.
Andre Christian selaku masyarakat urban pun setuju dengan hal ini. Menurutnya, untuk masyarakat yang tinggal di perkotaan, banyak yang tidak tahu bentuk hutan itu seperti apa, tidak tahu hubungan konservasi hutan dengan kondisi masyarakat di daerah perkotaan.
“Padahal oksigen yang kita hirup dan nikmati bersama, kopi yang kita minum setiap pagi, ataupun komoditas-komoditas lain yang banyak kita temukan dan jadi konsumsi bersama masyarakat urban, merupakan hasil hutan dan kualitasnya tergantung dari apakah hutan tersebut terjaga dengan baik atau tidak,” kata Andre. (ije)

















