Penulis: A.S. Adam
JAM lima sore. Dentuman keras terdengar tiga kali. Nyala api disertai suara gemuruh membumbung ke atas setinggi 1,5 km. Awan panas meluncur ke tenggara memecah ke barat daya menewaskan hampir 400 orang. Oktober 2010, Gunung Merapi meletus lagi.
Berketinggian hingga 2968mdpl, Gunung Merapi merupakan salah satu gunungapi teraktif di dunia yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten. Masing-masing berjarak 30 km dari Yogyakarta, 26,5 km dari Magelang dan 17,5 km dari Boyolali.
Sejak tahun 1006 hingga Oktober 2010 Gunung Merapi telah meletus sebanyak 84 kali. Letusannya dinyatakan bertipe Merapi, yakni diawali dengan pertumbuhan kubah lava yang kemudian gugur dan menghasilkan awan panas guguran.
Secara umum puncak letusan berupa penghancuran kubah lava yang didahului dengan letusan disertai awan panas guguran akibat hancurnya kubah lava.
Kubah lava yang terus tumbuh di puncak pada waktu tertentu posisinya menjadi tidak stabil. Terdorong oleh magma baru yang naik ke permukaan. Ini menyebabkan kubah lava runtuh diikuti oleh guguran lava pijar dan awan panas bersuhu lebih dari 600˚C berkecepatan luncuran lebih dari 100 km/jam.

Kini secara terus-menerus BPPTK Yogyakarta memantau Gunung Merapi dari pos pengamatan Selo, Jrakah, Babadan, Ngepos dan Kaliurang. Aktifitas Gunung Merapi sudah dipantau sejak tahun 1930-an, dan pemantauan secara kimia gas telah dilakukan sejak tahun 1980-an.
“Langsung dishare ke BPPTK Jogja,” kata Triyono (62) salah satu penjaga pemantauan Merapi Pos Ngepos.
Triyono bertempat tinggal di Godean, Sleman, Yogyakarta. Dari rumahnya ke Pos pemantauan bisa memakan waktu 2-3 jam.
Ia tidak sendiri. Secara bergantian Triyono dan teman-temannya bertugas menyesuaikan waktu jaga. Triyono dan dua teman lainnya mendapat jatah dua hari jaga dan sehari libur.
“Meski tanggal merah, hari libur, tapi karena ini jatah saya berjaga, mau takmau harus datang ke pos,” ujarnya, pekan lalu.
Kepada Fornews.co, Triyono mengaku pasrah terhadap bencana yang bisa datang kapanpun. Setiap ada warga, maupun orang yang bertanya kepadanya soal kapan Merapi akan meletus, atau kapan bencana akan datang, ia hanya menjawab “Ya serahkan saja sama yang Kuasa”.

Seismograf
AWAL abad ke-20 rancang bangun dan instalasi seismograf pemantauan gunungapi mulai dikembangkan. Pada tahun 1920-an pemerintahan kolonial Belanda mulai melakukan pemantauan terhadap gunungapi di Indonesia dengan menggunakan seismometer mekanik bertipe omori.
Belanda juga membangun sejumlah pos pengamatan Gunung Merapi beberapa di antaranya di Kabupaten Magelang Desa Srumbung, Kecamatan Srumbung, bernama Pos Ngepos dibangun pada 1931 dan Pos Babadan di Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, dibangun tahun 1934.
Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, tahun 1954, tidak ketinggalan pula membangun Pos Jrakah di Desa Jrakah dan Pos Selo di Desa Lencoh. Keduanya berada di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Sedangkan Pos Kaliurang di Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, dibangun pada tahun 1995 di masa pemerintahan Presiden Soeharto.

Jauh sebelum menggunakan teknologi seperti sekarang, hasil pemantauan visual gunungapi didokumentasikan melalui seketsa-seketsa tentang morfologi gunungapi.
Kertas seismograf menggunakan jelaga hitam. Setiap pergantian kertas seismogram harus dicelup ke dalam larutan vernis untuk melapisi jelaga agar tidak luntur.
“Sebetulnya sama, tapi seismograf tabung, yang dicatat di atas kertas, hingga puluhan tahun pun tidak hilang,” ucapnya.
Menurut Kamus Bahasa Indonesia seismograf merupakan sebuah alat untuk mencatat gempa bumi yang menunjukkan kekuatan, lama, arah, dan jaraknya. Sedangkan seismogram adalah grafik getaran gempa bumi yang direkam oleh seismometer. Seismometer sendiri adalah alat untuk mengukur atau merekam getaran gempa bumi terhadap kekuatan, lama, arah, dan jaraknya.
“Di luar Jawa hampir semuanya masih menggunakan seismograf tabung,” imbuh Triyono.
Sulitnya jaringan menjadi kendala menggunakan seismograf digital. Hampir seluruh pemantauan gunungapi di luar Jawa berpusat di kantor BPPTKG Bandung.
Namun seiring perkembangan jaman laporan secara berkala dilengkapi dengan foto dan gambar-gambar, sedangkan rangkuman pemantauan gunungapi ditulis dalam laporan triwulan berupa buletin atau jurnal.
“Di Pos ngepos ini semuanya digital,” kata Triyono. “Yang masih menggunakan seismograf tabung hanya ada di Pos Kaliurang.”

Pada tahun 1960-an pengamatan gunungapi mulai menggunakan seismometer elektromagnetik. Sinyal dari tranduser dikirim melalui kabel. Beberapa teknisi vulkanologi dapat membuat atau memperbaiki bagian amplifiernya yang menggunakan komponen utama berupa transistor.
Sesuai perkembangan teknologi, seismograf yang semula berupa mekanik berevolusi menjadi seismograf elektromagnetik.
Pengenalan seismograf elektromagnetik—terutama sistem telemetri yang digunakan pada dekade 1980-an—juga berfungsi sebagai seismograf mekanik, semakin meningkatkan kemampuan pemantauan terhadap aktivitas Merapi.
Pada umumnya untuk satu gunungapi terdapat satu atau lebih stasiun seismograf. Semakin banyak stasiun yang dipakai semakin tepat analisis seismik yang dihasilkan.
Untuk mendapatkan informasi kuantitif terhadap perkembangan kubah lava, pengambilan gambar terhadap gunung dilakukan secara reguler menggunakan kamera berlensa 1000mm. Foto diambil dalam keadaan cuaca cerah sesering mungkin.
Dengan membandingkan hasil foto-foto yang diambil dalam waktu berbeda dapat diketahui perkembangan kubah lava. Beberapa asumsi dapat dimasukkan untuk memperkirakan besarnya volume kubah lava.

Namun beberapa gunungapi selain di Indonesia dipantau menggunakan kamera video digital yang dioperasikan secara terus-menerus. Gambar dari video bahkan dapat diakses melalui komputer dan disimpan dalam hard-disk.
Dengan diperolehnya data gambar melalui akses video maka informasi tentang kejadian vulkanik seperti proses letusan dapat dikuti dengan baik. Tentu saja keadaan cuaca sangat mempengaruhi hasil yang diperoleh.
Suatu prototip perangkat pemantau video on-line pernah dioperasikan di puncak Gunung Merapi, tapi akibat gas vulkanik yang korosif, kamera video hancur karena ketahanan alat tidak dapat terjaga dengan baik.
Tahun 1982 mulai dipasang sistem telemetri untuk pemantauan seismik. Data seismik dikirimkan secara analog ke pos pengamatan melalui radio VHF. Bahkan hampir semua gunungapi di Indonesia menggunakan telemetri.
Belakangan teknologi telemetri semakin berkurang, karena posisi alat harus dekat dengan gunungapi, berganti menggunakan teknologi sinyal seismograf yang dapat dipancarkan hingga ratusan kilometer.
Pada umumnya gunungapi di Indonesia menggunakan seismograf telemetri berjenis Ps-2, MEQ-00 atau Teledyne.
Dengan menggunakan sinyal seismograf, pencatatan seismograf secara jarak jauh dapat dilakukan. Tidak perlu mendekat ke sumber gunungapi. Perkembangan teknik audio visual dan fotografi memudahkan pemantauan gunungapi.
“Meski listrik padam seismograf tetap jalan,” kata Triyono.
Semua terekam di BPPTKG Yogyakarta menggunakan power mandiri yang berkekuatan hidup selama 8 jam. “Alatnya mirip UPS.”
Meski seluruh gunungapi di Indonesia sebanyak 70% masih merupakan gunungapi aktif. Tingginya biaya operasioal menyebabkan beberapa pos pengamatan gunungapi di Indonesia masih melakukan pemantauan secara visual, dan baru menerapkan metode seismik. Sementara metode pemantauan lainnya belum diaplikasikan secara kontinu.

















