JOGJA, fornews.co — Presiden Republik Indonesia bertanya kepada Presiden Federal Sosialis Yugoslavia tentang warisan apa yang akan ditinggalkan setelah meninggal nanti.
Presiden Yugoslavia menjawab telah menyiapkan tentara, pasukan, dan prajurit terlatih dalam jumlah besar.
Lalu, Presiden Yugoslavia bertanya balik kepada Presiden Indonesia tentang warisan apa yang akan ditinggalkan kepada bangsa dan negaranya.
Presiden Indonesia menjawab sederhana hanya meninggalkan Way of Life sebagai pedoman hidup bangsa Indonesia.
Dialog Soekarno dan Josip Broz Tito yang diceritakan Soetardjo Soerjoguritno masih teringat jelas oleh muridnya, Drs. H.M. Idham Samawi.
Idham mengaku tidak pernah lupa dengan yang disampaikan almarhum tentang dialog dua kepala negara tersebut.
“Almarhum Soetardjo Soerjoguritno adalah guru saya terutama di bidang kebangsaan dan kenegaraan,” kata politikus PDI Perjuangan mantan Bupati Bantul periode 1999-2004 dan 2005-2010.
Sejumlah tokoh masyarakat Daerah Istimewa Jogjakarta menghadiri Haul Haji Soetardjo Soerjoguritno atau lebih dikenal dengan Mbah Tardjo.
Haul Mbah Tardjo yang ke-15 berlangsung khidmat di Joglo Soerjoguritnan pada Jum’at malam, 8 Agustus 2025.
Idham juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada keluarga almarhum yang tetap melaksanakan haul guna mendoakan almarhum diberikan tempat terbaik di sisi Allaah Subhanahu wa Ta’ala.
Menantu almarhum Mbah Tardjo, Stevie S.W, menyampaikan pesan ayah mertuanya untuk tidak terjebak dengan perbedaan suku dan bahasa.
Bahkan dirinya menegaskan bahwa amanah persatuan menjadi warisan paling berharga dari sang ayah.
“Ayah selalu berkata kepada kami, persatuan itu harga mati. Jangan pernah terjebak pada perbedaan suku, bahasa, atau daerah,” ucapnya sebagai tuan rumah sohibul hajat.
Stevie berharap Haul Mbah Tardjo bukan hanya sekadar ajang mengenang, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat komitmen kebangsaan.
Ia berpesan kepada generasi muda untuk lebih memahami apa arti menjaga NKRI.
“Menjaga NKRI bukan hanya menjadi tugas tentara, namun, menjadi kewajiban bagi seluruh rakyat Indonesia,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, meski terlambat hadir, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengungkapkan kekagumannya terhadap Mbah Tardjo.
Kata Hasto, Soetardjo Soerjoguritno yang lebih akrab disapa Mbah Tarjo selalu disebut-sebut sebagai pejuang rakyat kecil hingga akhir hayat.
“Saya tidak sempat membersamai beliau karena selisih usia. Beliau sudah melanglang luar biasa, mungkin saya itu baru lahirlah. Saya banyak membaca dan mengamati, maka kami termasuk yang sangat mengagumi Mbah Tardjo,” ungkapnya.
Ia meyakini semua jasa almarhum akan menjadi amal jariyah yang tidak putus-putusnya.
Hasto menekankan, silaturahmi dan doa bersama menjadi cara terbaik untuk membalas kebaikan orang yang telah tiada.
“Kalau ingin memberi kepada yang masih hidup, kita bisa mengantar macam-macam. Tapi untuk beliau yang sudah meninggalkan kita, kita mendoakan dalam sholat dan berkumpul seperti ini,” katanya.
Hasto bahkan menyampaikan menjadi pemimpin seperti Soetardjo Soerjoguritno atau Mbah Tardjo itu tidak mudah.
Ia lantas mengutip pesan dan nasihat dari Sunan Kalijaga yang intinya tidak mudah mencari pemimpin yang sempurna.
“Yen arep dadi pemimpin sing hebat, sing sampurna, pada karo nggoleka tengu sing gedene sak wungkal. Terus bungkusen ganggo godong asem. Terus sindikana nganggo alu,” ucap Hasto mengutip pesan Sunan Kalijaga dalam Bahasa Jawa.
Pesan itu selaras dengan peringatan almarhum agar mewaspadai ancaman perpecahan, mengingat NKRI terbentuk dari penyatuan lebih dari seratus kerajaan besar seperti Sriwijaya, Majapahit, Demak, Pajang, dan Mataram.
Ketua DPD Forader DIY, Bayu, bersama Stevie yang turut memandu acara, menyebut Mbah Tardjo sebagai sosok legendaris di kalangan PDI dan PDI Perjuangan.
“Beliau guru bangsa, guru politik, dan panutan kami,” ujar Bayu.
Joglo Soerjoguritnan yang menjadi tempat berlangsungnya haul, imbuhnya, bukan hanya menjadi saksi sejarah perjalanan politik almarhum, tetapi juga pusat pembelajaran tokoh nasional, termasuk Megawati Soekarno Putri.
Acara yang dihadiri sekitar 200 undangan dari 15 formas, tokoh masyarakat, pondok pesantren, dan sahabat almarhum ini menjadi ajang memperkuat nilai kepemimpinan nyawiji, ngayomi, migunani yang telah diwariskan Mbah Tardjo, sekaligus mengobarkan kembali semangat persatuan bangsa.
















