Penulis : AS Adam
SELAMA tiga hari berturut-turut pegiat peduli lingkungan di Jogja menanam belasan pohon di Kasongan, Tirto, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, yang sudah berlangsung sejak Kamis (10/1/2019), dan hari ini yang terakhir.
Berbagai bibit yang ditanam adalah jenis pohon buah seperti pepaya, kelapa, dan jeruk. Bibit-bibit tersebut merupakan sumbangan dari sejumlah institusi, lembaga dan personal.
Andy Alyson (67 tahun) pegiat sosial dan lingkungan adalah penggagas kegiatan penanaman bibit pohon ini. Tidak banyak yang tahu terhadap kegiatan kepedulian sosial dan lingkungan yang dia lakukan.
Hampir pada setiap peringatan hari penting yang terkait dengan sosial dan lingkungan, Andy tidak pernah melewatkannya. Hari Gerakan Satu Juta Pohon yang diperingati setiap tanggal 10 Januari, misalnya. Ia tergerak sebagaimana kebanyakan rakyat Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Andy sengaja tidak membuat pengumuman, dan hanya mengajak melalui chat kepada orang-orang yang dikenalnya, beberapa di antaranya adalah seniman yang pernah bekerja bareng dengannya.
“Bukan lembaga, organisasi atau institusi, hanya pribadi,” jelasnya.


Di tanah seluas 1000 meter persegi sebelumnya merupakan alas penuh pohon-pohon besar yang semula disewa oleh seorang pelukis Nasirun. Sekarang tempat yang masih terlihat alami itu dibangun pondokan bergaya Jawa. Andy menyewakannya khusus kepada mahasiswa Dharma ISI asal luar negeri. Sebulan dikenai biaya 850 ribu rupiah.
Andy mengaku tidak melulu mencari uang, bisa membantu orang adalah caranya mendapatkan teman sebanyak-banyaknya. Terbukti banyak wisatawan asing maupun domestik yang mencarinya. Di tempat tinggalnya di Bugisan, beberapa kilometer di sebelah utara Kasongan, ia juga menyewakan homestay. Menariknya, siapapun yang tinggal di tempat Andy mereka ingin terlibat langsung dalam kegiatan sosial dan lingkungan.
Roman (34 tahun) dan Johanka (26 tahun) warga kebangsaan Republik Ceko, sebuah negara yang sebelumnya bernama Cekoslovakia, sudah tiga bulan tinggal di Yogyakarta. Mereka sedang menyelesaikan kuliahnya Fakultas Seni Rupa ISI. Bisa tinggal di rumah kayu buatan Andy sangat beruntung. Mereka mendapat kesempatan menanam pohonnya sendiri.

Menjelang sore Johanka mencangkul tanah membuat lubang sedalam kurang lebih 25cm. Ia menanam bibit pohon kelapa. Seniman Untung Basuki lantas memberi nama pohon itu Johanka. “Terima kasih…” ucapnya.
Sebuah bibit pohon jeruk nipis ditanam dekat salah satu pondokan yang ditempati Roman. Pohon itu bernama Auba, yang tidak lain kependekan dari Aloysius Untung Basuki.

“Karena yang menanam adalah saya, pohon ini saya beri nama Auba,” ucap A Untung Basuki, seniman Sanggarbambu yang pernah bergabung dengan WS Rendra di Bengkel Teater.
Tenaganya yang tidak sekuat masa muda, perjalanan hidupnya yang sudah hampir 70 tahun, semangat dan dedikasinya tidak pernah padam. Namun saat mencangkul membuat lubang untuk bibit pohon yang bakal ditanamnya, Untung Basuki sempat berseloroh membandingkan dirinya dengan pejabat.
“Kalau pejabat cukup sekali cangkul selanjutnya diteruskan tukang,” katanya sambil mencangkul terengah-engah.
Selesai menamam, di seputar pohon Auba, seniman yang pernah dekat dengan kelompok Swami itu menyusun pecahan genteng sebagai pembatas dengan maksud agar bibit pohon jeruk tetap aman.

“Ini cerdas, dan hasilnya sangat cantik,” ucap Johanka kagum melihat hasil kerja Untung Basuki.
Sekitar 5 meter dari pohon bernama Auba, di sebelah selatannya, penulis mendapat kehormatan menanam satu bibit pohon pepaya pemberian Bumi Langit Institut. Pohon itu oleh Untung Basuki lantas diberi nama pohon Griwo.
Tempatnya yang berdekatan dengan sungai masih dapat ditemui berbagai jenis binatang melata. Roman pernah dilewati seekor ular besar. Ia justru membiarkan ular itu melintas di atas kakinya, dan Roman sangat senang bisa tinggal Kasongan.

















