PALEMBANG, fornews.co – Manajemen PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM) merasa perlu meluruskan sejarah mengenai perusahaan yang menaungi Sriwijaya FC. Hal itu dikarenakan ada pihak-pihak yang berupaya mengaburkan sejarah pengelola klub Sriwijaya FC.
Plt Direktur Utama PT SOM Muddai Madang menerangkan, PT SOM adalah perusahaan yang memiliki right atas Sriwijaya FC yang sudah didaftarkan di Kemenkumham RI. Pendirian PT SOM diprakarsai beberapa orang untuk menaungi Sriwijaya FC sesuai tuntutan PSSI dimana setiap klub harus berada di bawah perusahaan profesional.
“Pendiri PT SOM ini Baryadi, Sofyan Rebuin, Bakti Setiawan, dan Muddai Madang. Selama ini saya komisaris mensupervisi manajemen, tapi belakangan ini saya diminta untuk turun karena ada riak-riak (permasalahan) di manajemen,” kata Muddai di Hotel Swarna Dwipa Palembang, Minggu (09/09).
Menurut Muddai, manajemen merasa perlu meluruskan sejarah PT SOM agar masyarakat tidak salah memahami. Mengingat Sriwijaya FC sudah menjadi bagian masyarakat Sumsel khususnya Palembang.
“Meski ini perusahaan profesional tapi apa yang terjadi di masyarakat juga menjadi perhatian manajemen. Sehingga kita tidak boleh menampik masukan, saran dan kritikan masyarakat. Bahkan kedepan manajemen berencana PT SOM akan kami jadikan perusahaan publik atau terbuka untuk menepis isu-isu tidak benar. Harapannya kalau jadi perusahaan terbuka pemilik saham mayoritas tidak bisa semena-mena dalam mengambil keputusan,” tuturnya.
Diakui Muddai, di awal berdirinya Sriwijaya FC, yaitu periode 2005-2008, klub ini memiliki sumber pendanaan yang porsinya sangat besar dari APBD. Tapi saat klub bola harus dikelola badan usaha, maka sejak itu pengelola yang membentuk PT SOM tidak pernah mendapat bantuan dana dari pemerintah.
“Selama saya ikut menjadi pengurus PT SOM, tidak pernah mendapat dana pemerintah. Kami pengurus ini tertatih-tatih mencari pendanaan dari sponsor, dari kantong pribadi, dari mana saja, tapi kami usahakan. Kami tetap akan mengelola klub ini dengan baik dan profesional. Agar klub ini tidak hanya eksis tapi kebanggaan Sumsel dan nasional,” tukasnya.
Sementara itu, salah seorang Founder PT SOM Bakti Setiawan mengatakan, sejarah singkat Sriwijaya FC pada 15 Oktober 2004 dirinya mengajukan usulan kepada Pemprov Sumsel melalui Gubernur Syahrial Oesman untuk membentuk klub sepak bola. Hal itu dimaksudkan untuk memanfaatkan Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring yang berstandar internasional sebagai peninggalan PON XVI.
“Kita harus punya klub elite yang masuk kompetisi teratas yaitu Divisi Utama. Jadilah di tanggal 23 Oktober 2004 tanda tangan take over Persijatim Sriwijaya FC. Tahun 2005 berjalan ikut kompetisi dengan penonton terbatas dan masih tertatih karena baru,” kata Bakti.
Saat menggenggam juara Liga Indonesia 2007, lanjut Bakti, Sriwijaya FC berhak tampil di Liga Champions Asia (LCA). Saat bermain di LCA itulah, Sriwijaya FC diharuskan dikelola oleh perusahaan profesional sesuai regulasi. Pengelolaan sepak bola oleh perusahaan profesional bukan aturan sembarangan tapi berasal dari FIFA.
“Maka di tahun 2008 dibentuklah satu PT yang mengelola SFC. Pemegang saham Pemda Sumsel melalui Yayasan Sekolah Sepak Bola Sriwijaya FC yang saat itu diwakili Sofyan Rebuin, Bakti Setiawan, Muddai Madang, dan Baryadi,” terang Bakti.
Mantan Dirut PT Semen Baturaja ini mengatakan, sejak dikelola secara profesional itulah, prestasi Laskar Wong Kito menanjak. Diakuinya, perjalanan SFC sangat tergantung dengan sponsor. Semakin baik pengelolaan akan semakin banyak sponsor yang masuk.
“Di perjalanannya, muncul aturan-aturan baru. Pengelolaan sepak bola tidak boleh pakai APBD sejak tahun 2008. Maka kita kelola SFC dengan bantuan sponsor. Pak Muddai sebagai Komut dan pemegang saham akan turun tangan kalau ada masalah. Belakangan ada goncangan tapi Pak Muddai turun tangan langsung. SFC masih eksis berkompetisi saat ini salah satunya karena dedikasinya (Muddai Madang) terhadap keberadaan SFC,” tuturnya. (ije)

















