YOGYAKARTA, fornews.co– Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan kepada kepala desa (kades) untuk tidak saling retak dan terpecah belah di masyarakat, ketika ada Pemilihan Bupati, Wali Kota, Gubernur maupun Presiden.
“Jangan sampai, dengan isu-isu SARA, dengan isu-isu agama. Cegah rakyat jangan sampai retak gara-gara pesta demokrasi setiap 5 tahun sekali,” ujar Jokowi, kepada kades yang hadir pada acara Peningkatan Kapasitas Pemerintahan Desa dan Lembaga Kemasyarakatan Desa Tahun 2018, di Graha Pradipta Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, Rabu (25/07).
Seperti dilansir setkab.go.id, Jokowi menegaskan, bahwa tugas kades, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), dan juga pendamping-pendamping desa, agar tidak ikut menyebarkan informasi hoaks dari media sosial. Karena yang namanya fitnah, saling mencela, hoaks, kabar bohong akan menghabiskan energi.
“Jangan kebawa suasana, karena di kipas-kipasin iya kan. Sudah ompornya anget, dikipas-kipasin. Hati-hati. Kepala desa juga jangan sampai ikut-ikutan. Ikut-ikutan terbawa suasana. Lah Saudara-saudara ini tugasnya mendinginkan, menyejukkan, ikut-ikut suasana ya jadi panas lebih panas,” tegasnya.
Keberagaman lain yang dimiliki Indonesia, papar Jokowi, adalah bahasa daerah atau lokal. Dirinya mengakui kesulitan belajar bahasa daerah yang beraneka ragam tersebut. Hal itu menunjukkan, betapa sangat beragamnya negara Indonesia ini dan itulah yang dikagumi negara-negara lain terhadap Bangsa Indonesia. “Jangan karena pilihan Bupati, pilihan Gubernur, pilihan Presiden ini menjadi sebuah kelemahan kita. Harus kita tunjukkan ini adalah menjadi potensi dan kekuatan,” katanya.
Semua pesan tersebut, jelas Jokowi, untuk menyadarkan, mematangkan dan mendewasakan cara-cara berpolitik untuk rakyat, serta mendinginkan suasana. “Inilah negara besar kita Indonesia, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan aset terbesar bangsa ini adalah persatuan, kesatuan, persaudaraan, kerukunan. Ini aset besar kita,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden kembali mengingatkan, agar rakyat jangan mudah dikompor-kompori oleh para politisi. “Jangan energi kita habis nanti. Sudahlah, pilih pemimpin yang paling baik. Rakyat diberitahu, pilih pemimpin yang paling baik, coblos, sudah rukun sudah,” tukasnya, seraya menandaskan, memilih pemimpin berdasarkan rekam jejaknya.(tul)

















