SEKAYU, fornews.co – Gubernur Sumatra Selatan (Sumsel) Herman Deru mengapresiasi Pemkab Musi Banyuasin yang melakukan peresmian pabrik aspal karet berbasis lateks pravulkanisasi. Inovasi ini dinilai mampu mendongrak nilai jual komoditas karet di tingkat petani.
“Kita apresiasi inovasi ini. Dengan pabrik pengolahan aspal campur karet ini tentu akan menyerap produksi karet para petani kita,” ujar HD saat menghadiri Peresmian Instalasi Pengolahan Aspal Karet Berbasis Lateks Terpravulkanisasi di Sekayu, Kabupaten Muba, Senin (26/10).
Menurut HD, dengan beroperasinya pabrik pengolahan aspal karet tersebut diyakini bisa memberi keuntungan bagi para petani karet di Sumsel yang mengelola kebun karet dengan luasan mencapai 1,3 juta hektare dan memproduksi karet yang tahun ini diprediksi mencapai 978.611 ton karet kering. Dimana dalam 1 ton campuran aspal panas dapat dimanfaatkan kurang lebih 60 kilogram karet atau berkisar 7%.
“Memang hanya 7% (campurannya), namun kita jangan melihat dari satu segmen saja. Karena ini salah satu alternatif membuka peluang bagi petani. Artinya kita menginginkan, karet untuk bahan baku aspal ini tidak bergantung pada harga internasional,” katanya.
Karena itu, Pemprov Sumsel dan Pemkab Muba akan membuat hal itu masuk dalam e-katalog. Dengan kata lain, harga karet tersebut tetap dan tidak akan berfluktuasi.
“Kita sepakat akan membuatnya menjadi e-katalog. Jadi karet ini kita buat memiliki harga tetap,” tuturnya.
HD menyarankan, guna menjaga eksistensi pabrik pengolahan aspal karet tersebut, ada sinergi antara pemerintah pusat, Pemprov dan Pemkab atau Pemkot lainnya.
“Sinergitas itu harus ada. Aspal harus digunakan untuk jalan-jalan di Sumsel khususnya, karena ini berorientasi pada perekonomian para petani karet kita,” tegasnya.
Bahkan, HD akan membuat regulasi agar aspal karet tersebut digunakan juga oleh Dinas PU Bina Marga Provinsi untuk melakukan perbaikan ruas jalan provinsi di Sumsel.
“Termasuk juga saya akan mengajak Bupati dan Wali Kota di Sumsel untuk turut menggunakannya,” tukasnya.
Bupati Muba Dodi Reza Alex mengatakan, inovasi pengolahan aspal tersebut sudah dikembangkan sejak dua tahun belakangan.
“Setelah itu kami bergerak cepat untuk menerapkan inovasi itu. Pengolahan yang selama ini ada di Bogor dan Lampung, kita pindahkan ke Muba. Apalagi Muba ini memiliki 300 ribu hektare lahan karet,” tuturnya.
Menurutnya, ada empat keuntungan dari aspal karet ini. Aspal karet ini dapat bermanfaat berbagai aspek ekonomi masyarakat. Karena bahan baku diambil dari petani langsung. Tidak hanya itu, harga karet juga akan semakin baik.
“Dari sisi teknis, walaupun harganya mahal tapi umur jalannya dua kali lipat lebih awet. Aspal karet juga kedap air. Tingkat kelenturannya bagus untuk daerah rawa seperti di Sumsel. Dari sisi bisnis pun demikian. Para pengembang mendapatkan harga kepastian dan bahan baku melimpah,” terangnya. (ije)

















