Oleh: redaksi
Awaludin diusianya menginjak usia kepala lima, merupakan satu dari 400 lebih warga binaan yang mendekam Rumah Tahanan (Rutan) Baturaja, Ogan Komering Ulu (OKU), guna mempertanggungjawabkan perbuatannya melawan hukum.
Ia mendekam di Rutan Baturaja, setelah palu hakim Pengadilan Negeri Baturaha, memutusnya bersalah dan memvonisnya
5,6 tahun sibsider 3 bulan penjara dan sudah dijalaninya 4 tahun setengah. Bahkan, dalam waktu dekat (awal tahun 2018) ini, Awaludin akan menghirup udara segara dan dapat berkumpul kembali dengan keluarganya.
Benda haram (narkotika) telah memisahkannya dengan keluargannya, saudara, kerabat dan sahabat atau orang dekatnya. Hanya sesekali saja dari orang terdekatnya, datang menjenguknya dan itu dibatasi. Semua serba dibatasi.
Selama menjalani hari-harinya di balik jeruji, ia merasakan admosfir religi begitu dekat. Banyak perubahan dialami, yang membawanya lebih dekat kepada Sang Pencipta (Allah SWT), dengan menunaikan ritual keagamaan. Selamat di Rutan, ia dapat menunaikan salat lima waktu, yang sebelumnya sangat jarang atau hampir tidak pernah ditunaikannya rukun Islam kedua tersebut.
Begitu juga puasa di bulan Ramadan. Bahkan, saat ini dirinya juga menunaikan ibadah sunnah (puasa senin-kamis) serta ibadah sunnah lainnya. Begitu besar (Hidayah) yang membawanya ke arah jauh lebih baik.
“(Alhamdulillah), banyak sekali perubahan yang saya alami selama di sini (Rutan Baturaja). Seperti salat, serta berpuasa wajib maupun sunah pada saat saya di luar sebelum masuk menjadi wargabinaan rutan baturaja sholat pun jarang malah hampir tidak pernah,” tutur warga Baturaja, tersebut yang dibincangi dari balik jeruji besi, Sabtu (20/01).
Ia mengakui, justru dari Rutan inilah ini mulai mengerti tentang agama dan mengikrarkan diri tidak akan mendekati lagi yang namanya narkoba dan bentuk kejahatan yang dilarang agama juga negara.
“Saya sudah berjanji kepada diri saya, saya akan bertaubat dan tidak akan melakukan pelanggaran hukum lagi,” ucapnya.
Awaludin juga menceritakan, kesan (horor) penjara yang terstigma pada masyarakat, ternyata hal itu tidak seperti yang dibayangkan. Menurutnya, warga binaan mendapat pendidikan agama (kerohanian), keterampilan dan lainnya dan ini mendorong perubahan karakter bagi warga binaan.
“Mungkin yang selama ini penjara di mata kawan-kawan di luar sana seram, tapi ternyata semua itu tidak benar. Bahkan, di dalam Rutan ini, pembinaan keagamaan dan kerohanianian berjalan dengan baik. Semua warga binaan menjalankan ibahnya dengan baik pula,” bebernya.
Kendati demikian, ia menitip pesan kepada keluarga, teman dan masyarakat OKU, jangan melakukan pelanggaran hukum. “Karena membuat susah anak istri serta kita,” ujarnya.
Kepala Rutan Baturaja, Herdianto menyampaikan, kepribadian Awaludin memang paling tekun menjalankan ibadah serta kegiatan yang diberikan di dalam Rutan.
Menurutnya, pembinaan terhadap orang yang tersandung kasus hukum, dilakukannya dengan pendekatan agama. Selain itu, pihaknya juga memberikan pelatihan skil yang bertujuan, agar selama di Rutan, mereka selalu mengisi dengan kegiatan positif dan kelak bisa diterapkan begitu masa tahanan atau penjaranya selesai.
“Kita tidak boleh memandang sebelah mata terhadap mereka. Kita harus mensupport sehingga dapat menjalani hidupnya dan berbaur dengan masyarakat secara baik. Yang terpenting, tidak lagi mengulangi perbuatannya. Hukuman yang sudah dijalani bisa menjadikan mereka insan jauh lebih baik dan bermartabat,” katanya penuh harap. (*)

















