PALEMBANG, fornews.co – Kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Sumatra Selatan pada 2019 mengalami pertumbuhan. Namun dibalik pertumbuhan tersebut, rasio kredit bermasalah (non performing loan) masih di atas ambang batas.
Dari data yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Regional 7 Sumatra Bagian Selatan pada Media Information Sharing, Selasa (10/12), hingga Oktober 2019 kredit UMKM di Sumsel tumbuh 5,38%. Jumlah kredit yang disalurkan mencapai Rp27 triliun. Pertumbuhan kredit UMKM Sumsel ini berada di bawah Nasional sebesar 9,46% dengan penyaluran sebesar Rp1.102,24 triliun. Sedangkan untuk NPL, Sumsel yang mencatatkan 5,39% berada di atas Nasional yang sebesar 3,93%.
“NPL UMKM tinggi karena memang sektor ini sangat dipengaruhi harga komoditas. Kita tahu kelapa sawit, karet, harganya belum stabil,” ujar Deputi Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Regional Sumatra Bagian Selatan Mochammad Subandi di Gedung OJK KR 7 Sumbagsel, Selasa (10/12).
Subandi menerangkan, secara umum rasio NPL di Sumsel masih cukup aman di angka 3,53% dengan loan to deposit (LDR) sebesar 96,43%. Adapun total kredit/pembiayaan perbankan di Sumsel per Oktober 2019 mencapai Rp84,5 triliun.
“Kredit/pembiayaan tersebut tumbuh 5,21% dengan market shared sebesar 1,50%,” tukasnya. (ije)

















