PALEMBANG, fornews.co-Calon Bupati Empat Lawang, Joncik Muhammad menyatakan, memang sangat ingin mendapatkan nomor urut 2, yang didapatnya pada Pilkada Empat Lawang 2018 ini.
“Bagi aku pengen dapat nomor dua. Mengapa, karena itu nomor keramat bagi kita di tahun 2013 melawan incumbent dan menang. Tak mudah melawan incumbent itu menang. Dua itu victory, salam kemenangan, salam lebik baik, Insyaallah,” ujarnya, saat dibincangi di Fraksi PAN, di Gedung DPRD Sumsel, Jumat (16/02).
Pasangan Julius Maulana itu menceritakan, selama tiga kali maju, popularitasnya bukan sebagai penggembira. Pada 2018, yang hanya dalam waktu tiga bulan, selisih suara diantara empat kandidat termasuk Joncik tidak terlampau jauh. HBA (Budi Antoni) saat itu hanya 29,1% dan Yulizar Dinoto 28%. Padahal, mereka bergerak selama dua tahun setengah dan Joncik yang hanya bergerak tiga bulan meraih 25,8%. Kemdian, Abdul Sobur yang mantan Pj Bupati Empat Lawang bergerak dua tahunan hanya 11%, tak sampai separuh suara Joncik.
“Padahal itu yang pertama dan yang kedua (2013) saya menang. Dari data kepolisian saya menang 2.800, tapi karena tergerus dan akhirnya KPUD mengumumkan menang 552, artinya secara defacto Bupati Empat Lawang itu saya. Tapi karena ada suap dan sogok di MK, akhirnya MK memutuskan membalik itu dan itu bukan rahasia umum bahwa MK di jaman Akil Muhtar bukan saja Empat Lawang, tapi ada Palembang, Gunung Mas, ada enam daerah yang menang jadi kalah,” urainya.
Berkaca dari situ, pola kampanye untuk tahun 2018 ini Joncik selalu bergerak melalui lembaga konsultan dan lembaga survey yang menjadi guiden. Jadi popularitas dirinya dengan David Hadrianto Aljufri sebagai kompetitor terbilang sudah cukup maksimal.
“yang membedakan sekarang itu kerja-kerja darat, siapa pasangan calon atau tim yang turun ke bawah, itu yang akan memenangkan pertarungan. Alhamdulillah survey terakhir itu, selisih dengan David masih di range 20-25% jauh selisihnya. Saya di posisi 59,61% mereka di 25,28%. Tapi itu per Desember 2017 lalu, jadi bergerak terus, Maret nanti kita akan survei lagi posisinya dimana. Kalau terakhir di Mei awal atau Juni awal akan survey terakhir. Jadi selalu seperti itu,” terangnya.
Terkait black campaign, Joncik menjabarkan, bahwa pasti itu ada sejak dulu dan itu salah satu yang menodai nilai-nilai demokrasi. Seharusnya black campaign itu tidak terjadi, karena itu mengarah pada fitnah dan segala macam bentuk negatif. Tapi ya siapapun yang mencalonkan diri, pasti orang akan mencari titik lemah itu. Kalau tidak mendapatkan titik lemahnya, maka dicarilah black campaign.
“Saya merasakan itu. Tapi, bahwa itu bagian dari resiko nyalon, karena ini sudah yang ketiga kali bagi saya dan biasa diterpa hal-hal seperti itu. Macam-macam tuduhannya, disebut anak PKI dan sebagainya yang sebenarnya tidak ada semua. Jadi, kita tunjukkan dengan bukti dan fakt saja, bahwa yang dituduhkan itu tidak benar,” terangnya.
Kemudian, sambungnya, melakuan adu program, adu track record, adu visi misi kedepan, dan sudah Sunnatullah kalau akan maju pasti ada black campaign dan itu harus dihadapi.
“Untuk tim kemenangan sudah tingkat desa, dusun, RW/RT dan seterusnya. Tim itu kan bertingkat, ada tim partai, keluarga, relawan dan tim birokrasi dan tim legislatif, tim pemuda, laskar merah putih. Tapi intinya tiap desa sudah ada tim dan itu kita buat hingga tingkat TPS,” tandasnya. (tul)

















