YOGYAKARTA, fornews.co–Adenium merupakan salah satu kekayaan flora di Indonesia.
Tanaman ini dikenal sebagai tanaman hias yang hidup di padang pasir. Penghobi Adenium menyebut Mawar Gurun.
Bunga, batang, dan bahkan akarnya yang dapat dikreasi unik bergaya bonsai ini kembali diburu pecinta tanaman hias.
Kini Adenium mulai naik daun meski di tengah pandemi virus corona.
Yoyok (55) pemilik ratusan jenis Mawar Gurun di Yogyakarta, mengaku kaget jika Adenium kembali naik daun.
“Setahu saya pembuat Adenium tidak berubah, selalu ada pembeli, pedagang dan penghobinya,” katanya.
Ia malah tidak tahu jika Adenium kini diburu banyak pembeli.
Salah satu koleksi Adeniumnya pernah laku jutaan rupiah. Tanaman hias gurunnya dibeli penggemar Adenium.
“Mungkin sebelum tahun 2010 salah satu koleksi saya dibeli orang Surabaya,” kata Yoyok, Sabtu.
Salah satu penghobi Adenium yang masih melakukan pembibitan dan penyemaian tanaman gurun itu juga kerap mengikuti kontes Adenium di Indonesia.
Pernah menang kontes juara tiga di Bekasi, dan kembali juara dua ikut kontes di Jogja pada tahun 2010-2011.
Di rumahnya, di kampung Terban, Kelurahan Terban, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, ratusan jenis Adenium ditata rapi di lantai paling atas.
“Saya sudah 14 tahun menekuni seni Adenium,” katanya.
Namun ia tidak mutlak menjual Adeniumnya ke pembeli karena banyak tanaman yang masih ingin dijadikan koleksi pribadi.
Tanaman hias Adenium jenis Thai soco, Arabicum, Somalence, dan Obesum, paling sering ditemui di Yogyakarta.
Triyono Santoso (35), warga Ngemplak, Karangjati, Mlati, Sleman, DIY, mengakui empat jenis tanaman hias Adenium paling banyak ditemui di Yogyakarta.
“Tapi ada juga di Gersik, Jawa Timur,” katanya, “kalau di sana imbang ada penjual dan penghobi.”
Namun Tri juga mengakui banyak penghobi yang menjual sebagian koleksinya kepada pembeli.
Ia sendiri masih sering mengirim Adenium pesanan dari luar Jawa, kecuali Irian Jaya.
Meski di tengah pandemi, pesanan bibit Adenium dari luar Jawa terus mengalir.
Pembeli dan pemesan kebanyakan minta dikirim bibit jenis Thai Soco dan Arabicum. Per bibit rata-rata dibandrol 100-500 ribu rupiah.
Kepada fornews.co Tri mengatakan, meski semula semua jenis Adenium dikuasai oleh penghobi dari Thailand, namun sekarang justru banyak di IndonesIa.
“Hampir merata dari Sabang sampai Merauke,” katanya.
Proses perawatan tanaman Adenium, Yoyok maupun Triyono, menggunakan pupuk jenis Dekastar 500gr, NPK, POC.
Deretan nama seperti Nuki, Coan Irawan, Suroso, Fredy, Yoyok, dan Pramu Lilik, tidak asing di dunia Adenium. Koleksi Mawar Gurunnya laku puluhan juta rupiah. (adam)
















