PALEMBANG, fornews.co – Wajah polos M Alfajar tak mampu menyembunyikan rasa sakit suntikan bius sebelum dirinya dikhitan. Meski demikian, bocah 4 tahun ini mampu mengalahkan rasa takut dan sakitnya hingga proses khitannya selesai.
Ya, Alfajar merupakan satu dari puluhan anak yang dikhitan massal di Gedung SMA Aisiyah 1 Palembang, Jumat (30/08) siang. Kegiatan khitanan massal digelar oleh Forum Pemerhati Pendidikan Sriwijaya Sumatra Selatan.
Evidianti (48) ibu Alfajar yang menemani buah hatinya hanya tersenyum melihat anaknya yang hanya bisa terdiam sambil memejamkan mata saat dokter melaksanakan khitan. Bahkan saat Evi menanyakan kepada anaknya sakit atau tidak, Alfajar menjawab dengan menggelengkan kepalanya sambil tetap memejamkan mata.
Menurut Evi, memang sudah sejak lama anaknya tersebut berkeinginan untuk dikhitan. Kemudian, dirinya mendapatkan informasi jika ada khitanan massal. Dirinya pun bersama warga sekitar mendaftarkan diri untuk ikut dalam khitanan massal tersebut.
Sejak awal, dirinya sudah memberikan pesan kepada anaknya kalau ingin dikhitan tidak boleh menangis. Evi juga menyampaikan saat dikhitan itu rasanya seperti digigit semut.
“Seperti digigit semut kan,” tanya ibunya kepada Alfajar yang dijawab dengan anggukan sang bocah.
Warga Jalan Pahlawan ini pun menceritakan jika putra bungsunya tersebut bercita-cita untuk menjadi polisi. Karena itu, ia harus menahan setiap sakit yang dirasakannya dan tetap kuat.
“Kalau mau jadi polisi itu harus kuat dan gak boleh nangis,” pesan ibu kepada putra kesayangannya ini.
Sementara itu, Ketua Panitia Khitanan Massal, Susanto mengatakan, kegiatan khitanan massal ini diikuti sebanyak 60 anak. Menurut Susanto, pihaknya sengaja mengadakan khitanan massal ini untuk membantu masyarakat tidak mampu.
“Khitanan ini diikuti dari berbagai daerah di Kota Palembang seperti, Sekip, Bukit Besar dan lain sebagainya,” terangnya.
Pelaksanaan khitanan massal ini dibantu oleh 30 dokter dari Rumah Sakit Bhayangkara Palembang. Dalam kesempatan tersebut, anak-anak peserta khitanan massal diberikan bingkisan berupa sarung, peci, dan baju koko.
“Bingkisan ini tujuannya memberikan semangat kepada para anak setelah dilakukan khitanan,” singkatnya. (alu)

















