YOGYAKARTA, fornews.co—Barang siapa dari pelamar yang dapat mengalahkan Patih Wresniwiro maka berhak menjadi suami Dewi Setyawati. Dialah pemenangnya. Begitulah janji pada sayembara yang diadakan di sebuah negara kecil dalam cerita wayang kulit lakon “Gada Wesi Kuning”.
Karena banyak raja dan satria yang jatuh cinta kepada putri Prabu Setyadewa, maka Patih Wresniwiro mengadakan sayembara perang. Tidak ada satu pun pelamar yang berhasil mengalahkan Sang Patih.
Di tempat terpisah, Raden Setyaki yang masih jejaka sedang bertapa mencari kesaktian di atas Gedangniyang. Mengetahui Setyaki bertapa, Batara Narada yang berada di Kayangan mengutus Betara Guru agar memberikan Gada Wesi Kuning kepada Setyaki. Sebuah senjata ampuh untuk memenangkan sayembara.
Benar. Ternyata Patih Wresniwiro dapat dikalahkan oleh Setyaki menggunakan pusaka pemberian Betara Narada.
Festival Pedalangan Anak dan Remaja, 23-25 September 2019, di Alun-alun Wonosari, Daerah Istimewa Yogyakarta telah berakhir, Rabu (25/9).
Sebanyak 18 kecamatan di Gunugkidul turut dalam festival ini, yakni Girisubo, Semin, Paliyan, Tanjungsari, Playen, Gedangsari, Ngawen, Panggang, Nglipar, Wonosari, Ponjong, Saptosari, Purwosari, Rongkop, Patuk, Karangmojo, Tepus, dan Semanu.
Festival ini diselenggarakan oleh Bidang Pelestarian Warisan dan Nilai Budaya, Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul menggunakan Dana Keistimewaan (Danais).
Gunungkidul diklaim sebagai daerah dengan pementasan wayang paling banyak se-DIY. Setiap kegiatan bersih desa (rasulan) digelar, pasti ada pagelaran wayang.
Bupati Gunungkidul Hj Badingah mengatakan, semakin banyak anak-anak dan remaja di Gunungkidul yang memiliki kecintaan dan kebanggaan terhadap kekayaan seni dan kebudayaan Jawa.
Menurut Bupati Badingah, rasa handarbeni dan kebanggaan kaum muda di Gunugkidul saat ini diwujudkan dalam aktifitas yang rutin dan insentif menggeluti seni dan budaya, salah satunya seni pedalangan.
“Saya yakin minat dan kaum muda yang diasah melalui latihan dan kesempatan karya-karyanya akan semakin menyemangati anak-anak dan remaja kita dalam menggeluti seni dan budaya tradisional,” katanya, Rabu.
Bahkan ketika minat aktifitas dan seni budaya semakin mendarah daging dalam diri kaum muda dan anak-anak, lanjutnya, akan menjadikan mereka samakin profesional.
“Tentu saja akan menghasilkan karya-karya seni yang berkualitas dan unggul.”
Diakui Bupati Badingah, keberagaman kekayaan seni dan budaya Jawa telah menjadikan Yogyakarta sebagai daerah yang istimewa.
Predikat istimewa tersebut membuat masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merasa bangga sekaligus terdorong ikut dalam upaya pelestarian dan pengembangan seni dan budaya di Yogyakarta.
Bupati Badingah berharap seni pertunjukan wayang kulit sudah diakui internasional dapat mendorong minat generasi penerus untuk menggeluti seni pedalangan.
Pihaknya menyambut positif terhadap minat seni dan budaya di Gunungkidul melalui “Festival Pedalangan Anak dan Remaja” sebagai event seni dan budaya.
“Kita berharap dalam waktu yang tidak lama lagi akan muncul dalang-dalang yang profesional yang berkualitas dari Gunungkidul ini. Sehingga kekayaan seni pedalangan tetap lestari dan berkembang di Gunungkidul,” pungkasnya.
Sebagai penutup pada “Festival Pedalangan Anak dan Remaja” dipentaskan wayang kulit dengan lakon Gada Wesi Kuning bersama dalang Ki Warseno dari Semin, Gunungkidul. (adam)
instagram:
FORNEWS OFFICIAL
@fornewsofficial
facebook:
fornews.co
FORNEWS BIRO JOGJA
instagram:
@fornewsjogja
youtube:
Fornews Jogja

















