JAKARTA, fornews.co — Indonesia menekankan bahwa hutan bukan hanya komponen ekologis, melainkan fondasi ketahanan sosial dan ekonomi Asia Tenggara.
Hal itu disampaikan Delegasi Indonesia, Wening Sri Wulandari selaku lead country, dalam The 22nd ASEAN Working Group on Forest and Climate Change (AWG-FCC) Meeting, yang digelar secara virtual Selasa, 21 April 2026.
“Meningkatnya risiko iklim, peran hutan menjadi semakin penting untuk mitigasi dan adaptasi, serta untuk memperkuat ketahanan masyarakat,” ujarnya.
Filipina yang dipilih sebagai tuan rumah pertemuan ke-22 Kelompok Kerja ASEAN tentang Hutan dan Perubahan Iklim tidak cukup hanya menjadi ruang berbagi laporan.
Sebagai Kepala Pusat Pengembangan Mitigasi dan Adaptasi Bencana Hidrometeorologi Kehutanan, Sekretariat Jenderal Kementerian Kehutanan, Wening, menyebut kerja sama kawasan harus bergerak dari koordinasi administratif menuju aksi kolektif yang terukur.
Dalam forum virtual yang diinisiasi Filipina itu, Indonesia juga menekankan pentingnya hutan terhadap krisis iklim yang dapat menimbulkan banjir, kekeringan, dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Hutan yang menyerap karbon menjaga sistem air, menopang pangan, dan menjadi sandaran hidup jutaan orang. Itu sebabnya pengelolaannya tidak bisa setengah hati.
Alih fokus dari seremoni ke substansi terlihat dalam dorongan Indonesia terhadap Rencana Aksi (Plan of Action/POA) 2026–2030.
Dokumen ini tidak hanya dirancang sebagai kelanjutan program sebelumnya, tetapi sebagai instrumen koreksi atas capaian yang belum optimal pada periode 2021–2025.
Integrasi dengan rencana sektoral pangan, pertanian, dan kehutanan (FAFSP) dapat memberikan pendekatan dan menghindari kerja terkotak yang selama ini memperlambat respons kawasan.
Lebih dari itu, Indonesia mengangkat isu keadilan iklim sebagai bagian dari kerja sama regional. Negara-negara ASEAN memiliki kerentanan berbeda, dan distribusi sumber daya untuk mitigasi serta adaptasi sering kali tidak seimbang.
Indonesia mendorong penguatan kapasitas, termasuk diplomasi iklim, agar negara-negara ASEAN tidak hanya menjadi peserta dalam berbagai forum global, tetapi mampu berperan aktif memengaruhi keputusan.
Indonesia juga memanfaatkan momentum ini untuk menyelaraskan posisi kawasan menjelang pertemuan iklim global berikutnya.
Pembaruan hasil COP 30 dan persiapan menuju COP 31 dipresentasikan sebagai bagian dari strategi memperkuat suara ASEAN dalam negosiasi internasional.
Meski forum ini diakhiri dengan paparan program mitra dan rencana pertemuan AWGFCC berikutnya di Singapura pada 2027, tanpa keberanian untuk mengeksekusi komitmen, hutan akan terus menjadi topik diskusi dan tidak menjadi solusi nyata.
Turut hadir sebagai Delegasi Indonesia, perwakilan Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri, Sekretariat Direktorat Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari, Direktorat Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan, Direktorat Penyiapan Kawasan Perhutanan Sosial, Pusbang Mitigasi-Kementerian Kehutanan dan Direktorat Mobilisasi Sumber Daya Pengendalian Perubahan Iklim-Kementerian Lingkungan Hidup.

















