YOGYA, fornews.co – Sarasehan Pendongeng Nasional yang digelar di Yogyakarta telah menetapkan diri menjadi Forum Pendongeng Nasional (FPN) yang semula bernama Forum Dongeng Nasional (FDN).
Sarasehan Pendongeng Nasional yang digelar pada 25-26 Februari 2023 di Museum Benteng Vredeburg telah membentuk Tim Formatur beranggotakan tujuh orang.
Ketujuh orang tersebut dipilih oleh seluruh peserta yang hadir melalui pemungutan suara secara manual.
Baca: Forum Dongeng Nasional Gelar Sarasehan Pendongeng Indonesia
“Tim Formatur FPN nantinya akan menentukan visi dan misi FPN berikut penyusunan AD/ART dan membentuk kepengurusan,” kata Ketua Tim Formatur terpilih, Ahmad Fauzan akrab disapa Kak Ojan, Sabtu (25/2/2023).
Ketujuh orang tersebut adalah Ahmad Fauzan (Kak Ojan), Agus Djafar Sodik (Kak Agus), Andi Yudha Asfandiar (Kak Andi Yudha), Ariyo Zidni (Kak Aio), Inge Ariani Safitri (Kak Inge), Gery Saleh Puraatmaja (Kak Gery) dan Rona Mentari (Kak Rona).
Tim Formatur akan bekerja selama tiga bulan dalam merumuskan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan dalam Musyawarah Nasional (Munas) FPN di Yogya.

Dikatakan Fauzan, FPN akan terus dihidupkan tidak hanya membuat acara kumpul-kumpul yang tidak bermanfaat. Ada banyak program yang nantinya akan dilaksanakan.
“Jadi, aspirasi pendongeng Indonesia yang hadir mewakili pendongeng di seluruh Indonesia akan menjadi bahan dalam program kerja,” kata dia.
FPN sebagai lembaga yang menaungi pendongeng dan komunitas dongeng di Indonesia telah berkomitmen turut mencerdaskan kehidupan bangsa.
Hal itu disambut baik oleh pengelola Museum Benteng Vredeburg karena FPN turut mewarnai museum menjadi lebih beda dan menarik.

“Pendongeng, menurut kami menjadi posisi yang sangat strategis karena dari karya-karyanya itu bisa membangun imaji anak negeri,” kata Wakil Kepala Museum Vredeburg, Agus Sulistyo.
Agus menilai bahwa dongeng merupakan suatu proses penyampaian informasi yang sama halnya dengan museum.
Menurut dia, semua pendongeng adalah komunikator, maka, pesan itu ada di dongeng itu sendiri karena peran pendongeng sangat mulia.
Agus menyebut sarasehan di Vredeburg itu harapannya dapat merubah pandangan masyarakat terhadap para pendongeng yang saat ini telah mengalami kemajuan dan perubahan yang lebih baik.

Dongeng bisa bermuatan apa saja, selorohnya, dan komunitas pendengar dongeng juga bisa siapa saja.
“Dan, dongeng sekarang sudah bukan untuk anak-anak lagi,” katanya, “semuanya butuh dongeng. Karena apa? Karena banyak orang perlu didongengkan.”
Untuk itu, lanjut Agus, pendongeng perlu sarasehan sehingga ke depan dapat menjadi lebih berkualitas dan berbobot untuk pendidikan.
Pihaknya mengapresiasi FPN yang telah menjadikan Museum Vredeburg sebagai tempat diselenggarakannya Sarasehan Pendongeng Nasional selama dua hari.

“Mudah-mudahan kegiatan ini menjadi kegiatan yang selalu berkesinambungan dan selalu berkelanjutan sehingga memberikan warna terhadap museum ini (Vredeburg),” kata dia.
Dongeng telah menjadi kebutuhan bagi masyarakat, tidak hanya anak-anak, namun, juga para orang tua.
Hal itu diungkapkan Ketua panitia Sarasehan Pendongeng Nasional, Abdul Wahab atau Kak Awe, kepada fornews.co usai penutupan sarasehan hari pertama, Sabtu.
Ia membeberkan kehidupan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Yogya, yang belum dapat mengambil manfaat dari dongeng.

“Bukan hanya mendongeng untuk anak-anak, tapi sebenarnya orang tua juga butuh dongeng,”
Menurut Awe, orang tua juga harus bisa mendongeng karena mendongeng menjadi bagian penting untuk berkomunikasi terutama kepada anak.
Selain itu, kata Awe, berkomunikasi kepada semua pihak sangat efektif bagi pendongeng.
Sebagai tuan rumah Sarasehan Pendongeng Nasional, pihaknya bersyukur karena pertemuan pendongeng se-Indonesia dapat digelar untuk pertama kalinya di Yogya.
“Alhamdulillaah kita senang sekali menjadi tuan rumah dan mudah-mudahan acara ini ke depan akan membuat dongeng di Indonesia semakin maju,” tutup Awe. (adam)

















