JOGJA, fornews.co — Di tengah situasi sosial yang dinilai semakin penuh ketegangan, seni tidak hanya hadir sebagai ruang estetika. Seni dapat menjadi ruang untuk mempertemukan orang-orang dari latar belakang berbeda, mencairkan ketegangan, dan merawat rasa kebangsaan.
Pandangan itu disampaikan Profesor M Dwi Marianto, kurator Pameran Merdeka yang dibuka pada Sabtu sore, 15 Agustus 2026, kepada fornews.co di kawasan heritage Sagan.
Menurutnya, kekuatan utama pameran bukan semata-mata terletak pada bagus atau tidaknya sebuah karya, melainkan pada kemampuannya menyatukan berbagai latar belakang melalui seni.
“Yang paling penting adalah menyatukan orang dari berbagai macam latar belakang. Kalau seni itu berbeda, justru membuat karya menjadi dinamis. Kontras dibutuhkan dalam seni,” ungkapnya.
Dwi menilai keberagaman peserta Pameran Merdeka menjadi salah satu kekuatan acara tersebut.
Seniman yang terlibat tidak hanya berasal dari Jogja, namun juga datang dari sejumlah daerah, termasuk Kalimantan dan Sumatra.
Pertemuan para seniman itu, menurut Dwi, tidak hanya menjadi ajang memamerkan karya tetapi juga menjadi ruang silaturahmi dan reuni bagi para pelaku seni.
“Orang di seni itu senang kalau berkumpul. Jadi bisa menjadi ajang reuni,” ujarnya.
Lebih dari itu, Dwi melihat kegiatan semacam Pameran Merdeka memiliki arti penting dalam situasi sosial yang menurutnya sedang mengalami kegamangan.
Pertemuan melalui seni dinilai dapat menjadi semacam ruang untuk menurunkan ketegangan yang terakumulasi di masyarakat.
“Untuk menjadi optimistis itu susah. Untuk menjadi senang itu juga susah. Acara seperti ini membuat tensi yang sudah terakumulasi mulai cair dan kendor lagi, supaya kita bisa berpikir waras dan bisa ketawa,” katanya.
Kebhinekaan harus Berujung Kesetaraan
Pameran Merdeka yang digelar menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia juga dinilai memiliki relevansi kuat dengan momentum 17 Agustus.
Dwi mengatakan, kemerdekaan tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai perayaan atas keberagaman. Menurut dia, di balik kebhinekaan terdapat persoalan lain yang tidak kalah penting, yakni kesetaraan.
“Dalam kebhinekaan sebenarnya ada yang kurang. Jangan cuma kebhinekaan, tetapi harus ada kesetaraan. Itu yang belum banyak,” tegasnya.
Ia melihat masyarakat masih kerap terjebak pada pembelahan “orang sini” dan “orang sana”, “kita” dan “mereka”. Cara pandang semacam itu menunjukkan bahwa keberagaman belum sepenuhnya diikuti dengan kesetaraan.
Karena itu, momentum kemerdekaan seharusnya menjadi kesempatan untuk merefleksikan kembali makna hidup bersama sebagai bangsa.
“Coba upayakan melihat dan merefleksikan bahwa kebhinekaan itu tidak cukup. Harus ada kesetaraan,” katanya.
Dwi juga mengingatkan bahwa makna penjajahan pada masa kini telah mengalami perubahan. Jika dahulu penjajahan identik dengan kekuatan dari luar, ancaman terhadap persatuan bangsa saat ini justru dapat muncul dari dalam masyarakat sendiri.
“Dulu penjajahan seakan-akan orang dari luar. Ternyata sekarang yang menjadi ancaman justru saudara sendiri. Itu yang paling bahaya,” ujarnya.
Menurut dia, jika ketegangan sosial semacam itu dibiarkan tanpa ruang dialog dan perjumpaan, bukan tidak mungkin berkembang menjadi konflik yang lebih serius.
Karena itu, ia berharap Pameran Merdeka tidak berhenti sebagai kegiatan seni, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya mencairkan ketegangan sosial.
“Semoga pameran ini, nanti pameran lain atau kegiatan yang lain, bisa membuat ketegangan yang memuncak itu mencair lagi,” katanya.
Hotel Berkewajiban Memajang Karya Seni
Di sisi lain, Dwi menilai ekosistem seni di Jogja sebenarnya memiliki potensi besar. Seniman dinilai produktif dan kreatif, tetapi masih membutuhkan sistem yang mampu menopang keberlanjutan karya mereka, terutama dalam aspek pemasaran.
“Yang belum adalah sistem untuk marketing. Ini juga penting supaya seniman tidak sendirian, tetapi disokong oleh sistem,” katanya.
Dwi mencontohkan kebijakan di Jakarta yang menurutnya telah memberikan ruang bagi karya seni untuk hadir di ruang-ruang publik dan komersial. Salah satunya melalui kewajiban tertentu bagi hotel untuk memajang karya atau unsur seni yang berkaitan dengan budaya lokal.
Menurut Dwi, pola semacam itu dapat menjadi salah satu contoh bagaimana pemerintah maupun sektor swasta membangun ekosistem yang memungkinkan seniman tidak hanya berkarya, tetapi juga memperoleh ruang ekonomi.
Bagi Dwi, dukungan terhadap seniman tidak cukup berhenti pada penyelenggaraan pameran. Diperlukan sistem yang membuat karya seni memiliki pasar dan seniman memperoleh keberlanjutan hidup dari proses kreatifnya.
“Seniman jangan dibiarkan hidup atau mati sendiri. Harus ada sistem yang menyokong,” ujarnya.
Pada akhirnya, Pameran Merdeka diharapkan tidak hanya menjadi perayaan seni menyambut Hari Kemerdekaan. Lebih jauh, pameran tersebut dapat menjadi ruang perjumpaan untuk merawat rasa kebangsaan, mempertemukan perbedaan, dan mendorong kesetaraan.
Sebab, bagi Dwi, kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga tentang kemampuan masyarakat untuk hidup bersama tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjauh.
Ikuti Berita dan Artikel lain di Google News
Reporter: A.S. Adam | Editor: A.S. Adam
Copyright © Fornews.co 2016-2026. All rights reserved.
















