PALEMBANG, fornews.co – Dinas Perdagangan (Disdag) Provinsi Sumatra Selatan mengakui, harga jual daging ayam potong di pasaran masih relatif tinggi. Disdag sendiri menyebut penyebabnya adalah mata rantai distribusinya yang begitu panjang.
Plt Kepala Disdag Sumsel Yustianus mengatakan, dari peternak hingga sampai ke pembeli setidaknya ada enam sampai tujuh mata rantai distribusi yang harus dilewati. Inilah yang kemudian diduga menjadi pemicu harga daging ayam tak kunjung stabil, terlebih menjelang puasa hingga hari raya Idul Fitri.
“Tak bisa dimungkiri mata rantai distribusi daging ayam itu cukup sulit diputus, dari peternak, perusahaan ke broker, pedagang, kemudian ke pengecer baru ke konsumen. Lalu, antara supply dan demand juga tak seimbang, lebih banyak permintaan daripada pasokan,” kata Yustianus, Kamis (24/05).
Bersama tim Satuan Tugas (Satgas) pangan, Disdag pun hingga kini masih mencari solusi serta berkoordinasi ke peternakan agar harga daging ayam bisa kembali normal dan sesuai harga acuan yakni Rp33 ribu per kilogram.
“Normalnya itu kalau dijual kisaran Rp 35 ribu dan itu sudah sesuai perhitungan. Musim ini kondisi peternakan memang tak begitu bagus, tapi kami yakin harga akan turun nanti. Hari ini di beberapa pasar sudah mulai berangsur turun,” tuturnya.
Berdasarkan informasi yang didapat, Yustianus membeberkan, jika harga ayam di sejumlah pasar masih berkisar Rp40 sampai Rp47 ribu per kilogram. Kemudian konsumsi daging ayam di Sumsel berkisar 100 ribu kilogram per hari. Sementara itu, animo masyarakat terhadap daging ayam beku tidak begitu positif, karena kebiasaan masyarakat yang lebih menyukai daging ayam potong segar dibandingkan daging es.
“Iya memang, responsnya belum begitu bagus seperti laiknya daging kerbau beku. Orang Palembang lebih suka yang segar-segar,” tandasnya. (bas)

















