FORNEWS.CO
  • Metro Sumsel
    • Metropolis
  • Nasional
    • Internasional
  • Ekobis
  • Politik
  • Sport
    • All
    • Asian Games 2018
    • Babel Muba United
    • Ragam Sport
    • Sepak Bola
    • Sriwijaya FC
    MENTERI Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, menerima penghargaan di ajang KWP Awards 2026, di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada Kamis pagi, 16 April 2026. (foto fornews.co/komdigi)

    Menpora Erick Thohir sebut Diplomasi Olahraga Penting untuk Menjaga Hubungan Negara

    Pelatih Timnas Indonesia U-20, Nova Arianto. (fornews.co/foto: ist)

    Ini Daftar 28 Pemain Timnas U-20 yang Dipanggil Nova Arianto Ikuti TC Surabaya

    Kapolda Sumsel, Irjen Pol Sandi Nugroho dan Advokat, Kurator & Pengurus dari DR Hukum & CO, Adv. Hengki, SH, MH. (fornews.co/ist)

    Kapolda Sumsel Irjen Pol Sandi Nugroho Diharap Mampu Kolaborasikan Penegak Hukum dan Elemen Masyarakat

    Ilustrasi PSSI. (fornews.co/pssi.org)

    Viralnya Sejumlah Insiden di Putaran Provinsi Liga 4, Bikin PSSI Langsung Gelar Rapat Darurat

    Asisten pelatih Timnas Indonesia, Cesar Meylan. (fornews.co/ist)

    Profil Cesar Meylan, Ilmuwan Olahraga Pendamping John Herdman sebagai Asisten Pelatih Timnas

    John Herdman resmi menjadi Head Coach Timnas Indonesia, Sabtu (3/1/2026). (fornews.co/ist)

    Profil John Herdman, Pelatih Asal Inggris yang Resmi Jabat Head Coach Timnas Indonesia

    • Sepak Bola
    • Sriwijaya FC
    • Ragam Sport
  • COVID-19
  • FornewsTv
  • Lain-lain
    • All
    • Advertorial
    • Berita Foto
    • Feature
    • Gaya Hidup
    • Hukum dan Kriminal
    • Kesehatan
    • Opini
    • Peristiwa
    KEPALA Biro Hukum dan Humas Barantin, Hudiansyah Is Nursal dan Kepala Karantina Banten, Duma Sari, memberikan keterangan kepada awak media di Tangerang, Sabtu, 9 Mei 2026. (foto fornews.co/hadi hidayat/barantin)

    Barantin Gagalkan Penyelundupan Satwa Asal Thailand di Bandara Soekarno-Hatta

    ILUSTRASI. (grafis fornews.co)

    Meski Tanda Kemarau Mulai Terlihat, Sejumlah Wilayah di Indonesia masih Berpotensi Hujan

    POSTER film layar lebar “Suamiku Lukaku”.  (foto fornews.co/sinemart/publish)

    Trailer “Suamiku Lukaku” Resmi Dirilis, Soroti Realitas KDRT di Balik Keluarga Harmonis

    ILUSTRASI Zona Merah: Dead City. (grafis fornews.co/foto screenplay films/the publicist)

    Zona Merah Tembus Pasar Global, Debut di Cannes dengan Judul “Dead City”

    MAY DAY, massa unjuk rasa menyuarakan sembilan tuntutan di luar pagar gedung DPRD DIY di kawasan destinasi Malioboro pada Jum'at siang, 1 Mei 2026. (foto fornews.co/adam)

    Aksi May Day di Jogja “Mei Melawan”

    MENTERI Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana disambut tarian khas Sumatra Barat pada pertemuan bersama para pelaku Industri pariwisata di Desa Wisata Koto Gadang, Kabupaten Agam, Kamis, 30 April 2026. (foto fornews.co/kemenpar)

    Pariwisata Sumatra Barat Butuh Dorongan Penuh dari Pemerintah Indonesia

    • Hukum
    • Peristiwa
    • Opini
    • Pariwisata
    • Gaya Hidup
      • Budaya
      • Teknologi
    • Advertorial
      • Profil
      • Galeri
    • Berita Foto
No Result
View All Result
FORNEWS.CO
Jumat, 22 Mei 2026
No Result
View All Result
FORNEWS.CO
No Result
View All Result
Home Lain-lain Opini

Jalur Palembang-Lubuklinggau serta Potensi Edukasi Sejarahnya

Sabtu, 15 Juni 2019 | 21:17
A A
Satu unit lokomotif yang tengah berada di Prabumulih tahun 1932. (ist)

Satu unit lokomotif yang tengah berada di Prabumulih tahun 1932. (ist)

Penulis : Sapta Anugrah, S.Pd (Ketua Studie Club Gerak Gerik Sejarah dan Pramugara Kereta Api)

Kapan moda transportasi kereta api hadir pertama kali di Provinsi Sumatra Selatan? Pernahkah pertanyaan itu terbesit dalam pikiran para penumpang di masa kini? Perkeretaapian di Sumatra Selatan memiliki sejarah penting yang mungkin sekarang telah jarang dibaca lagi oleh generasi kekinian.

Pertama, kita perlu mengingat bagaimana teknologi ini diperkenalkan ke bumi Andalas (Pulau Sumatra). Teknologi transportasi ini dalam kondisi yang getir tatkala perang perlawanan Aceh bahkan masih belum dapat dipadamkan seluruhnya oleh Hindia Belanda. Pada tahun 1874, pasukan kolonial Belanda membawa ke Aceh rel kereta api ukuran sempit, enam belas gerbong kereta api, dan kantin lengkap tenaga uap untuk memberi makan pasukan, tujuannya ialah untuk menghubungkan tempat demarkasi pelabuhan Ulee Lheue dan Kutaraja dengan rel kereta api sepanjang 5 km.[1]

BacaJuga

No Content Available
Load More

Di zaman kolonial, Jawa secara fisik dipersatukan oleh satu jalur kereta api yang tuntas pada tahun 1894. Sebaliknya, pembangunan jalan kereta api di Sumatra bukan dimaksud untuk mempersatukan seluruh pulau.[2] Pembangunan rel kereta api yang dilakukan di Sumatra untuk tujuan non-militer, pertama kali dilaksanakan di Sumatra Utara (1886-1937) dengan panjang 554 km.[3] Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) sebagai perusaahan yang membangun rel kereta pertama di Sumatra Utara, Tan Malaka mencatatkan dalam karyanya yang berjudul Dari Penjara ke Penjara bahwa pada tahun 1920-an di Deli terdapat sekitar 500 perkebunan yang pengangkutannya lancar sekali karena Deli-Spoor menghubungkan ratusan kebun tersebut.[4]

Kedua, setelah Sumatra Utara, rel kereta api dibangun di kawasan Sumatra Barat (1891-1921) sepanjang 263 km. Tahun 1875 dan 1878 dibuka tambang batu bara di Ombilin sebagai hasil dari penelitian  ahli geologi asal Belanda bernama W.H. De Greeve pada tahun 1867. Baru tahun 1887 pemerintah menyetujui rencana pembangunan jalur kereta api dengan tujuan Sawahlunto itu. Soematera Staatspoorwegen (SSS) adalah perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda yang melaksanakan pembangunan jalur kereta api yang nanti pada tahun 1892 telah mencapai Muaro Kalaban. Stasiun Sawahlunto diresmikan bersamaan dengan pembukaan jalur Muaro Kalaban-Sawahlunto pada tanggal 1 Januari 1894. Setelah jalur Pelabuhan Teluk Bayur-Sawahlunto selesai, hasil pertambangan di tempat ini menunjukkan hasil yang memuaskan. Pertambangan Sawahlunto berhasil menghasilkan 508.000 ton batu bara pada tahun 1917 .[5]

Di Sumatra Selatan pembangunan rel dimulai tahun 1911, lintas pertama adalah sepanjang 12 km dari Pelabuhan Panjang menuju Tanjung Karang. Lintas ini mulai dilalui kereta api pada tanggal 3 Agustus 1914, pada waktu yang bersamaan dilaksanakan juga pembangunan jalan rel dari Kertapati (Palembang) menuju ke arah Prabumulih, di tahun yang sama lintas kereta api itu sudah mencapai 78 km.[6] Berturut-turut kemudian dibangun jalur Tanjung Karang-Kota Bumi (1920), Prabumulih-Baturaja (1923), Muara Enim-Lahat (1924), Baturaja-Martapura (1925), Kotabumi-Negararatu (1926) dan lintas terakhir Negararatu-Martapura (1927). Dengan demikian lintas Palembang-Panjang diselesaikan sepanjang 529 km.[7] Salah satu konsekuensi dari pembangunan jalur kereta api ialah pada tahun 1927 sebagian kopi rakyat daerah dataran tinggi daerah dataran tinggi bagian selatan (Ranau, Baturaja, dan Martapura) diangkut ke Palembang dengan kereta api, tidak lagi menggunakan kapal atau perahu. Jelasnya, moda transportasi kereta api mempersingkat waktu tempuh pergi-pulang yang sebelumnya dengan menggunakan pedati memakan waktu satu minggu antara kota Palembang ke pedalaman.[8]

Setelah masa pembukaan jalur-jalur kereta api dalam rentang waktu 1911-1927, ternyata Lubuklinggau mempunyai posisinya sendiri dalam sejarah perkeretaapian Sumatera Selatan. Jika ditinjau dari pembukaan-pembukaan lintas, maka lintasan penghabisan (akhir) yang dibuka adalah ‘Lintas Muarasaling-Lubuklinggau’ pada tanggal 30 Juni 1933.[9] Selesainya pembangunan jalur itu, pada tahun yang sama dibukalah Stasiun Lubuklinggau (disingkat Stasiun LLG). Jalur ini diprakarsai oleh Namlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NV NISM), cikal bakal PT Kereta Api (PT KA).[10]

Pembangunan rel kereta api zaman kolonial di wilayah Pulau Sumatra sendiri, regional Sumatra Selatan (Palembang- Lampung) adalah yang paling akhir dibangun. Berturut-turut pembangunan rel kereta api dilakukan di pulau ini seperti Sumatra Utara (1886-1937) dengan panjang 554 km, Sumatra Barat (1891-1921) sepanjang 263 km, dan Sumatra Selatan (1914-1933) dengan panjang 661 km. Meskipun jalur Sumatra Selatan yang paling panjang, namun terpisahnya ketiga regional perlintasan perkeretaapian yang tidak saling berhubungan tentu membuat moda transportasi ini belum terbilang sempurna. Apalagi panjang jalur kereta api seluruh Sumatra saat itu hanya mencakup 6,9% dari luas pulau ini.[11]

Ditinjau dari sisi transportasi, jalur yang menghubungkan Palembang-Lubuklinggau, Stephen Backshall dalam buku panduan pariwisatanya A Rough Guide to Indonesia menyebutnya sebagai limited but useful passenger rail service atau ‘jalur kereta api yang terbatas namun sangat berguna’ sebagai akses transportasi sekitar wilayah ini.[12] Istilah ‘terbatas’ dalam pendapat Backshall ialah didasarkan pada fakta bahwa belum ada jalur kereta api yang menghubungkan seluruh Pulau Sumatra. Kondisi faktual ini adalah warisan yang ditinggalkan oleh penjajah Belanda. Penyebab atau prakondisi itu ialah karena pembangunan jalur kereta api di pulau ini bukan dimaksud untuk mempersatukan seluruh pulau – seperti disebutkan sebelumnya tendensi utama pembangunan ini hanya untuk kebutuhan eksploitasi kolonial – maka pembangunannya pun dilaksanakan pada tiga daerah terpisah : 1) Sumatra Selatan-Lampung, 2) Sumatra Utara-Aceh, dan 3) Sumatra Barat. Ketiga jalan (rangkaian jalur) kereta api yang terpisah-pisah ini tidak pernah terhubung satu sama lain.[13]

Jalur kereta api Palembang-Lubuklinggau (juga sebaliknya) yang telah berumur cukup tua – bahkan sebelum kemerdekaan Indonesia – ternyata menyimpan sumber-sumber kesejarahan yang potensial untuk dipromosikan. Beberapa kota yang dilaluinya memiliki ikon kesejarahan yang penting untuk diabadikan. Selain Kota Palembang yang memang telah banyak dikenal sebagai pusat Sriwijaya, Kota Prabumulih dikenal sebagai salah satu kota yang bernilai ekonomis sejak zaman kolonial Belanda. Pembukaan jalur kereta api yang melewati Kota Prabumulih didasari oleh alasan ekonomi semata dengan dimulainya pengeboran minyak di kota ini, Muara Enim, dan Martapura.[14] Posisi Prabumulih semasa perjuangan sangatlah vital, karena setelah Perang Lima Hari Lima Malam (1945) di Palembang, Peroesahaan Minjak Repoeblik Indonesia (PERMIRI) – cikal bakal PT Pertamina – memindahkan pusat administrasinya ke Prabumulih.[15] Setelah Prabumulih, Muara Enim setidaknya memiliki dua catatan penting dalam kesejarahan Sumatra Selatan yakni dibukanya tambang batu bara (1919), minyak pada 1864 dan yang lebih tua lagi ialah bersama-sama dengan Kabupaten Lahat ialah wilayah yang menjadi persebaran dari kebudayaan Megalitikum.[16]

Jalur kereta api ini menjadi salah satu saksi bisu ketika rakyat berjubel meminta Bung Hatta berpidato di stasiun-stasiun kereta yang menjadi ramai karena kunjungan beliau ke Sumatra Selatan pada pertengahan 1947. Bung Hatta menginap di kediaman drg. M. Isa (gubernur muda Sumatra Selatan) di Palembang. Wakil Presiden pertama itu kemudian berkunjung ke Prabumulih, Tanjung Raja, Kayu Agung, Tanjung Enim dan Muara Enim. Bung Hatta menginap semalam di Lahat dan dua malam di Lubuklinggau, lalu beliau terus berangkat ke Surulangun. Perjalanan Bung Hatta saat itu dimaksudkan untuk memperkuat moral perjuangan kemerdekaan rakyat Sumatra melawan Belanda. Drg. M. Isa juga melewati jalur kereta api ini saat ia kembali dari gerilya di luar Kota Palembang sejak akhir 1947 hingga disepakatinya gencatan senjata RI-Belanda tahun 1949.[17]

Sayangnya jarang sekali yang memaknai (secara historis) bahwa perjalanan dalam rute Palembang-Lubuklinggau mempunyai keberagaman khazanah sejarah-budaya yang “lintas zaman”, apabila dirincikan ialah sebagai berikut : 1) Era Megalitikum (pra-Sriwijaya), 2) Era Sriwijaya, 3) Era Kesultanan Palembang, 4) Masa Kolonial, 5) Sejarah Kontemporer Pasca Kemerdekaan.

PT KAI dapat sangat berperan dalam melestarikan masalah kesejarahan bidang perkeretaapian dan dipublikasikan untuk para penumpang di Sumatra Selatan melalui produk publikasi yang lebih menarik dan berkesan dari pada majalah maupun buku. Dalam hemat penulis, hal ini dapat diterapkan melalui tiga cara :

a.  Video Promosi Sejarah Budaya

Media ini dapat dikembangkan untuk memperkenalkan potensi kesejarahan dan budaya yang dapat menarik perhatian penumpang. Sebagai pengiring dalam kegiatan perjalanan, video promosi tidak ditujukan untuk menguak secara keseluruhan warisan sejarah yang dimiliki oleh Provinsi Sumatra Selatan, namun video tersebut diputar pada para penumpang dengan maksud sebagai pengenalan serta untuk menarik atensi mereka. Kegiatan para penumpang kereta api dalam 15-20 menit pertama perjalanan ialah untuk merespons pemeriksaan tiket, berbincang ringan dengan keluarga maupun penumpang lain, dan ada pula yang langsung tertidur.[18] Pemutaran video pengenalan kesejarahan dan budaya dapat dilakukan pada rentang waktu ini karena setelah Train Attendant (pramugara/pramugari) membagikan menu kepada para penumpang dan mengambil kembali menu tersebut terdapat selisih waktu hingga lima menit. Video pengenalan sebagai apersepsi pada penumpang diusahakan tidak berbentuk kajian komprehensif kesejarahn yang akan menimbulkan kepenatan dan rasa bosan. Waktu durasi video ini juga tidak terlalu panjang karena sifatnya yang hanya sebagai pengenalan dan mampu memberikan informasi padat, jelas, tepat serta menarik perhatian.

b. Direct Promotion oleh Train Attendant

Promosi langsung atau Direct Promotion oleh para Train Attendant adalah sebagai kegiatan inti dari promosi wisata sejarah-budaya di Sumatra Selatan. Optimalisasi peran para pramugari/pramugara memiliki nilai lebih yakni informasi yang disampaikan kepada para penumpang tidak hanya sebatas dari peralatan elektronik (benda mati), meskipun tidak berarti bahwa peralatan elektronik tidak diperlukan, karena pada penerapannya tetap dibutuhkan teknologi sebagai alat bantu dalam promosi. Pelaksanaan kegiatan promosi langsung bisa dilakukan saat perjalanan dalam rute tersebut telah dilalui selama lima jam. Berdasarkan pengamatan, para penumpang memilih untuk beristirahat setelah empat jam perjalanan dan lama mereka beristirahat ialah selama kurang lebih satu jam.[19] Maka dengan adanya promosi langsung yang dilakukan oleh pramugari/pramugara kereta api dapat memberi efek optimal bagi para penumpang setelah mereka beristirahat.

Cara ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan tenaga dua awak Train Attendants, dengan itu diharapkan tidak akan mengganggu kinerja pokok dalam melayani penumpang. Dengan meninjau efek potensi gender dalam promosi ini, maka tenaga pramugari yang akan dipakai dalam promosi. Tenaga pramugara dapat dioptimalkan untuk menawarkan produk-produk yang bernilai ekonomis dan edukatif seperti souvenir-souvenir miniatur tempat-tempat bersejarah di Sumatra Selatan, boneka-boneka berpakaian tradisional, hingga buku-buku bertema kesejarahan dan budaya provinsi ini. Guna memperoleh efisiensi pelaksanaan promosi ini maka salah satu cara yang bisa dipilih ialah pengenalan wisata sejarah-budaya dengan dibantu oleh video “bisu” yang dinarasikan secara langsung oleh Pramugari.

c. Brosur Mini Map Kesejarahan

Untuk melengkapi optimalisasi peran Train Attendant dalam promosi wisata sejarah-budaya yang pada bagian sebeumnya telah diulas tentang rancangan kinerja operasionalnya, publikasi tertulis tetap harus diusahakan. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan, hanya didapati sekitar lima sampai tujuh orang penumpang yang membawa bahan bacaan seperti halnya koran atau tabloid selama perjalanan. Sumber bacaan berupa buku dan majalah sangat jarang ditemukan sebagai sumber bacaan para penumpang selama perjalanan. Adapun brosur yang disebarkan oleh PT. KAI di dalam kereta api ialah berbentuk petunjuk keselamatan.[20] Dengan mempertimbangkan fakta yang ditemukan itu, pembuatan brosur sebagai pelengkap promosi wisata sejarah-budaya dapat turut diusahakan. Contoh desain brosur mini map menurut gagasan penulis ialah sebagai berikut :

Keterangan :

Desain brosur mini map yang dirancang ini memang dibuat untuk mempermudah para penumpang memperoleh informasi kesejarahan. Tajuk utama yang bertuliskan “Nilai Kesejarahan Rute Kereta Api Palembang-Lubuklinggau & Lubuklinggau-Palembang” secara langsung memberikan keterangan konten yang akan diperoleh oleh pembaca. Jalur peta yang menggambarkan rangkaian perjalanan dalam rute ini dibuat dengan memadukan desain grafis yang sifatnya ialah untuk menunjukkan ikon masing-masing kota seperti Palembang yang diwakili oleh Jembatan Kertapati dan Gedung Waterleiding, Prabumulih yang diwakili oleh pemandangan situasi keramaian stasiunnya di masa kolonial, Muara Enim dengan tambang minyaknya, Lahat dengan megalitikumnya, serta Lubuklinggau dengan stasiun yang telah berdiri sejak masa kolonial. Gambar lokomotif uap pada bagian tengah atas mini map ditujukan untuk memberikan kesan vintage (klasik/tua) agar para penumpang menyadari bahwa selain dari kesejarahan Sumatra Selatan yang telah eksis sejak dahulu, moda transportasi kereta api juga telah dikenal di wilayah ini sejak masa pra-Kemerdekaan.

Informasi yang perlu disampaikan di dalam brosur harus bersifat singkat, padat, dan tepat. Untuk itu dalam rancangan desain brosur ini telah dipilih – selain dari ikon gambar untuk setiap kota yang dilalui – informasi terpenting yang bisa menggambarkan kekayaan sejarah setiap kota. Informasi-informasi itu harus dideskripsikan secara naratif dan disisipkan pada brosur yang telah didesain. Berikut ini ialah rincian deskripsi naratif tentang kota-kota yang dilalui rute Palembang-Lubuklinggau tersebut :

– Palembang

“Palembang adalah kota tua yang telah berdiri sejak 682 M yang ditandai secara otentik dengan adanya prasasti Kedukan Bukit yang sekarang masih dapat dijumpai replikanya di Museum Sriwijaya, Museum Balaputra Dewa dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Setelah mengalami kekalahan dalam pertempuran melawan Belanda pada tahun 1821, Kesultanan Palembang dihapuskan empat tahun setelahnya (1825). Memasuki abad ke-20, perdagangan Palembang semakin menunjukkan kemajuan terutama dengan dibangunnya jalur kereta api pada rentang tahun 1914-1915 dan dibukanya jalur yang menyambungkan antara Stasiun Kertapati ke Prabumulih. Pemerintah jajahan Belanda menekankan tujuan utama dibukanya jalur kereta api untuk memudahkan pengangkutan hasil bumi”

– Prabumulih

“Dikenal sebagai kota penghasil nanas di era modern, sejak masa kekuasaan Hindia Belanda hingga awal abad ke-20, Prabumulih memiliki hasil bumi yang strategis yakni minyak. Sejak dibukanya jalur kereta api beserta stasiunnya pada tahun 1915, Prabumulih menjadi kota yang ramai dikunjungi oleh berbagai penduduk untuk beragam urusan. Keramaian stasiun kereta api Prabumulih bahkan telah dikenal sejak zaman kolonial”

– Muara Enim

“Muara Enim adalah kabupaten dengan potensi tambangnya yang begitu besar. Di zaman kolonial Hindia Belanda dilakukanlah eksplorasi batu bara pada tahun 1895 di bawah kongsi dagang Lematang Maatschappij setelah itu pemerintah kolonial mengambil alih hasil eksplorasi dan pengelolaannya hingga akhirnya tahun 1923 beroperasi penambangan di Tambang Air Laya. Penambangan minyak jauh lebih tua dengan dibukanya tambang pada tahun 1864 di bawah Muara Enim Petroleum Maatschappij yang didirikan oleh J.W. Ijzerman. Di samping kekayaan tambang, Muara Enim juga termasuk wilayah persebaran megalitikum, meskipun tidak sebanyak yang ditemukan di kabupaten Lahat”

– Lahat

“Lahat dikenal sebagai “Tanah Seribu Megalit” karena persebaran situs-situs megalitikum yang begitu banyak. Peradaban megalitikum ialah suatu jenis peninggalan kebudayaan dalam sejarah saat manusia telah mengenal penggunaan logam. Zaman megalitikum terjadi jauh sebelum kerajaan Sriwijaya berdiri, maka tak heran peninggalan megalitikum sangat penting untuk diabadikan sebagai peninggalan sejarah pra-Sriwijaya. Kebudayaan ini menjadikan batu-batu besar sebagai objek seni, relijius, ataupun sebagai peralatan sehari-hari. Bentuk-bentuk dari benda-benda megalit dapat berbentuk seperti arca, lesung batu, dolmen, bilik batu, tetralith (batu dengan lukisan) dan batu datar (untuk persembahan)”

– Lubuklinggau

“Stasiun Lubuklinggau atau yang disingkat ‘LLG’ adalah stasiun tua yang telah dibangun sejak 1933. Jalur ini diprakarsai oleh Namlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NV NISM), cikal bakal PT Kereta Api (PT KA). Makna kesejarahan yang didapat tentang Lubuklinggau sebagai jalur kereta api terakhir yang dibuka pada zaman kolonial ialah bahwa pada masa itu perkeretaapian merupakan sebuah sarana transportasi yang dibuka untuk mempermudah/mempercepat pengangkutan komoditas barang hasil eksploitasi penjajahan di Sumatra Selatan”

Tulisan sederhana ini mungkin belum mampu mengcover seluruh kesejarahan kereta api di Sumatra Selatan yang cukup panjang. Sedikit gagasan yang diulas di atas mengenai potensi edukasi sejarah, mungkin juga belum tergolong sempurna dan tepat. Setidaknya kajian kecil ini dapat menyegarkan kembali semangat cinta sejarah, khususnya pada bidang perkeretaapian. Semoga sedikit pengetahuan tersebut membuat perjalanan Palembang-Lubuklinggau bukan sekadar proses menuju destinasi tetapi juga sebagai rekreasi untuk menghidupkan serta selalu mengabadikan sejarah.

Sumber :

  1. Pramasto, Arafah, dkk., Makna Sejarah Bumi Emas (Kumpulan Artikel Sumatera Selatan dan Tema-tema Lainnya, Bandung : Ellunar Publisher, 2018. Hlm. 64-65.
  2. Reid, Anthony, Menuju Sejarah Sumatra : Antara Indonesia dan Dunia, Jakarta : Yayasan Pustaka Obor, 2011. Hlm. 29.
  3. Marks, A.J., Accounting for Services : The Economic Development of The Indonesian Service Sector ca. 1900-2000, Amsterdam : Aksant Academic Publisher, 2009. Hlm. 113.
  4. Malaka, Tan, Dari Penjara ke Penjara, Yogyakarta : Narasi, 2014. Hlm. 66.
  5. Pramasto, Arafah, dkk., Makna Sejarah Bumi Emas (Kumpulan Artikel Sumatera Selatan dan Tema-tema Lainnya, Bandung : Ellunar Publisher, 2018. Hlm.166.
  6. Tim Telaga Bakti Nusantara & Asosiasi Perkeretaapian Indonesia, Sejarah Perkeretaapian Indonesia Volume I, Bandung : Angkasa, 1997. Hlm. 82.
  7. Departemen Penerangan Indonesia, Kereta Api Indonesia, Jakarta : Departemen Penerangan Indonesia, 1978. Hlm. 43.
  8. Zed, Mestika, Kepialangan Politik dan Revolusi Palembang 1900-1950, Jakarta : Pustaka LP3Es, 2003. Hlm. 111.
  9. Pemerintah Kota Palembang, Buku Peringatan Lima Puluh Tahun Kota Pradja Palembang, Palembang : Firma Rhama & Co., 1965. Hlm. 18.
  10. Amhir, Ary, 30 Hari Keliling Sumatra, Jakarta : Dolphin, 2013. Hlm. 270.
  11. Pramasto, Arafah, dkk., Makna Sejarah Bumi Emas (Kumpulan Artikel Sumatera Selatan dan Tema-tema Lainnya, Bandung : Ellunar Publisher, 2018. Hlm. 67.
  12. Backshall, Steve, A Rough Guide to Indonesia, London : Rough Guides, 2003. Hlm. 471.
  13. Reid, Anthony, Menuju Sejarah Sumatra : Antara Indonesia dan Dunia, Jakarta : Yayasan Pustaka Obor, 2011. Hlm.  29.
  14. Tim Penerbit Kompas, Ekspedisi Anjer-Panaroekan : Laporan Jurnalistik KOMPAS, Jakarta : Kompas Media Nusantara, 2008. Hlm. 90.
  15. Tim Sejarah 40 Tahun Perminyakan Indonesia, 40 Tahun Usaha Pertambangan Minyak dan Gas Bumi , Jakarta : Biro Humas & HLN Pertamina, 1985. Hlm. 31.
  16. Sukendar, Haris, Album Tradisi Megalitik di Indonesia, Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996. Hlm. 14.
  17. Pramasto, Arafah, dkk., Makna Sejarah Bumi Emas (Kumpulan Artikel Sumatera Selatan dan Tema-tema Lainnya, Bandung : Ellunar Publisher, 2018. Hlm. 68.
  18. Pengamatan / observasi pribadi penulis selama bertugas.
  19. Ibid.
  20. Ibid.

Bagikan Ke

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru)
  • Klik untuk berbagi pada Twitter(Membuka di jendela yang baru)
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru)
  • Klik untuk mencetak(Membuka di jendela yang baru)
Tags: sejarah kereta api di sumatra selatan
ADVERTISEMENT
Previous Post

5 Komisioner KPU Kota Palembang Jadi Tersangka, Hepriyadi : Laporan Bawaslu Tidak Memenuhi Syarat

Next Post

Impian Istri Presiden RI ke-6

Please login to join discussion
Jajaran Polres Musi Rawas menangkap pemilik ponpes di Kota Lubuklinggau, terkait dugaan pencabulan hingga persetubuhan terhadap santriwati. (fornews.co/foto: ist)
Metropolis

Diangkut ke Polres Musi Rawas, Pemilik Ponpes di Lubuklinggau Ini Akui Setubuhi Santriwati

Kamis, 21 Mei 2026

MUSI RAWAS, fornews.co - Pemilik pondok pesantren (ponpes) di Kota Lubuklinggau yang diduga melakukan pencabulan hingga persetubuhan terhadap santriwati inisial...

Read more
Kapolsek Sukarami, Kompol Alex Andriyan didampingi Wakapolsek AKP S Naibaho, menunjukan barang bukti, saat jumpa pers di Mapolsek Sukarami, Rabu (20/5/2026). (fornews.co/foto:ist)

Gak Pake Lama, Unit Reskrim Polsek Sukarami Palembang Ciduk Residivis yang Embat Motor Tetangga

Rabu, 20 Mei 2026
Satres Narkoba Polrestabes Palembang saat memusnahkan narkoba, di Aula Satres Narkoba Polrestabes Palembang, Rabu (20/5/2026). (fornews.co/foto: ist)

Tak Hanya Sabu, Narkoba Jenis Catridge Etomidate Dimusnahkan Satres Narkoba Polrestabes Palembang

Rabu, 20 Mei 2026
Tim Kuasa Hukum Korban SA, dari SHS Law Firm saat melaporkan okum polisi RSM ke SPKT Polda Sumsel, Selasa (19/5/2026). (fornews.co/foto: ist)

Kedok Tipu Muslihat Bermodus Asmara Terbongkar, Oknum Polisi di Banyuasin Ini Dilaporkan ke Polda Sumsel

Selasa, 19 Mei 2026
PEP Zona 4 mendapat suntikan energi baru setelah pengembangan sumur LBK-030 (LKT-24) di Kecamatan Lembak, Kabupaten Muara Enim, sukses dengan potensi produksi minyak hingga 3.073BOPD dan gas 1,64 MMSCFD. (fornews.co/foto: ist)

PEP Zona 4 Dapat Suntikan Energi Baru dari Pengembangan Sumur LBK-030 di Lembak Muara Enim

Selasa, 19 Mei 2026
No Result
View All Result
  • Metro Sumsel
    • Metropolis
  • Nasional
    • Internasional
  • Ekobis
  • Politik
  • Sport
    • Sepak Bola
    • Sriwijaya FC
    • Ragam Sport
  • COVID-19
  • FornewsTv
  • Lain-lain
    • Hukum
    • Peristiwa
    • Opini
    • Pariwisata
    • Gaya Hidup
      • Budaya
      • Teknologi
    • Advertorial
      • Profil
      • Galeri
    • Berita Foto
  • Login

© 2019 FORNEWS.co | PT.SENTRAL INFORMASI BERDAYA.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In