
BATURAJA-Ruas jalan negara Baturaja-Prabumulih di Desa Banu Ayu Kecamatan Lubuk Batang, OKU, semakin tergerus hingga 20 meter oleh aliran Sungai Ogan. Dampaknya, terjadi penyempitan dan hanya bisa dilalui satu jalur. Namun, hingga saat ini jalan tersebut hanya dibiarkan begitu saja oleh pemerintah pusat.
Pantauan di lapangan, Jumat (30/9), sejak longsor pada awal tahu 2016 lalu dan sudah beberapa kali di tinjau oleh anggota dewan provinsi, hanya menjadi sumber pendapatan warga sekitar, dengan melakukan buka tutup jalur (jasa pengaturan lalu lintas) baik dari arah Baturaja, begitu pula arah sebaliknya. Sementara, pemerintah daerah hanya memasang tanda peringatan bahaya longsor agar pengendara berhati-hati saat melintas di kawasan tersebut.
“Sekarang hanya bisa satu jalur. Tapi kalau tetap dibiarkan saja, bukan tidak mungkin akses jalan ini terputus. Karena, jika kondisi hujan dan air sungai pasang, tanah di bagian bawah terkikis,” ujar Amran, tokoh masyarakat Banu Ayu, ditemui di lokasi, Jumat (30/9).
Amran melanjutkan, selain terjadi longsor, ada sekitar 80 meter lagi berpotensi langsor yang mungkin segera menyusul jika tidak segera diantisipasi. “Di jalan ini (longsor), kami bersama warga berinisiatif untuk mengatur kendaraan dengan sistem bukak tutup. Jika tidak, maka bahaya bagi pengendara apalagi jika malam hari,” tukasnya.
Sementara, Wakil Bupati OKU Drs Johan Anuar SH MM mengatakan, Jalan Baturaja-Prabumulih merupakan jalan negara. Tentunya, pihaknya sudah melaporkan hal tersebut ke Pemprov dan juga pemerintah pusat. Bahkan bukan hanya jalan tersebut, melainkan akses jalan lintas Sumatera, yang ada di OKU juga sudah didata dan dampaikan ke Pemprov juga pemerintah pusat.
“Kita bersabar saja. Mudah-mudahan segera di perbaiki. Karena jalan ini merupakan penghubung Baturaja-Prabumulih, tentunya menjadi akses untuk mengangkut hasil pertanian dan kebutuhan pokok. Jika terputus, jelas akan menghambat itu semua,” tukasnya. (ibr)

















