YOGYA, fornews.co – Forum Pendongeng Nasional (FPN) yang dideklarasikan di Yogyakarta menjadi sejarah dan catatan penting terhadap pendongeng sebagai profesi. Di Indonesia profesi pendongeng masih berpenghasilan rendah.
Ada dua hal yang harus dipahami oleh masyarakat terhadap perbedaan pada pendongeng, yaitu yang bersifat berbayar karena pendongeng merupakan profesi yang harus dihargai dan non komersil karena bersifat kerelaan.
Ha itu dikatakan Pendongeng asal Palembang Slamet Nugroho yang akrab disapa Kak Inug, usai sarasehan Pendongeng Nasional pada Sabtu (25/2/2023) malam di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta.
Baca: Sarasehan Pendongeng Nasional di Yogya Tetapkan FPN sebagai Nama Organisasi
“Sebut saja ada muatan bisnisnya, ada angka di sana. Jadi, terdapat batasan dan penempatan ketika harus mendongeng sebagai relawan atau mendongeng untuk penghasilan,” ucapnya.
Sama halnya ketika bicara pementasan teater, konser musik, atau pertunjukan lainnya yang umumnya masyarakat sudah paham ada nilai dan harga yang harus diberikan.
Menurut Inug, mendongeng bukan hanya bagian dari kegiatan edukasi saja, ini yang juga harus dipahami oleh lembaga, instansi, atau perusahaan yang ingin menggunakan jasa pendongeng.
Baca: Forum Dongeng Nasional Gelar Sarasehan Pendongeng Indonesia di Yogya

Tapi, dirinya tidak bisa mengatakan berapa jumlah nominal atau harga yang harus diberikan kepada pendongeng untuk sekali pertunjukan yang dimainkan.
Banyak teman-teman seprofesinya menerima 1T yang berarti “terima kasih saja” atau 2M yang berarti “maturnuwun mas”. “Tidak bisa begitu,” ujarnya.
Menurut dia, sudah saatnya pendongeng harus memiliki standarisasi dan kompetensi agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap penghargaan atau pemberian apresiasi.
“Misalnya berobat ke dokter umum tentu berbeda tarif saat berobat ke dokter spesialis,” selorohnya.
Perbedaan yang paling mencolok, timpal Inug, ketika ada pendongeng yang baru saja belajar kemudian mengaku-aku sebagai pendongeng profesional.
“Idealnya pendongeng profesional harus memiliki standar kopetensi.”
Ia menyontohkan dirinya yang sudah lebih dari 20 tahun berprofesi sebagai pendongeng memiliki jam terbang yang tinggi. Bahkan, beberapa kali tampil di luar negeri.
Profesi sebagai pendongeng itu tak lain untuk menghidupi keluarganya – tidak ada sumber penghasilan lain kecuali dari mendongeng.
Baca: APGI Rilis Tingkat Kesulitan Jalur Pendakian Gunung di Indonesia
Ia berharap FPN dapat menyelenggarakan pelatihan atau pendidikan profesi bagi pendongeng seperti halnya pada dunia pendidikan yang juga melakukan pelatihan pendidikan.
Dengan adanya wadah bagi pendongeng di Indonesia, FPN, dapat dijadikan rujukan oleh masyarakat untuk mengetahui informasi, wawasan dan pengetahuan tentang profesi pendongeng.
Meski begitu, kata Inug, seorang pedongeng tidak hanya pintar bercerita tetapi juga harus mampu menyampaikan pesan moral yang mudah diterima oleh anak-anak.
Baca: Labuhan Merapi tetap Dilaksanakan meski Gunung Merapi Status Siaga III
“Tidak mungkin seorang pendongeng tidak mampu ngomong di depan anak-anak. Bagaimana bisa dikatakan sebagai pendongeng?”
Bahkan, sambung dia, seorang pendongeng juga harus menguasai dasar-dasar seni pertunjukan, misalnya pengusaan terhadap pengolahan vokal, bloking, termasuk performance pertunjukan.
“Jangan sampai ketika dibayar untuk mendongeng justru membuat anak-anak malah menjadi jenuh dan mengantuk.”

Ditanya soal perkembangan pendongeng di daerahnya, Inug, mengungkapkan perkembangan profesi pendongeng di Palembang sudah sangat baik. Pemerintah setempat bahkan sering mengundangnya pada event-event yang digelar.
“Di Palembang saya sering diundang untuk mendongeng di depan anak-anak. Seperti halnya sekarang saya didukung oleh Dewan Kesenian Palembang (DKP) untuk bisa hadir di Yogya,” ucap pendongeng Palembang yang juga pengurus DKP Komite Sastra.
Baca: Mas Asih Terima Ubarampe Labuhan Merapi Karaton Yogya dari Bupati Sleman
Dongeng menjadi salah satu metode ampuh untuk memberikan nilai-nalai pendidikan karakter pada anak-anak.
Ke depan, ujarnya, semoga akan semakin banyak pendongeng-pendongeng di Indonesia yang menyampaikan nilai-nilai moral, ahlak dan budi pekerti, terhadap masyarakat khususnya kepada anak-anak.
“Dari Yogya, semoga FPN dapat mendorong pendongeng di Indonesia untuk terus melahirkan gagasan-gagasan baru yang berdampak terhadap kesejahteraannya,” tutupnya. (adam)

















