YOGYAKARTA, fornews.co—Usai launching dan bedah buku “Metiyem”, pada sarasehan di Pendopo Rumah Maiyah, Ainun Nadjib yang akrab dipanggil Cak Nun mengatakan Umbu Landu Paranggi sebagai siluman.
“Dan saya adalah orang yang paling mengalami, menjadi korban kebohongan Umbu,” katanya berseloroh menceritakan siapa ULP, usai peluncuran buku “Metiyem”.
Diakui Cak Nun, buku Matiyem tidak akan terbit jika tidak ada Jensen, seorang pengusaha besar teman karib Umbu. Mereka sudah berteman selama empat puluh tahun, hingga hari ini.
Acara yang digagas oleh Rumah Maiyah bekerja sama dengan Perkumpulan Sastrawan Malioboro ini berlangsung di Kadipiro, Jalan Wates, Yogyakarta, dua hari lalu, Rabu (31/7/2019) malam.
Dalam esainya, Cak Nun menggambarkan Umbu laksana seekor burung merpati yang disebut “Metiyem”.
Secara teknis, kata Cak Nun dalam buku “Metiyem”, dirinya mengenal Umbu sebagai pemegang rubrik puisi dan sastra di mingguan Pelopor Yogya yang berkantor di ujung utara Malioboro Yogyakarta.
Bersama ratusan teman-temannya yang belajar menulis puisi dan karya sastra, Cak Nun bergabung dalam Persada Studi Klub (PSK). Namun puluhan tahun kemudian, ia menyadari tidak berbakat menjadi penyair.
“Ternyata yang saya pelajari dari Umbu bukanlah penulisan puisi, melainkan kehidupan puisi demikian menurut idiom Umbu sendiri.”
Murid-murid Umbu Landu Paranggi

Nama-nama seperti Mustofa W Hasyim, Iman Budi Santosa, Sutirman Eka Pradana, dan Budi Sardjono, adalah sebagian kecil yang pernah belajar sastra PSK.
Para murid yang aktif menulis dan berdiskusi kemudian mendirikan komunitas sastra bernama Persada Studi Klub.
“Umbu Landu Paranggi mengasuh Rubrik sastra budaya di mingguan Pelopor Yogya, nama rubrik ya SABANA,” kata Mustofa W Hasyim.
Lewat rubrik SABANA dan Persada Studi Klub ini, lanjut Mustofa, Umbu mendidik dan mengajarkan ilmu hidup dan ilmu bersastra secara intens. Pendekatan Umbu mengembangkan potensi personal muridnya.
Berjalannya waktu, para alumni Malioboro mendirikan Perkumpulan Sastra Malioboro, dan menerbitkan majalah SABANA.
Dari pengakuan orang-orang PSK, Umbu bahkan mengajak murid-muridnya menjelajahi jalan-jalan Kota Yogyakarta, kadang sampai luar kota hanya dengan berjalan kaki.
“Titik berangkat di Malioboro 155A, sebelah Perpustakaan Negara. Bertemu dan berkumpul lagi di titik sama,” imbuh Mustofa.
PSK punya jadwal pertemuan di setiap Ahad, salah satu kegiatannya adalah berdiskusi di kantor Redaksi Pelopor Yogya. Namun kadang di tempat lain, seperti di kantor redaksi Berita Nasional di Jalan Katamso.
Karena komunitas ini bersifat lepas dan terbuka, sekitar tahun 1968, para murid Umbu mengikuti jejaknya aktif di media massa. Emha Ainun Nadjib dan Soeparno S Adhy mengasuh Rubrik Insani Harian Masa Kini. Sutirman Eka Ardhana, mengasuk rubrik Remaja Nasional.
Hadjid Hamzah dan Mas Achmad Munif, mengasuh rubrik sastra dan budaya sekaligus menjadi wartawan di Kedaulatan Rakyat. Ayu Sutarto mengasuh rubrik sastra dan budaya di mingguan Eksponen.
Sedangkan Suwarno Pragolapati menjadi redaktur di majalah Semangat. Ia juga menjadi pengasuh rubrik puisi dan sastra di radio-radio di Yogyakarta.
Tahun 1975 Umbu Landu Paranggi meninggalkan Yogyakarta dan bermukim di Bali mengembangkan rubrik sastra di Harian Umum Bali Post. Tidak hanya itu, di Bali Umbu juga menghidupkan komunitas sastra—sampai hari ini.
Buku “Metiyem”

Buku setebal 260 halaman ini terbagi dalam tiga bagian, yakni kesaksian murid-murid selama bersama Umbu, Karya-karya puisi Umbu, dan foto-foto terkait Umbu Landu Paranggi.
Dalam buku ini terdapat Prolog oleh Sapardi Djoko Damono dan Epilog oleh Emha Ainun Nadjib.
Deretan penulis catatan dari almarhum: Achmad Munif, Arwan Tuti Artha, Badjuri Doellah Joesro, Bambang Darto, Boedi Ismanto SA, Deded Er Moerad, Fauzi Rizal, Korrie Layun Rampan, Ragil Suwarna Pragolapati, Rs. Rudatan dan Teguh Ranusastra Asmara.
Catatan dari Orang-orang Malioboro: Atas Danusubroto, A.Y. Suharyono, Budi Sardjono, Djihad Hisyam, Emha Ainun Nadjib, Faisal Ismail, Fauzi Absal, Iman Budi Santosa, Jabrohim, Menik Sugiyah Kartomulyo, Mustofa W Hasyim, Soeparno S Adhy, Suminto A. Sayuti, Suripto Harsah, Sutirman Eka Ardhana dan Yayuk Sri Rahayu.
Catatan para sahabat: Abdul HAdi W.M, Achmad Charris Zubair, Agus Dermawan, Agus Rois, Ashadi Siregar, Bustan Basir Maras, Ebiet G. Ade, Erwito Wibowo, F. Rahardi, Hamdy Salad, Herry Mardiyanto, Iman Brotoseno, Latief S. Nugraha dan Rachmat Djoko Pradopo.
Selain itu juga penulis Asef Saeful Anwar, Djoko S. Passandaran, I Made Sujaya, dan Tan Lioe Lie.
Sedangkan penulis dari Timur, yakni: Frans Nadjra, IBK. Dharma Santika Putra (DS. Putra), Ketut Syahruwardi Abbas, Nuryana Asmaudi SA, Putu Fajar Arcana, Riki Dhamparan Putra, Sri Jayantini, Wayan Jengki Sunarta, dan Willem B Berybe. (adam)
instagram:
FORNEWS OFFICIAL
@fornewsofficial
facebook:
fornews.co
FORNEWS BIRO JOGJA
instagram:
@fornewsjogja
youtube:
Fornews Jogja
















