YOGYA, fornews.co—Sepekan memasuki bulan Ramadan jasa penukar uang baru bermunculan di sepanjang kawasan Jalan Senopati.
Lembaran uang recehan dengan mudah didapat tanpa harus ke Bank Indonesia.
Tri Yunanto, misalnya. Warga Sewon, Bantul, yang sehari-hari berkerja sebagai penggayuh becak banting setir membuka lapak jasa penukaran uang baru.
“Per seratus lembar dibandrol Rp 110.000,” ujarnya, Ahad (10/4/2022).
Pekerjaan musiman ini sudah digelutinya sejak lima tahun lalu.
Modalnya tidak sedikit. Tri Yunanto harus menyiapkan uang paling sedikit sebesar Rp 70 juta.
Ia mengaku dapat modal dari teman-teman dekatnya yang menitipkan uang. Nantinya mereka akan berbagi hasil dari seluruh uang yang diputar saat menjelang lebaran.
“Bagi hasil karena modal bisa diputar 35 kali,” katanya.
Tri Yunanto membuka lapak penukaran uang baru biasanya dari jam 06.00 – 17.00 WIB.
Kata Tri Yunanto, dalam sehari ia bisa melayani penukaran uang baru hingga 50 orang .
Diduga, masyarakat justru kesulitan mendapatkan recehan uang baru di bank dalam jumlah yang sedikit.
“Karena bank tidak bisa ngecer dan harus satu bendel,” beber Tri.
Di bank, imbuh Tri, untuk mendapatan uang receh Rp 5.000-an masyarakat harus mengambil minimal satu gepok sejumlah Rp 500 ribu dan Rp 10.000-an senilai sejuta rupiah.
Sedangkan untuk mendapatkan recehan Rp 20.000-an ribu harus mengeluarkan uang Rp 2 juta dan recehan Rp 2.000-an minimal Rp 200 ribu per gepoknya.
Sementara untuk mendapatkan uang receh agar bisa berbagi-bagi uang saat lebaran, masyarakat memilih di lapak penukaran uang baru.
Di lapak jasa penukaran uang, untuk mendapatkan uang receh Rp 2.000-an segepok hanya 50 lembar, Rp 20.000 berisi 5 lembar, Rp 10.000 setebal 10 lembar, dan satu bendel Rp 5,000 berisi 20 lembar.
Sedangkan untuk recehan Rp 75 ribu hanya berisi satu lembar.
“Karena tidak ribet,” kata Vita mahasiswi PTS warga Batu, Malang, Jawa Timur.
Vita yang hendak mudik lebaran tidak ingin repot setelah sampai di rumah karena tidak membawa uang recehan.
“Saya butuh uang receh Rp 5.000-an untuk keponakan,” selorohnya.
Pemilik lapak jasa penukaran lainnya bernama Indah. Ia tinggal bersama suami dan anak-anaknya di perbatasan kabupaten dan kota Yogya.
Sejak direlokasi ke tempat khusus di kawasan Malioboro usahanya tersendat. Ekonominya justru terpuruk. Jasa penukaran uang menjadi sumber penghasilan bagi keluarganya.
Semula, Indah dan suaminya memiliki usaha pembuatan stempel dan isi ulang gas kaleng di kawasan Jalan Senopati.
“Lumayan mas, bisa untuk sehari-hari. Karena di tempat yang baru kami malah merugi,” kata Indah.
Ia pun jarang mendapatkan bantuan sembako atau bantuan lainnya dari pemerintah. Sama halnya Tri Yunanto, sebagai tukang becak belum pernah menerima bantuan pemeritah.
Sebagai orang kecil mereka berharap keadaan di negerinya dapat menjadi lebih baik dari kemarin. (adam)

















