SEKAYU, fornews.co – Pemkab Musi Banyuasin terus mempersiapkan dan mendorong petani sawit di Muba untuk membangun pabrik industrial vegetable oil (IVO) dan crude palm oil (CPO). Stand alone mini refinery yang memproduksi IVO hingga menghasilkan biohidrokarbon dijadwalkan groundbreaking pada awal tahun 2021.
Sebelum memiliki pabrik sendiri, IVO asal Muba masih disuplai ke Pertamina. Skema jangka panjangnya pada 2024 pabrik IVO Muba sudah bisa menghasilkan biohidrokarbon atau langsung menjadi bahan bakar sendiri seperti bensin sawit, Delta 100 (D100) hingga avtur dengan kualitas masing-masing lebih tinggi dari bahan bakar biofosil. Biohidrokarbon berbasis kelapa sawit ini ramah lingkungan serta menjadi energi baru terbarukan.
Bupati Muba Dodi Reza Alex mengatakan, ini merupakan upaya hilirisasi kelapa sawit yang mampu menyerap produksi sawit petani dengan harga bersaing. Menurut Dodi, meningkatkan kuantitas produksi dan kualitas produksi harus diimbangi dengan penyerapan hasil produksi. Selain itu petani tidak hanya menjual tandan buah segar (TBS) saja namun dapat nilai tambah dari penjualan pengolahan pabrik IVO maupun CPO.
“Goal-nya, pekebun sawit dapat memproduksi sendiri bahan bakar berbasis kelapa sawit. Pekebun punya penghasilan tambahan. Akhirnya kita bersama-sama menjadikan pekebun yang berdaulat, pekebun yang mandiri dan berdaulat yang dapat berdiri di kaki sendiri. Satu lagi, yakni terwujudnya pekebun sawit Muba yang berkelanjutan (sustainable). Stand alone mini refinery dari IVO jadi bensin akan didirikan di Muba. Jadi kilang dekat dengan bahan baku (IVO),” ujar Dodi, Minggu (15/11).
Saat ini tim yang terdiri dari Dinas Perkebunan Muba, ahli ITB dan BSS sedang fokus agar unit pengolah IVO ini berjalan dengan lancar. Adapun produk IVO/Industrial Lauretic Oil (IVO/ILO) yang dikerjakan di Muba ini spesifikasinya memenuhi technical requirement katalis merah putih dengan biaya produksi lebih ekonomis. Menurut salah satu tim ITB yang saat ini bekerja di lapangan katalis di Sungai Lilin, mengatakan produk akhir nantinya akan disesuaikan dgn SNI untuk produk IVO/ILO sebagai bahan baku industri greenfuel dengan kode SNI 8875:2020 minyak nabati untuk produksi biohidrokarbon.
Dodi meyakini pendirian stand alone mini refinery harus berada dalam satu entitas perkebunan sawit akan memastikan adanya kecukupan suplai baik dari kualitas maupun kuantitas.
Plt Kepala Dinas Perkebunan Muba, Akhmad Toyibir menyebutkan, saat ini lahan pekebun kelapa sawit yang siap menyuplai produksi IVO ada 12.388 hektare dengan jumlah pekebun 5.311 orang.
“Dan sampai tahun 2024 lahan pekebun akan bertambah mencapai 52.000 hektare dengan jumlah pekebun mencapai 24.000 pekebun swadaya,” jelas Toyibir, Minggu (15/11).
Toyibir menerangkan, sesuai target Bupati Muba Dodi Reza Alex, Muba jadi yang pertama di Indonesia melaksanakan kemitraan hilirisasi pabrik sawit antara pekebun, BUMD dan koperasi. Saat ini Ditjen Perkebunan, kata Toyibir, sangat antusias dengan model kemitraaan ini. Lembaga ini akan menerapkan konsep kemitraan pendirian pabrik seperti yang ada di Muba dengan menggandeng seluruh petani swadaya hasil program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Di Muba sendiri, kelembagaan pekebun koperasi sekunder yang terdiri dari gabungan petani primer telah melakukan kesepakatan dengan investor.
“Kemitraaan ini mendudukkan pekebun sawit rakyat sebagai pemilik saham. Intinya petani tidak mengeluarkan modal dan dalam jangka waktu tertentu justru punya aset. Inilah langkah konkret Bupati Dodi Reza Alex yakni menuju petani Muba yang berdaulat. Pekebun akan duduk sebagai bagian manajemen perusahaan gabungan tersebut,” terangnya.
Kepastian masa depan usaha ini, menurut Toyibir, juga diminati investor karena terjaminnya supply chain secara kualitas dan kuantitas.
“Disebutkan KOIN sawit lestari memiliki jumlah kebun 4.446 hektare hasil PSR tahun 2017. Dan kita fokus ke petani yang ikut PSR. Di tahun mendatang petani yang belum ikut PSR kita ajak. Saat ini 2020 sudah mencapai lima ribu lebih,” katanya.
Terpisah, Kepala Bappeda Muba Iskandar Syahrianto menyebutkan, pembahasan mengenai keberlangsungan supply chain berbasis sawit rakyat saat ini terus dilakukan bersama pihak EBTKE termasuk DMO.
“Prosesnya terus berjalan dan saat ini pola kemitraan secara kelembagaan/entitas yang disepakati sudah terbentuk (minggu lalu). Sedangkan katalis akan dikembangkan antara ITB dan ESDM dan Pupuk Kujang (JV). Kita di Muba fokus pada bahan baku yaitu IVO,” jelas Iskandar. (ije)

















