JOGJA, fornews.co — Dunia seni Indonesia kembali kehilangan salah satu tokoh seniman serbabisa asal Jogjakarta, Genthong Hariono Selo Ali, meninggal dunia di RSUP Dr. Sardjito, Senin siang, 27 Juli 2026 pukul 13.26 WIB. Kepergian Genthong HSA menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang maestro yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri pada teater, sastra, dan seni rupa.
Berdasarkan informasi yang diterima dari keluarga, almarhum akan dimakamkan pada Selasa, 28 Juli 2026 setelah Salat Dzuhur di Makam Seniman Imogiri, Bantul.
Genthong HSA dikenal sebagai sosok lintas disiplin yang menorehkan jejak kuat di berbagai bidang kesenian.
Genthong HSA merupakan pelukis, penyair, cerpenis, novelis, dramawan, sekaligus pendiri Sanggar Anom, sebuah ruang kreatif yang melahirkan banyak seniman teater Indonesia.
Dari Sanggar Anom, Genthong membina banyak generasi muda yang kemudian berkembang menjadi pelaku seni nasional. Di antara muridnya yang dikenal luas adalah sutradara film Hanung Bramantyo dan aktor Gunawan Maryanto Cindil pemeran Widji Thukul berjudul Istirahatlah Kata-kata.
Perjalanan hidup Genthong HSA tidak hanya berlangsung di panggung seni, tetapi juga melalui pengembaraan panjang melintasi berbagai negara.
Sejak muda ia memilih menjelajahi dunia lewat jalur darat, menembus desa, pegunungan, lembah, hingga pesisir dari Indonesia menuju India, Pakistan, melintasi Khyber Pass di Pegunungan Afghanistan, kemudian Iran, Turki, Bulgaria, Yugoslavia, Austria, hingga Jerman.
Pengembaraan tersebut memperkaya perspektif artistiknya. Selama beberapa tahun ia menetap di München, Jerman, dan belajar di Kunstakademie München di bawah bimbingan pelukis surealis Jerman, Mac Zimmermann. Di kota itu pula, naskah dramanya berjudul Der Verlierer dipentaskan oleh Ex A Theater München.
Prestasi Genthong HSA di dunia penulisan drama juga mendapat pengakuan. Naskah Ciut Pas Sesak Pas meraih Juara III dalam lomba penulisan naskah drama Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Karya Sang Naga dan Harimau berhasil menjadi Juara I lomba penulisan naskah drama Taman Budaya Yogyakarta (TBY), sementara Jubah-Jubah turut mengantarkan kelompok teater yang mementaskannya menjadi pemenang dalam kompetisi yang digelar TBY.
Selain aktif di dunia teater, Genthong juga produktif menulis cerpen yang beberapa kali dimuat di Harian Kompas. Karya-karyanya dikenal memadukan kekuatan narasi, refleksi kemanusiaan, dan pengalaman panjangnya menjelajahi berbagai kebudayaan.
Kepergian Genthong HSA meninggalkan duka mendalam bagi dunia seni, khususnya Jogjakarta. Namun, warisan pemikiran, karya, serta dedikasinya dalam membina generasi seniman akan terus hidup melalui panggung-panggung teater, karya sastra, dan para murid yang meneruskan semangat berkesenian yang selama ini ia tanamkan.

















