PALEMBANG, fornews.co – Gubernur Sumatra Selatan Herman Deru konsisten mendukung pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Apalagi di tengah pandemi, UMKM didorong untuk bisa bertahan.
Seperti pada Jumat (12/2/2021), Deru berkesempatan meninjau langsung tempat penggilingan ikan yang berada di Jalan KH Wahid Hasyim, Lorong Oxindo, Kelurahan 1 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang.
“Usaha kreatif seperti ini harus didukung oleh pemerintah. Pemprov, Pemkot, Pemkab, hingga Camat dan Lurah juga harus mem-backup, karena pelaku UMKM ini juga membantu kita menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat,” ujar Deru.
Deru menginstruksikan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sumsel untuk memberikan sertifikasi terhadap UMKM penggilingan ikan yang ada di Sumsel.
“Harus ada sertifikasi dari dinas terkait untuk UMKM penggilingan ikan ini. Dan disurati juga bupati dan wali kota di Sumsel ini agar tempat penggilingan ikan di Sumsel ini juga mendapatkan sertifikasi,” tuturnya.
Menurutnya, hal itu harus dilakukan agar para perajin penganan khas seperti perajin pempek, tekwan, model dan penganan khas lainnya mendapatkan sumber yang jelas terkait bahan baku daging ikan yang digunakan.
“Sertifikasi ini juga agar perajin pempek, tekwan, dan model mendapatkan sumber daging ikan yang benar. Selain itu, ini juga dapat mencegah jangan sampai nama baik makanan khas kita tercoreng karena ulah segelintir orang dengan mencampur dengan daging ikan yang kurang baik atau dengan daging lainnya. Saya minta lurah dan camat mengawasi ini,” tegasnya.
Deru mengingatkan, dalam pemberian sertifikasi diharapkan DKP Provinsi Sumsel tidak menerapkan syarat yang berbelit.
“Sertifikasi juga jangan berbelit. Harus dipermudah. Dinas harus tinjau dan lihat langsung. Asal usaha baik dan lokasinya ada, bisa diberikan sertifikasi,” katanya.
Disisi lain, Deru juga berencana akan mendirikan tugu replika ikan gabus di lokasi penggilingan ikan tersebut. Hal itu sebagai simbol kreativitas pelaku UMKM Sumsel.
“UMKM seperti ini sangat kita butuhkan, lapangan kerja tercipta karena keberadaanya. Kita akan membuat simbol sebagai bentuk kreativitas masyarakat disini, nanti akan dikoordinir oleh kecamatan,” tuturnya.
Sementara itu, Pemilik Usaha Penggilingan Ikan Muzairi mengaku, usaha tersebut merupakan usaha turun temurun yang berdiri sejak tahun 1980. Usaha penggilingan ikan tersebut kini memiliki sekitar 50 orang pegawai.
“Yang membantu usaha saya ini semuanya warga disini. Ini usaha turun menurun dari orang tua dan alhamdulillah bisa membantu masyarakat,” terangnya.
Menurut Muzairi, dalam sehari sedikitnya 10 ton ikan mulai dari ikan gabus, tenggiri dan ikan putak dilakukan penggilingan secara manual di tempat usahanya itu.
“Dalam satu kilo ikan menjadi 400 gram sampai 500 gram setelah digiling tergantung jenis ikan. Daging ikan yang sudah digiling disuplai ke sejumlah restoran pempek yang ada di Sumsel dan pulau Jawa,” ujarnya.
Mengenai rencana sertifikasi tempat penggilingan ikan, Muzairi menegaskan sangat mendukung hal itu.
“Tentu kita mendukung karena ini berdampak baik bagi usaha seperti kami ini,” pungkasnya. (ije)

















