JAKARTA, fornews.co- Komisi Pemilihan Umum (KPU) memulai proses pencetakan perdana logistik surat suara Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 secara resmi dan serentak di Provinsi Jakarta, Jawa Timur (Jatim), serta Sulawesi Selatan (Sulsel).
“Penting bagi masyarakat mengetahui informasi terkait dimulainya proses produksi surat suara ini, agar terhindar dari berita bohong (hoaks). Apalagi sebelumnya sempat beredar hoaks terkait surat suara yang dikhawatirkan menggerus kepercayaan masyarakat kepada penyelenggara,” ungkap Komisioner KPU RI, Ilham Saputra, saat memantau proses produksi perdana di PT Gramedia, di Jalan Palmerah Selatan, Jakarta, Minggu (20/01), seperti dikutip dari setkab.go.id.
Ilham Saputra yang didampingi Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Fritz Edward Siregar, Anggota Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Alfitra Salam serta Direktur Politeknik Media Kreatif Purnomo Ananto memantau langsung proses produksi perdana yang dilaksanakan di dua konsorsium, PT Gramedia, di Jalan Palmerah Selatan, Jakarta, serta PT Aksara Grafika Pratama di Cakung, Jakarta Timur.
Di kedua tempat tersebut, Ilham Saputra berkesempatan menekan tombol tanda dimulainya proses produksi surat suara. Rombongan selanjutnya berkesempatan untuk melihat proses pencetakan surat suara juga melakukan proses kontrol kualitas (quality control) atas hasil cetak yang telah dilakukan.
Dengan pencetakan perdana surat suara itu, Ilham menepis tudingan adanya surat suara yang diproduksi diluar negeri, bahkan sudah tercoblos. “Saya tegaskan seluruh surat suara dicetak di dalam negeri,” tegasnya.
Ilham berharap, kesadaran masyarakat akan proses awal produksi surat suara juga membuat proses produksi bisa terawasi secara bersama, apalagi bersama diketahui produksi surat suara sendiri dibatasi hanya selama 60 hari. “Saya kira dengan kapasitas yang dimiliki oleh perusahaan percetakan, kami optimis percetakan selama 60 hari bisa sesuai target,” ujarnya.
PT Gramedia Jakarta yang pertama dikunjungi merupakan satu dari enam konsorsium yang bertugas mencetak surat suara pemilu 2019. Dari konsorsium yang terdiri dari 9 perusahaan ini, total surat suara yang dicetak sejumlah 292.019.984 lembar (31,07 persen) dan diperuntukkan untuk Provinsi Aceh, Sumatra Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat serta Sulawesi Selatan. “Nilai kontraknya Rp193.635.812.200 atau 32,09 persen dari total nilai kontrak,” jelas Ilham.
Adapun untuk konsorsium kedua PT Aksara Grafika Pratama jumlah surat suara yang diproduksi mencapai 68.176.374 lembar (7,25 persen), dan diperuntukkan untuk surat suara pemilu di Provinsi Banten serta Lampung. Dengan nilai kontrak Rp36.939.634.064 atau 6,12 persen dari total nilai kontrak.
“Total keseluruhan surat suara yang diproduksi untuk kebutuhan Pemilu 2019 mencapai 939.879.651 lembar. Kalau sama-sama kita lihat, tadi surat suara yang diproduksi ada sampel yang diambil untuk dicek apakah sudah memenuhi klasifikasi yang tertuang dalam kontrak. Jadi gambar, warna harus sesuai,” urainya.
Anggota Bawaslu RI, Fritz Edward Siregar, memastikan proses pengawasan melekat akan dilakukan Bawaslu di setiap perusahaan percetakan yang memproduksi surat suara Pemilu 2019. Pengawasan dilakukan baik dalam bentuk kualitas hasil cetak maupun jumlah. “Pengawasan dalam produksi seperti itu, karena satu suara pun tidak boleh lebih keluar dari setiap perusahaan percetakan,” katanya.
Sementara, Anggota DKPP, Alfitra Salam menuturkan, bahwa pihaknya turut serta memantau proses produksi perdana surat suara Pemilu 2019, guna memastikan bahwa kegiatan yang dilakukan oleh KPU benar telah berjalan.
“Sebagai lembaga pengawas penyelenggara pemilu, kita hanya menerima laporan apabila ada etik yang dilanggar oleh KPU maupun Bawaslu. Nah dengan ini, kita sama-sama melihat bahwa proses produksi sudah benar dilakukan,” tandasnya. (tul)

















