JAKARTA, fornews.co – Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan kenaikan harga beras yang terjadi belakangan ini akan memengaruhi pencapaian target tahunan (inflasi) yang ditetapkan sebesar 3,5%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Yunita Rusanti, mengatakan berdasarkan hasil pantauan BPS, hingga pekan kedua Januari harga beras terus naik hingga 3%. “Kenaikan ini sudah pada level mengkhawatirkan,” ujar Yunita di Jakarta, yang dilansir Anadolu Agency, Senin (15/01).
Menurut Yunita, bulan lalu bobot beras pada inflasi sekitar 3,8%. Artinya, jika ada kenaikan harga pada komoditas beras meski hanya sedikit, bisa berpengaruh besar pada inflasi. Diharapkan, pada pekan ketiga dan keempat bulan ini, pemerintah sudah bisa meredam lonjakan harga beras.
Meninggung keputusan impor beras yang diambil pemerintah, ia menilai sudah tetap untuk membantu ketersediaan barang. Langkah ini efektif, karena saat dilakukan operasi pasar dengan menggelontorkan beras ke berbagai pasar tradisional, harganya langsung turun.
“Pola ini sama dengan tahun sebelumnya, Desember-Januari itu mengalami kenaikan kurang lebih sama,” terangnya.
Sementara, Ketua Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras (Pepadi) Sutarto Alimoeso saat diskusi di Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) mengatakan, kenaikan harga beras ini terasa mulai September 2016.
Lanjutnya, kondisi ini sudah sesuai dengan pola panen di Indonesia yaitu, enam bulan surplus dan enam bulan minus. “Mulai Februari sebenarnya sudah surplus, September berkurang, dampak paling nyata Desember-Februari,” katanya, seraya menambahkan, keputusan mengimpor beras seharusnya diambil sejak Juli dengan dasar angka ramalan.
Ekonom Institute for Development Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengemukakan, inflasi Januari diprediksi cukup tinggi hingga 0,6%. Ini dipicu kenaikan harga kebutuhan pokok, khususnya beras.
“Jika rencana impor dilakukan dan tepat waktu, harga bisa turun, tapi sifatnya temporer dan kurang signifikan,” ucapnya.
Menurut Bhima, hingga saat ini, belum ada perhitungan pasti dampak impor beras terhadap stabilitas harga pangan.
Perhitungan kasarnya, kata Bhima, impor beras akan menurunkan inflasi hingga 0,05%, namun di sisi lain juga perlu dipertimbangkan inflasi bulan Februari-Maret ketika panen raya.
“Sangat mungkin inflasi di Februari-Maret bisa berbalik menjadi deflasi bahan pangan dan berpotensi memukul daya beli petani,” tandasnya. (AA)

















