JAKARTA, fornews.co-Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku jengkel ketika sudah masuk bulan dan tahun politik, muncul fitnah, hoaks hingga ujaran kebencian di mana-mana.
Karena, setelah muncul hal-hal tersebut, akan menghadirkan gesekan-gesekan gara-gara urusan politik tersebut. “Coba dilihat, saya ini sudah empat tahun diam, enggak pernah bicara. Presiden Jokowi itu PKI, di bawah itu isunya kayak begitu. PKI itu dibubarkan tahun ‘65 – tahun ‘66, saya lahir tahun ‘61, umur saya baru empat tahun, masih balita. Masa ada PKI balita? Ada PKI balita?. Mirisnya berdasarkan survei terakhir ada sembilan juta orang percaya mengenai ini,” ungkapnya saat menyampaikan sambutan pada penyerahan 3.000 sertifikat hak atas tanah di Lapangan Bola Arcici, Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat (Jakpus), Sabtu (26/1) siang.
Atas dasar itulah, Presiden Jokowi menyatakan, sekarang ingin berbicara. Karena kalau tidak berbicara, nanti tambah jadi dua belas juta. “Ya saya omong apa adanya. Saya kemarin empat tahun saya diam, ya Allah sabar, sabar, sabar, sabar tapi sekarang omong saya,” ujarnya, seperti dilansir setkab.go.id.
Orang nomor satu di Indonesia ini mengimbau, agar semua pihak untuk berpolitik yang santun dan beretika, serta dengan tata krama yang baik. Silakan berbeda pilihan, itu tidak apa-apa, tapi cara-caranya jangan dengan fitnah, dengan ujaran kebencian, dengan mencela.
“Wong bangsa kita inikan dilihat dari luar itu budi pekertinya baik, sopan santunnya baik, tata kramanya baik, ramah tamah. Kita harus junjung tinggi adab, etika, tata krama, sopan santun dalam kita berpolitik,” imbaunya.
Jokowi menilai, sangat lucu ketika nanti tidak saling omong dengan tetangga gara-gara beda pilihan, bahkan tidak saling omong antarkampung. Kalau ada pilkada, Pilihan Bupati (Pilbup), Pilihan Wali Kota (Pilwakot), Pilihan Gubernur (Pilgub), Pilihan Presiden (Pilpres) ya dilihat saja kandidatnya.
“Misalnya ada 1, 2, 3, 4, dilihat, prestasinya apa dilihat, punya pengalaman enggak memerintah dilihat? Punya prestasi ndak dilihat, programnya apa dilihat, idenya apa dilihat, gagasannya apa dilihat, pilih, sudah begitu saja,” terangnya.
“Mungkin tetangga kita pilih yang ganteng ya enggak apa-apa. Tapi, kalau untuk mengelola sebuah daerah, mengelola sebuah provinsi, mengelola sebuah negara mestinya dilihat prestasinya, pengalamannya, track record-nya, programnya apa, idenya apa, gagasannya apa,” tandasnya. (tul)

















