YOGYA, fornews.co – Sejarah seni rupa di Indonesia tak lepas dari peran lembaga pendidikan seni di Yogyakarta sehingga diakui secara internasional.
Setelah aktivitas seni di Indonesia lumpuh oleh Covid-19, Yogyakarta terlebih dahulu bangkit dengan berbagai kegiatan seni, salah satunya pameran seni rupa.
Ikatan Alumni Sekolah Seni Rupa Indonesia (IKASSRI) kembali menggelar Pameran Seni Rupa bertajuk “Soul For The Fine Arts” di Pendapa Art Space, Yogya.
Pameran yang digelar tanggal 13 hingga 20 Mei 2023 itu memamerkan puluhan lukisan dari seniman Indonesia.
Penyelenggara pameran menyebut pameran yang gelar IKASSRI kali ke-6 itu untuk mendorong kemajuan lembaga pendidikan seni dan budaya.
“Ini sekaligus dalam rangka mendukung pelaksanaan kegiatan IKASSRI dalam memajukan pendidikan seni dan budaya,” salah satu panitia kepada fornews.co, Ahad.
IKASSRI merupakan wadah bagi para alumni SSRI, SMSR, dan SMKN 3 Kasihan, Bantul, DIY.
Pameran yang digelar dalam suasana lebaran itu menjadi peristiwa pertemuan yang langka karena dihadiri oleh seniman Indonesia.
Kisah raksasa berbadan merah muda yang digambarkan Subandi Giyanto dalam “Nirmala” adalah pertunjukan wayang satu babak panjang tentang hubungan antarmahluk.
Mengamati lukisan bergaya wayang milik Subandi lebih dalam ada pesan yang tersirat tentang kedamaian. Barangkali tidak disadari oleh banyak pengunjung.
Pada lukisan itu terdapat sejumlah binatang bercorak warna dengan percampuran ornamen sehingga terjadi akulturasi identitas budaya kuno di era awal masehi.
Sosok raksasa yang digambarkan Subandi terkesan mirip Banaspati yaitu sosok dedemit yang ditakuti oleh manusia.
Menariknya, sosok dedemit dan manusia dalam lukisan itu justru tampak sedang berdialog dan bukan saling bersiap perang meski dari keduanya menyelipkan keris di pinggang.
Mereka seperti sedang membicarakan tentang kerusakan alam disebabkan keserakahan manusia yang berkelindan.
Semua binatang dalam lukisan itu mengadukan kegelisahannya kepada satu manusia karena merasa terancam.
Jika lukisan Subandi ditafsirkan sebagai potret keberingasan manusia yang melebihi binatang mungkin ada benarnya.
Dalam lukisan itu seperti menggambarkan kebakaran hutan yang disengaja sehingga mengakibatkan masalah besar menyebabkan kerugian besar.
Mereka meminta bantuan kepada satu manusia untuk menyampaikan penegakan keadilan kepada para ampu kerajaan mengatasi kebakaran yang semakin parah.
keadilan bukan hanya menguntungkan manusia tetapi juga termasuk keberadaan hutan beserta penghuninya.
Demikian lukisan Ledek Sukadi dalam “Cerita tanpa Cerita” sosok seseorang mengenakan pakaian berkain lurik melepas burung dari sangkar.
Dalam berbagai literasi burung kerap dijadikan sebagai simbol perdamaian. Namun, tidak sedikit yang menjadikan burung sebagai simbol perdamaian justru melulu mengobarkan perang.
Pameran yang berlangsung sepekan itu menampilkan karya Watiyo Indrawan, Budi Utomo, Drs Agus Supartomo, Mahroji Hery Maizul, Sutrisna, Gunadi Brengos, Herman “GusHer” Widianto, Haryo sas, B. Susyanto Mulyo, Ign. Yoedi, Gunawan JPB, Akbar Linggaprana dan Anang Asmara.
Selain itu juga ada Wiwid Wijayanto, Sumadi Etnik Jawa, Y. Sigit Supradah, Tumariyanto, Bekti Istawayah, Ruhiman ZF, Mhaz Yanta/Suyanta, Quirinus Prasmuno R, Suranto (Ipong), Haryoko, Karte Wardaya, Aslam Tabah Kurnia Wardaya, Arif Suharson, Gunadi, Nanang Widjaya, Probo Daryanto.
Bahkan ada perupa seperti Klowor, Bjarifin, Haryanto Hary, R. Abbas Jasa, SuBandi, Surajiya, Ki Minto, Purjiyanto Nur Hidayat, Vincensius Dwimawan, Wiyadi, Rubingan, Wahyu Prasetyo, Johnny Gustaaf Siahaya, Danu Pradipta, Usman Harun Daramawan, Dunadi, Agnes Dancer, Joko Mawardi, Evrie Irmasari, Watie Respati, Alb. Antoro, Beda Sudiman, Oko Supriyadi, Juwono, Joanmiroe dan Ida Hadjar.
Perupa lain juga terlibat ada Debora, Suyatmin, Sigit Handari Wibowo, Alie Gopal, Bodhy Trisyanto, Nadia Diandra, Alip Guno Wijoyo, Tidhar Alam Bara, Probowulandari, Samino, Kemal Suhaya, Suraji, Dwi Haryanta, Drs. Subroto, M.Hum, Bambang Nugroho, Suryadi, Djusi Jamri, Buwo Purwadi, Ismarsudiyono, Abdul Haris, dan Ahmad Supono Pr.
Selanjutnya Arif Budi Santoso, Ashari, Achid Librianto AP, Wiwiek Poengki, Edi Jadmiko, Deden FG, Fiky Famawanto, Budi Pracaya, Arka Slamet Santoso, Djumadi, Sihono, Yakobus Mego Suryo, Rakhmat Supriyono, Yosi Ch, HOCK, Picuk Asmara, Aji Sumakno F, R. ASRI HW/NINO, Godek Mintorogo, Subandi Giyanto, Siswanti, Sidiq Kurniawan, Harman, Nawa Mulia Sabuwana, Ledek Sukadi, Jumaldi Alfi, Heru ” Londo” Uthantoro, Dadah Subagja, Arya Sukma, Endang Apriyanto, Eni Windarti. (adam)

















