BacaJuga

PALEMBANG-Untuk kali pertama di kompetisi Indonesia Soccer Championship (ISC), publik sepakbola Sumsel terdiam saat Sriwijaya FC (SFC) tampil di Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring, Minggu (2/10) sore. Menjamu Persebaya Bhayangkara United, Laskar Wong Kito justru remuk redam dibantai 0-4.
Empat gol yang dilesakkan Otavio Dutra menit 36, Thiago menit 66, Evan Dimas menit 85 dan Hargianto menit 90, menjadi tanya besar, apa yang sebenarnya terjadi dalam tubuh SFC. Karena, akibat dari permainan apik Bhayangkara, membuat rekor SFC tak pernah kalah dikandang langsung terhenti.
Namun selama 90 menit berjalan, memang empat pemain belakang Bhayangkara cukup disiplin mengantisipasi semua serangan SFC yang dikembangkan Hilton Moreira, Alberto Gonzalves, TA Musafri dan Airlangga Sucipto. Berbeda dengan gelandang dan pemain belakang SFC, yang kerap ikut membantu serangan, namun sering telat menutup celah pertahanan.
“SFC mengakui kekalahan atas Bhayangkara FC. Inilah sepakbola, tidak ada yang tidak mungkin. Kami
pernah mengalahkan tim lawan di tandang dengan skor telak, saat ini juga terjadi dengan kami. Artinya tidak ada tim yang paling jago,” ungkap Pelatih Kepala SFC Widodo Cahyono Putro usai pertandingan.
Widodo menjelaskan, bahwa ada kekhawatiran sebelum kick off, lantaran dua gelandang SFC Firman Utina dan Yu Hyun Koo absen. “Tapi sebagai pelatih saya tidak bisa bilang itu ke media, saya harus tetap optimis, meskipun sebenarnya saya juga khawatir,” jelasnya.
Dampak dari keterbatasan stok pemain tengah itulah, disinyalir menjadi sebab kurangnya daya dobrak SFC. Termasuk, ditarik keluarnya Ichsan Kurniawan di pertengahan babak pertama akibat cidera dan membuat tim goyah.
Kondisi berbeda terpancar di wajah gembira Pelatih Bhayangkara FC Ibnu Graham. Dengan sangat senang, dia mengatakan, kemenangan besar timnya berkat kerja keras pemain, offisial dan manajemen. “Pemain bisa memanfaatkan peluang-peluang menjadi gol. Bermain lebih sabar menunggu di daerah sendiri
dan melakukan counter attack, ” katanya.
Ibnu menuturkan, memang secara kualitas tim, SFC lebih baik secara head to head dan lebih berpengalaman. Namun mereka tetap bisa bermain kompak dan menang. “Kalau untuk perubahan kaustim, itu bukan urusan pelatih, namun manajemen. Pelatih hanya mempersiapkan pemain di lapangan. Kalaupun ada hal tak berkenan kami mewakili manajemen meminta maaf yang sebenarnya,” tandasnya.(tul)

















